TUJUH titik baru kini resmi tercatat di peta Warisan Dunia UNESCO. Dari tebing kapur yang menjulang di Eropa hingga hutan hujan tropis di Afrika Barat, penetapan tahun ini bukan sekadar penghargaan. Ini adalah pesan politik lingkungan bahwa dunia masih bisa melindungi aset berharga bumi, meski tekanan pembangunan dan krisis iklim semakin mendesak.
Selain menambah daftar baru, UNESCO juga memperpanjang status dua situs lama. Langkah ini memperkuat komitmen jangka panjang dalam menjaga identitas budaya dan fungsi ekologis warisan bersama umat manusia.
Pelajaran dari Dunia
Denmark mengandalkan Mons Klint, tebing kapur setinggi 100 meter yang terbentuk 70 juta tahun lalu, sebagai benteng alami dari ancaman erosi pesisir. Pengelolaannya tidak hanya mempertahankan keindahan, tetapi juga memanfaatkan situs ini sebagai laboratorium geologi terbuka.
Baca juga: 12 Geopark Indonesia Diakui UNESCO, Momen Emas Bangun Pariwisata Hijau
Brasil menunjukkan bahwa wisata alam dan konservasi dapat berjalan bersama. Ngarai Sungai Peruacu di Minas Gerais, kaya biodiversitas dan lukisan gua prasejarah, membatasi jumlah pengunjung, mengatur jalur trekking, dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan.
Yunani menjaga Pusat Istana Minoa di Kreta sebagai simbol peradaban maritim kuno. Strateginya menggabungkan arkeologi, tata kota, dan pariwisata berkelanjutan. Sementara itu, Jamaika melindungi Port Royal, kota pelabuhan abad ke-17 yang sebagian tenggelam—sebagai aset riset arkeologi bawah laut.

Di Sierra Leone, Kompleks Hutan Gola-Tiwai menjadi penanda penting. Lebih dari 1.000 spesies tumbuhan, 113 di antaranya endemik, hidup di kawasan ini. Ia juga menjadi rumah bagi satwa langka seperti Gajah Hutan Afrika dan Kuda Nil Pigmi. Pesisir Guinea-Bissau menegaskan pentingnya ekosistem mangrove dan karbon biru, sedangkan Gunung Kumgang di Korea Utara menambah representasi pegunungan Asia Timur dalam daftar.
Makna Strategis untuk Indonesia
Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan alam dan budaya luar biasa, daftar ini lebih dari sekadar informasi. Ini adalah peta inspirasi untuk memperkuat strategi keberlanjutan.
- Menata Keseimbangan Wisata dan Konservasi
Regulasi tegas, pembatasan pengunjung, dan keterlibatan masyarakat bisa menjaga destinasi alam tetap lestari. - Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor
Pelestarian warisan tidak hanya soal cagar budaya atau kawasan konservasi. Ia menuntut sinergi arkeolog, ahli tata kota, ekonom, hingga praktisi lingkungan. - Mengakui Nilai Ekologis sebagai Aset Nasional
Ekosistem sehat menyimpan fungsi vital (penyimpanan karbon, perlindungan pesisir, penopang keanekaragaman hayati) yang nilainya sepadan, bahkan lebih, dari potensi wisata.
Baca juga: Ketika Geopark di Indonesia Jadi Lahan Perebutan

Lebih dari Daftar Destinasi
Dengan total 1.248 situs tercatat, Warisan Dunia UNESCO adalah arsip kolektif sekaligus kompas moral bagi dunia. Setiap situs menuntut perlindungan lintas generasi.
Indonesia memiliki modal besar, seperti Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, hingga lanskap terumbu karang Raja Ampat. Namun modal ini akan kehilangan nilai jika tata kelola abai pada prinsip keberlanjutan.
Baca juga: Geopark Toba di Persimpangan, Menjaga Warisan atau Kehilangan Status Dunia?
Dari Mons Klint hingga Gola-Tiwai, pelajaran yang muncul jelas, bahwa warisan alam dan budaya bukan sekadar masa lalu yang dipamerkan, melainkan investasi masa depan. Mengelolanya dengan bijak berarti menjaga reputasi, ekosistem, dan peradaban. Untuk sekarang dan nanti. ***
- Foto: Michael Duff/ RSPB/ Whc.Unesco – Kabut pagi menyelimuti Hutan Kompleks Gola-Tiwai di Sierra Leone, rumah bagi ribuan spesies langka yang kini mendapat pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO.