Hujan Buatan di Langit Jambi, Strategi Menjinakkan Api di Lahan Gambut

DI LANGIT timur Jambi, sebuah pesawat CASA 212-200 melesat rendah, membawa ratusan kilogram garam. Bukan untuk ladang, melainkan untuk awandengan harapan menurunkan hujan. Inilah wajah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), strategi BMKG yang kini menjadi ujung tombak pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut.

Sejak 10 Agustus 2025, operasi ini berlangsung setiap hari hingga 19 Agustus. Targetnya jela, membasahi lahan rawan, menambah kelembapan tanah, dan memutus jalur api sebelum menjalar. “Lahan gambut yang terbakar sulit dipadamkan dari darat. Air hujan adalah senjata paling efektif,” kata Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto.

Gambut Kering, Risiko Membara

Di balik upaya ini, data berbicara lantang. Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) pada 10 Agustus menunjukkan hanya 30% area gambut timur Jambi yang berada di kategori aman, dengan kedalaman air tanah 0 hingga -40 cm. Sisanya, sekitar 70%, masuk kategori rawan hingga kritis. Bahkan, 1% lahan sudah berada di bawah -80 cm, yang berarti sangat mudah terbakar.

Baca juga: Karhutla Bukan Bencana Alam, tapi Ulah Manusia

Kondisi itu selaras dengan pantauan satelit. Per 9 Agustus, ada 14 titik panas di Jambi, terutama di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat. “Peningkatan titik api ini sejalan dengan rendahnya muka air tanah,” jelas Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca, Edison Kurniawan.

Keputusan melaksanakan OMC kali ini bukan tanpa perhitungan. BMKG memprediksi masih ada peluang pembentukan awan hujan hingga pertengahan Agustus. Ini jadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan penyemaian awan. Setiap penerbangan membawa sekitar 1.600 kg bahan semai, yang disebar di wilayah strategis untuk memperbesar peluang turunnya hujan tepat di titik rawan.

Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Cegah Karhutla

Strategi ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, OMC telah menjadi bagian integral dari mitigasi bencana kabut asap. Pendekatan ini tidak hanya memadamkan api yang sudah menyala, tapi juga menekan risiko kebakaran besar sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Tim BMKG, TNI AU, dan instansi terkait yang terlibat dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca untuk pencegahan karhutla di Jambi dan Sumatera Selatan, 2025. Foto: BMKG.

Sejak Juli 2025, OMC di Jambi sudah dilakukan dua kali, dengan hasil nyata berupa jumlah titik api turun signifikan. Kuncinya ada pada koordinasi lintas lembaga. BMKG bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, BNPB, pemerintah daerah, hingga sektor swasta seperti PT Wirakarya Sakti.

Baca juga: Karhutla 2025 Mengancam, Riau Jadi Alarm Awal untuk Indonesia

Di lapangan, TNI AU menjadi tulang punggung operasional, mengerahkan armada dan kru berpengalaman dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh. Semua dikendalikan dari Posko Bencana Provinsi Jambi, yang memantau cuaca, pergerakan awan, dan perkembangan titik api secara real-time.

Namun, upaya ini hanyalah satu bagian dari puzzle besar penanggulangan karhutla. Keberhasilan OMC bergantung pada langkah preventif lain. Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, pengawasan ketat, serta edukasi masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan api. Tanpa itu, hujan buatan hanya akan menjadi solusi sementara.

BMKG berharap, hujan yang turun dari langit Jambi kali ini tak hanya memadamkan api, tapi juga memberi jeda bagi bumi gambut untuk pulih. Karena di tanah yang basah, asap tidak lagi punya ruang untuk lahir. ***

Bagikan