Sejuk Tanpa AC, Solusi Bangunan Hemat Energi untuk Kota-kota Indonesia

DI RUANG pertemuan yang teduh di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan pertanyaan sederhana namun tajam, “Kota Bandung itu dingin, kenapa pakai AC?”

Pertanyaan itu bukan sekadar sindiran. Dedi ingin mengajak publik berpikir ulang soal desain bangunan di Indonesia. Menurutnya, banyak gedung justru mengabaikan iklim setempat. Di daerah sejuk, bangunan dibuat tertutup sehingga butuh pendingin buatan. Sebaliknya, di daerah panas, bangunan cenderung rendah dan minim ventilasi alami.

Arsitektur Zaman Dulu yang Lebih Ramah Energi

Rektor ITB, Profesor Tatacipta Dirgantara, langsung menanggapi. Ia menunjuk gedung di sekitar mereka yang dibangun tanpa ketergantungan pada Air Conditioning (AC). Rahasianya sederhana, sistem ventilasi alami.

“Lubang angin di bawah, lalu ada lagi di atas. Udara dingin mengalir dari bawah, keluar dari atas. Tahun 1920, konsep ini sudah ada,” ujarnya. Desain semacam ini memanfaatkan prinsip fisika sederhana. Udara panas naik, udara dingin turun, sehingga sirkulasi terjadi tanpa bantuan listrik.

Baca juga: Saat Kayu Jadi Masa Depan Arsitektur Ramah Lingkungan

Menurut Tatacipta, banyak bangunan masa kini justru menutup diri dari udara luar. Desain modern yang sepenuhnya bergantung pada AC menciptakan beban energi yang besar, sekaligus menambah emisi gas rumah kaca.

Teknologi Earth Cooling, Solusi Masa Kini yang Lupa Dimanfaatkan

Rektor ITB juga menyinggung teknologi earth cooling. Prinsipnya, udara panas didinginkan terlebih dahulu oleh tanah melalui pipa yang ditanam di bawah bangunan. Udara sejuk ini lalu masuk ke dalam ruangan dan keluar lewat lubang ventilasi di bagian atas.

Rektor ITB, Profesor Tatacipta Dirgantara (kiri), dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (kanan), berdiskusi soal desain bangunan hemat energi di Bandung. Foto: Youtube/ Lembur Pakuan Channel.

“Teknologinya sederhana, sudah ada, hanya perlu dicontohkan dan dikampanyekan,” tegasnya. Ia meyakini, penerapan teknologi ini bisa mengurangi ketergantungan pada pendingin buatan, terutama di gedung-gedung publik dan perkantoran.

Baca juga: Arsitektur Vernakular Indonesia, Inovasi Masa Lalu untuk Iklim Hari Ini

Mewujudkan Lingkungan yang Lebih Hijau

Diskusi itu berujung pada tantangan yang dilontarkan Dedi Mulyadi. Ia meminta ITB tidak hanya mengaplikasikan konsep bangunan hemat energi di kampus, tetapi juga mengubah kelurahan sekitar menjadi kawasan ramah lingkungan.

Tantangan ini sejatinya menyentuh inti masalah. Transformasi menuju keberlanjutan bukan hanya urusan teknologi, tetapi juga kesadaran kolektif dan perubahan perilaku.

Baca juga: Plana, Inovasi Ramah Lingkungan dari Sampah Plastik dan Gabah Padi

Dengan iklim tropis yang relatif stabil, Indonesia punya peluang besar menerapkan arsitektur pasif. Memanfaatkan pencahayaan alami, sirkulasi udara, dan material lokal untuk menekan konsumsi energi. Sayangnya, tren desain modern sering mengorbankan efisiensi demi estetika instan.

Jika prinsip-prinsip lama yang ramah lingkungan dipadukan dengan teknologi hemat energi masa kini, Indonesia bisa menghemat biaya operasional gedung, mengurangi beban listrik nasional, dan sekaligus berkontribusi pada pengendalian perubahan iklim.

Baca juga: Menyelamatkan Paru-paru Dunia, Pelajaran dari Johan Eliasch untuk Kebijakan Hutan Indonesia

Kini, pertanyaannya kembali pada publik dan para pengambil keputusan. Maukah kita membangun masa depan yang sejuk, tanpa harus mendinginkannya dengan listrik? ***

  • Foto: Dok. ITB – Gedung ITB berarsitektur 1920 ini sejuk tanpa AC berkat ventilasi alami. Udara dingin masuk dari bawah, keluar lewat atas, menciptakan sirkulasi tanpa listrik.
Bagikan