INDONESIA dikenal sebagai salah satu produsen rotan terbesar di dunia. Selama ini, material alami itu lebih banyak dipakai untuk furnitur. Namun di tangan Nidewi Aruman, mahasiswa Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB), rotan bertransformasi menjadi instrumen musik. Ia merancang gitar akustik berbahan karuun, vinir rotan yang diproses ulang, sebagai Tugas Akhir, sekaligus wujud eksperimen material lokal untuk keberlanjutan.
“Gitar itu instrumen paling diminati di dunia. Aku juga sering manggung pakai gitar. Jadi karya ini bukan hanya akademik, tapi bisa aku pakai langsung di panggung,” kata Aruma, dikutip dari laman resmi ITB.
Karuun, Material Terbarukan dengan Nilai Tambah
Karuun merupakan rotan yang diolah menjadi lembaran fleksibel. Material ini tumbuh cepat, bisa diperbarui, dan relatif lebih ramah lingkungan dibanding kayu keras yang sering menimbulkan persoalan deforestasi.
Baca juga: Karton Susu Naik Kelas, Popsiklus Buktikan Upcycling Bisa Stylish
Dengan memilih karuun sebagai bahan gitar, Aruma menunjukkan diversifikasi pemanfaatan rotan. Dari yang semula identik dengan kursi dan meja, kini berevolusi ke produk bernilai budaya dan kreatif. Inovasi semacam ini membuka peluang baru bagi ekonomi hijau berbasis material lokal.

Bagi pemain musik, keunggulan karuun terletak pada bobotnya yang ringan dan bentuknya yang lebih lentur. Hasil uji akustik di laboratorium memperlihatkan suara gitar karuun lebih hangat dan mellow, karakter yang disukai untuk musik folk dan balada.
Dari Studio ke Laboratorium
Proses perancangan berlangsung selama setahun. Aruma meneliti gestur bermain gitar, lalu melakukan validasi akustik bersama musisi dan sound engineer. Dari seratus sketsa, hanya satu desain yang diwujudkan.
Baca juga: Hutan Mahasiswa UGM, Laboratorium Hidup untuk Masa Depan
Tantangan terbesar ada pada body gitar. Untuk itu, ia berkolaborasi dengan Krisandi, ahli material karuun, dan Rikun, perajin gitar. Dukungan juga datang dari dosen pembimbing, Dr. Dwinita Larasati, M.A., yang aktif mempromosikan desain berkelanjutan.
Hasilnya, gitar karuun bukan hanya fungsional, tetapi juga mendapat pengakuan akademik. Aruma meraih nilai A dengan predikat cumlaude.

Relevansi bagi Keberlanjutan
Inovasi gitar karuun relevan dengan agenda ekonomi hijau Indonesia. Potensi rotan sebagai sumber daya cepat tumbuh dapat mengurangi tekanan terhadap hutan alam. Apalagi, Indonesia memegang pangsa besar rotan dunia, tetapi masih didominasi produk furnitur dengan nilai tambah terbatas.
Baca juga: Menyiasati Kesenjangan Pendanaan SDGs dengan Teknologi dan Inovasi
Diversifikasi ke sektor kreatif, termasuk musik, membuka jalan baru. Produk seperti gitar karuun tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga bisa menjadi simbol gaya hidup berkelanjutan. Jika dikembangkan lebih lanjut, konsep ini dapat memperkuat rantai pasok lokal, memberdayakan perajin, dan meningkatkan posisi rotan Indonesia di pasar global.
Dari Akademik ke Ekonomi Hijau
Bagi Aruma, gitar karuun adalah karya personal yang lahir dari kecintaannya pada musik. Ia sudah membawanya ke panggung, meski belum berniat memproduksi massal. Namun bagi dunia desain dan kebijakan, proyek ini memberi pesan penting. Keberlanjutan bisa dimulai dari ruang kelas, lalu meluas menjadi inspirasi bagi industri kreatif.
Baca juga: Plana, Inovasi Ramah Lingkungan dari Sampah Plastik dan Gabah Padi

Dalam konteks ekonomi hijau, eksperimen ini menunjukkan bagaimana riset akademik dapat memperluas horizon pemanfaatan material lokal. Rotan, yang selama ini dipandang biasa, bisa melahirkan produk inovatif dengan nilai tambah tinggi. Jika arah kebijakan mampu mendukung riset semacam ini, gitar karuun bukan hanya karya akademik, tetapi juga model masa depan industri kreatif berkelanjutan Indonesia. ***
- Foto: Dok. Aruma/ ITB – Proses riset gitar karuun melibatkan tahap studi ergonomi hingga validasi akustik bersama dosen, musisi, dan perajin. Sketsa menjadi fondasi inovasi rotan ke instrumen musik.