Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah

KRISIS air global bukan lagi gambaran masa depan. Kondisi itu hadir sekarang dan menekan sistem pangan, energi, dan pembangunan jauh lebih cepat dari kemampuan negara-negara menanganinya. Di tengah situasi itu, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi, memberi peringatan keras, “Kondisi sumber daya air dunia tidak baik-baik saja.”

Pernyataan ini bukan alarm kosong. 2,2 miliar orang masih hidup tanpa pelayanan air minum yang aman. Satu dari empat penduduk bumi tidak memiliki akses air minum layak. Sementara 3,5 miliar orang kekurangan sanitasi yang aman, dan 702 juta tinggal di wilayah dengan stres air kritis.

Bagi sektor pangan global, angkanya lebih mengkhawatirkan. Sekitar 3,2 miliar orang tinggal di kawasan pertanian yang menghadapi kekurangan air tinggi atau sangat tinggi. Di saat dunia mencoba memberi makan populasi yang terus bertambah, fondasi produksinya justru semakin rapuh.

Air, Fondasi Tersembunyi dari Pangan dan Energi

Dalam seluruh air di bumi, hanya 0,5% yang benar-benar bisa digunakan sebagai air tawar secara berkelanjutan. Namun dari jumlah kecil itu, 72% dialirkan ke pertanian. Sektor energi pun bergantung pada air. 90% Pembangkit listrik global membutuhkan air untuk proses produksi atau pendinginan.

Artinya sederhana, kegagalan mengelola air berarti kegagalan menjaga pangan dan energi.

Namun kebijakan publik selama puluhan tahun sering berjalan dalam “silo”. Kebijakan pangan dibuat tanpa neraca air. Kebijakan energi ditetapkan tanpa menghitung dampak hidrologi. Sementara kebijakan air disusun tanpa menimbang beban pangan dan kebutuhan energi. Pendekatan terfragmentasi inilah yang memperburuk krisis.

Retno menyebut air sebagai “penentu utama keberhasilan pembangunan”. Tanpa fondasi air yang aman dan stabil, target ketahanan pangan, transisi energi, dan agenda pembangunan berkelanjutan akan sulit terwujud.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Membangun Tata Kelola Air Baru, Empat Kunci Transformasi

Untuk keluar dari krisis, Retno menawarkan kerangka 4I, sebuah pendekatan integratif yang menjembatani sektor air, pangan, dan energi sekaligus.

1. Investasi

Dunia masih mengandalkan pemerintah sebagai sumber utama pendanaan air. 91% Infrastruktur air masih dibiayai negara, dan negara berkembang hanya mengalokasikan 0,5% PDB untuk sektor ini.

Padahal secara ekonomi, investasi air sangat menguntungkan. Bank Dunia mencatat setiap 1 dolar yang dibelanjakan dapat menghasilkan return US$4,5. Infrastruktur air yang tangguh iklim, termasuk restorasi lahan basah dan perlindungan daerah tangkapan air, harus menjadi prioritas.

2. Inovasi Teknologi

Efisiensi irigasi, varietas tanaman hemat air, teknologi daur ulang limbah air, hingga digitalisasi pemantauan menjadi kunci. Tanpa inovasi, negara akan terus kalah cepat dari krisis.

3. Integrated Governance

Tata kelola air harus lintas sektor dan berbasis data terpadu. Integrasi kebijakan air-pangan-energi menjadi syarat dasar, bukan tambahan.

4. Inklusivitas

Masyarakat harus ditempatkan sebagai pusat kebijakan air. Retno menegaskan pentingnya partisipasi publik sebagai fondasi keberlanjutan jangka panjang.

Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi, menyampaikan pandangan mengenai krisis air global dan urgensi tata kelola terpadu. Foto: retno_marsudi.

Indonesia, di Mana Posisi Kita?

Sebagai negara agraris sekaligus ekonomi besar yang bergantung pada pembangkit fosil berpendingin air, Indonesia berada di persimpangan krusial. Tekanan iklim mempersempit ketersediaan air di banyak DAS strategis. Di sisi lain, agenda swasembada pangan dan transisi energi bersih tidak mungkin berhasil tanpa tata kelola air yang jauh lebih solid.

Krisis air global memberi pesan jelas, perubahan harus terjadi sekarang, bukan nanti. ***

  • Foto: Ahmed akacha/ Pexels Seorang ibu memandikan anaknya dengan air seadanya di wilayah kering. Krisis air memukul paling keras masyarakat yang hidup tanpa layanan air minum aman dan sanitasi layak.
Bagikan