Oleh: Hamdani S Rukiah
HARI Pers Nasional kerap dirayakan dengan ucapan dan nostalgia. Tapi bagi ekosistem kebijakan publik, pers sebetulnya memegang peran yang jauh lebih strategis dan sering kali luput dibicarakan, yakni sebagai infrastruktur penentu kualitas keputusan.
Di era disrupsi informasi, masalah utama bukan lagi kekurangan data. Justru sebaliknya. Informasi berlimpah, berserakan, dan sering kali saling bertabrakan. Dalam situasi seperti ini, kualitas kebijakan publik tidak ditentukan oleh niat baik semata, melainkan oleh mutu informasi yang menjadi dasar pengambilan keputusan.
Di titik inilah pers diuji.
Disrupsi Informasi dan Risiko Kebijakan Buruk
Platform digital membentuk ekonomi perhatian. Algoritma mendorong emosi. Sensasi bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Akibatnya, ruang publik dipenuhi informasi parsial, opini instan, dan narasi yang belum tentu utuh.
Bagi pembuat kebijakan, kondisi ini berbahaya. Keputusan yang lahir dari informasi yang bias, tidak lengkap, atau salah konteks berisiko menghasilkan kebijakan yang keliru sejak awal. Dalam banyak kasus, kebijakan buruk hampir selalu diawali oleh informasi yang buruk.
Pers, dalam kerangka ini, bukan sekadar penyampai kabar. Pers berfungsi sebagai penyaring struktural. Memilah fakta, memberi konteks, dan menahan godaan simplifikasi berlebihan. Tanpa fungsi ini, ruang kebijakan mudah diseret oleh tekanan opini sesaat.
Pers sebagai Penyaring, Bukan Pengeras Suara
Peran pers yang relevan hari ini bukan menjadi yang paling cepat atau paling ramai. Justru sebaliknya. Pers perlu menjadi aktor yang melambatkan arus, menguji klaim, dan menyusun narasi berbasis data.
Dalam isu keberlanjutan, energi, iklim, dan ekonomi hijau, wilayah yang penuh kepentingan dan jargon, fungsi ini menjadi krusial. Kebijakan tidak boleh lahir dari slogan. Tetapi, harus berdiri di atas fakta, analisis, dan dampak jangka panjang.
Baca juga: Media dan Lingkungan, Antara Sensasi Berita dan Urgensi Aksi
Di sini, pers bekerja mirip infrastruktur. Tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, tetapi menentukan apakah sistem berjalan sehat atau rapuh.
Penting bagi Masa Depan Demokrasi Kebijakan
Hari Pers Nasional seharusnya dibaca bukan sebagai perayaan profesi, melainkan sebagai pengingat fungsi. Dalam dunia yang semakin bising, kejernihan menjadi sumber daya langka. Dan pers adalah salah satu institusi yang masih memiliki mandat untuk menjaganya.
Media yang bertahan ke depan bukan yang paling viral, melainkan yang mampu menjadi rujukan saat keputusan besar harus diambil. Bukan pers yang mengejar perhatian, tetapi pers yang menjaga kualitas percakapan publik.
Dalam konteks itu, pers bukan sekadar pilar demokrasi. Pers adalah fondasi teknis dari kebijakan yang masuk akal.
Dan selama kebijakan publik masih membutuhkan akal sehat, peran pers tidak akan tergantikan. ***
- Penulis adalah Direktur Pemberitaan SustainReview.ID
- Foto: AI-generated/ SustainReview – Ruang redaksi berfungsi sebagai infrastruktur analisis, tempat informasi diuji, disaring, dan diberi konteks sebelum memengaruhi keputusan kebijakan publik.


