KETIKA dunia masih mencari cara menekan emisi industri berat, Norwegia melangkah lebih jauh. Negara Skandinavia ini resmi memulai operasi proyek Northern Lights, fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS) pertama di dunia yang bersifat open-access.
Proyek yang digarap bersama Equinor, Shell, dan TotalEnergies ini menandai era baru bagi Eropa dalam mengelola emisi dari sektor yang sulit beralih ke energi terbarukan. “Inilah bukti bahwa CCS bisa menjadi industri berskala besar,” ujar Anders Opedal, CEO Equinor, saat peresmian.
Dari Pabrik Semen ke Dasar Laut
Melansir ESG News, operasi perdana dilakukan dengan mengangkut karbon dioksida (CO₂) dari pabrik semen Heidelberg Materials di Brevik. Gas buang itu dikirim menggunakan kapal ke terminal Oygarden, lalu dialirkan melalui pipa sejauh 100 kilometer menuju lokasi penyimpanan di bawah Laut Utara.
Baca juga: CCS, Inovasi Canggih Atasi Krisis Karbon dan Wujudkan Indonesia Hijau
CO₂ kemudian diinjeksi ke kedalaman 2.600 meter di bawah dasar laut. Proses ini menuntaskan fase pertama Northern Lights, yang memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut sudah penuh dipesan oleh pelanggan dari Norwegia hingga daratan Eropa.
Solusi untuk Industri Sulit Turun Emisi
Northern Lights hadir sebagai jawaban bagi sektor industri “sulit abate”, seperti semen, baja, kimia, dan energi panas. Elektrifikasi atau energi terbarukan sering kali tidak cukup untuk menekan emisi di sektor-sektor ini.
Lima perusahaan besar sudah menjadi pelanggan utama. Tercatat Hafslund Celsio dan Heidelberg Materials di Norwegia, Yara di Belanda, Orsted di Denmark, serta Stockholm Exergi di Swedia.

“Dengan dimulainya operasi Northern Lights, CCS bukan lagi sekadar konsep. Ini sudah menjadi kenyataan yang memberi jalan nyata bagi industri untuk memangkas emisi,” kata Senior Vice-President New Business Carbon Neutrality di TotalEnergies, Arnaud Le Foll.
Investasi Berlanjut Hingga 2028
Proyek ini tidak berhenti di sini. Konsorsium mitra telah menyetujui investasi senilai 7,5 miliar krona Norwegia (sekitar 744 juta dolar AS) untuk fase kedua. Kapasitas penyimpanan ditargetkan meningkat lebih dari tiga kali lipat, menjadi 5 juta ton per tahun pada 2028.
Baca juga: China Luncurkan FPSO Pertama dengan Teknologi Penangkapan Karbon
Langkah ini menegaskan posisi Norwegia sebagai pelopor teknologi penangkapan karbon. Sementara banyak negara masih berdebat soal biaya dan risiko, Norwegia menunjukkan bahwa CCS bisa diwujudkan melalui kolaborasi lintas negara dan industri.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, yang masih bertumpu pada energi fosil dan industri berbasis mineral, inisiatif ini relevan. CCS bisa menjadi bagian penting dalam strategi net zero emission. Meski biayanya tinggi, pengalaman Northern Lights membuka jalan bagi model bisnis baru, penyimpanan karbon sebagai jasa lintas negara.
Baca juga: SeaCURE, Terobosan Menangkap Karbon dari Lautan untuk Masa Depan Bumi
Jika diterapkan, bukan tidak mungkin kawasan industri besar di Kalimantan atau Sulawesi suatu saat mengekspor emisi karbonnya untuk disimpan aman di bawah tanah atau dasar laut. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap membangun kerangka hukum, investasi, dan infrastruktur serupa?
Satu hal jelas, dunia kini bergerak ke arah yang makin serius dalam menangani emisi. Northern Lights memberi sinyal bahwa era baru dekarbonisasi global telah dimulai, dan Indonesia perlu menyiapkan langkah strategis agar tidak tertinggal. ***
- Foto: Petra Nesti/ Pexels.