Rare Earth Indonesia, Aset Strategis di Tengah Perebutan Global

Negara ambil alih kendali logam tanah jarang. Mampukah Indonesia keluar dari jebakan eksportir bahan mentah dan masuk ke peta industri strategis dunia?

PEMBENTUKAN Badan Industri Mineral (BIM) oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal jelas bahwa Indonesia tidak ingin hanya jadi penonton dalam perebutan logam tanah jarang (rare earth element/LTJ). Keputusan melarang swasta mengelola LTJ, dan menyerahkannya sepenuhnya ke negara, mengandung pesan kuat tentang arah kebijakan sumber daya strategis di masa depan.

Langkah ini bukan sekadar administratif, melainkan pilihan geopolitik dan ekonomi. Rare earth adalah “harta karun” abad 21. Bahan baku krusial untuk teknologi energi terbarukan, perangkat digital, hingga industri pertahanan.

Negara Ambil Alih, Risiko dan Peluang

Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa LTJ hanya boleh dikelola negara menunjukkan paradigma baru. Negara menutup pintu bagi kepentingan jangka pendek swasta, namun sekaligus mengambil tanggung jawab penuh atas tata kelola.

Di satu sisi, kebijakan ini dapat memperkuat kedaulatan dan mencegah praktik ekspor murah yang selama ini membuat Indonesia rugi. Di sisi lain, negara harus siap dengan infrastruktur, SDM, dan kapasitas riset yang selama ini belum teruji dalam pengolahan LTJ.

Baca juga: Dari Parlemen, Prabowo Nyatakan Perang Terbuka pada Mafia Tambang Ilegal

Risiko terbesarnya adalah jika regulasi ketat tidak diimbangi kesiapan teknis. Alih-alih menciptakan nilai tambah, Indonesia bisa menghadapi bottleneck produksi dan kehilangan momentum di pasar global.

BIM dan Peran Riset

Penunjukan Brian Yuliarto, seorang akademisi dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai Kepala BIM menegaskan bahwa riset menjadi fondasi. BIM tidak berada di bawah Kementerian ESDM, melainkan badan independen. Tugasnya jelas, yakni melindungi mineral strategis, mengidentifikasi cadangan nasional, serta mendorong riset yang menghasilkan produk bernilai tambah.

Pekerja tambang di lapangan. Hulu industri mineral strategis, termasuk rare earth, membutuhkan tata kelola yang kuat agar memberi manfaat berkelanjutan bagi bangsa. Foto: Ilustrasi/ Emre Baykara/ Pexels.

Pendekatan ini menandai pergeseran dari sekadar menambang, menuju membangun ekosistem pengetahuan. Rare earth bukan soal volume tambang, tetapi soal kemampuan memurnikan, memisahkan, dan mengolah menjadi material strategis.

Posisi Indonesia di Peta Global

Saat ini, Tiongkok menguasai lebih dari 70% pasokan rare earth dunia. Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang berlomba mencari diversifikasi. Dalam peta itu, Indonesia dengan cadangan besar berpotensi menjadi pemain penting.

Namun, peluang ini hanya akan nyata jika Indonesia bisa memecahkan tantangan teknis:

  • Pemrosesan kompleks: LTJ hadir sebagai mineral ikutan emas, timah, dan bauksit, butuh teknologi pemisahan canggih.
  • Rantai pasok terintegrasi: Tanpa hilirisasi, Indonesia hanya akan menjual konsentrat mentah.
  • Keseimbangan ekologi: Pengolahan LTJ menghasilkan limbah radioaktif yang perlu tata kelola ketat agar tidak jadi bom waktu lingkungan.

Baca juga: Darurat Ekologi, Satwa Liar Sumatera dan Sulawesi Terdesak Perkebunan dan Tambang

Dengan BIM, Indonesia mencoba menegakkan kedaulatan. Tetapi pertanyaannya, apakah negara siap menghadapi kompleksitas ini tanpa ketergantungan teknologi asing?

Momentum Kebijakan

Kebijakan ini lahir di saat dunia memasuki transisi energi dan revolusi teknologi. Permintaan global terhadap LTJ diproyeksikan melonjak tajam seiring kebutuhan baterai kendaraan listrik, turbin angin, dan alutsista modern.

Jika serius mengelola, Indonesia bisa mengubah narasi “eksportir bahan mentah” menjadi “pusat industri strategis”. Tetapi jika terjebak pada regulasi tanpa eksekusi, kesempatan emas ini bisa terlewat.

Baca juga: Menyelamatkan Paru-paru Dunia, Pelajaran dari Johan Eliasch untuk Kebijakan Hutan Indonesia

Ke depan, BIM akan menjadi barometer, apakah Indonesia benar-benar masuk ke jalur industrialisasi berbasis sains, atau sekadar menambah daftar panjang lembaga baru tanpa taji. ***

  • Foto: Peggy Greb/ US Department of Agriculture/ en.wikipedia – Tumpukan bubuk logam tanah jarang (rare earth). Mineral strategis ini kini jadi rebutan global karena dibutuhkan untuk energi terbarukan, teknologi digital, hingga industri pertahanan.
Bagikan