INDONESIA selama ini dikenal sebagai salah satu pusat cadangan nikel terbesar dunia. Namun dalam era transisi energi dan kendaraan listrik, sumber logam strategis tidak lagi hanya berasal dari tambang primer. Limbah teknologi, khususnya baterai litium bekas, mulai dilihat sebagai sumber logam kritis baru yang bernilai tinggi.
Riset terbaru yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa baterai litium bekas berpotensi menjadi sumber sekunder nikel dan kobalt melalui konsep urban mining. Dalam perspektif ekonomi sumber daya, pendekatan ini dapat mengubah limbah teknologi menjadi bagian dari rantai pasok mineral strategis.
“Daur ulang baterai bekas tidak hanya menyediakan sumber logam kritis, tetapi juga menghasilkan jejak lingkungan dan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan penambangan,” ujar Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Material BRIN, Nur Vita Permatasari, dalam webinar ORNAMAT #82.
Temuan ini membuka perspektif baru bagi strategi pengelolaan logam kritis Indonesia, terutama ketika permintaan baterai untuk kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan sistem penyimpanan energi meningkat secara global.
Urban Mining dalam Ekosistem Energi Masa Depan
Konsep urban mining pada dasarnya memandang kota dan sistem konsumsi modern sebagai “tambang baru”. Produk teknologi yang telah habis masa pakainya, seperti baterai kendaraan listrik atau perangkat elektronik, mengandung logam bernilai tinggi yang dapat dipulihkan kembali.
Dalam konteks baterai litium-ion, komponen katoda menyimpan konsentrasi logam yang relatif tinggi. Bahkan dalam beberapa kasus, kandungan logam pada material katoda bekas dapat lebih tinggi dibandingkan bijih tambang primer.
Hasil analisis BRIN menunjukkan bahwa blackmass, serbuk aktif hasil pengolahan katoda baterai bekas, mengandung logam dengan konsentrasi signifikan.
Baca juga: Hilirisasi Nikel Antam, Membangun Ekosistem Baterai EV dari Tambang hingga Daur Ulang
Material tersebut terdiri dari kobalt, nikel, mangan, serta sejumlah kecil besi dan grafit. Kandungan logam yang tinggi ini menjadikan baterai bekas sebagai sumber potensial bagi pemulihan logam kritis melalui proses metalurgi yang tepat.
Pendekatan ini semakin relevan seiring meningkatnya permintaan global terhadap logam untuk baterai kendaraan listrik, yang diproyeksikan melonjak dalam dua dekade ke depan.
Optimasi Proses Ekstraksi Logam
Dalam riset tersebut, BRIN mengembangkan metode pelindian (leaching) menggunakan asam sulfat yang dioptimalkan melalui pendekatan statistik response surface method (RSM).
Penelitian menguji tiga variabel utama yang memengaruhi proses ekstraksi logam:
- rasio padatan terhadap cairan
- konsentrasi asam sulfat
- temperatur pelindian
Baca juga: Inovasi Baru, Daur Ulang Plastik E-Waste Tanpa Polusi
Serangkaian eksperimen dilakukan untuk menemukan kombinasi kondisi paling optimal.
Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi asam sulfat dan temperatur proses mampu meningkatkan kelarutan logam dalam larutan pelindian.

Pada kondisi optimum, rasio padatan cairan sekitar dua persen, konsentrasi asam sulfat 1,5 molar, dan temperatur sekitar 79 derajat celsius, tingkat pemulihan logam mencapai tingkat yang sangat tinggi.
“Pada kondisi optimum tersebut, perolehan nikel mencapai 99,9 persen dan kobalt sekitar 97,8 persen,” jelas Vita.
Tingkat efisiensi ini menunjukkan bahwa teknologi daur ulang baterai memiliki potensi signifikan untuk menjadi bagian dari sistem pasok logam kritis.
Dari Limbah Teknologi ke Ekonomi Sirkular
Selain baterai bekas, sumber sekunder logam juga dapat berasal dari berbagai limbah industri, seperti limbah metalurgi maupun papan sirkuit elektronik.
Namun baterai litium-ion memiliki nilai strategis karena menjadi komponen utama dalam transisi energi global. Kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi terbarukan, hingga berbagai perangkat elektronik modern bergantung pada teknologi baterai tersebut.
Dengan meningkatnya penggunaan baterai litium, volume limbah baterai juga akan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang. Tanpa sistem daur ulang yang efektif, limbah ini berpotensi menjadi masalah lingkungan sekaligus kehilangan sumber logam bernilai tinggi.
Baca juga: 13 Juta Ponsel Dibuang Setiap Hari, ke Mana Semua Sampah itu Pergi?
Karena itu, pendekatan daur ulang baterai menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan ekonomi sirkular mineral.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, mengatakan pengembangan teknologi pemulihan logam dari baterai bekas diharapkan dapat memperkuat strategi logam kritis nasional.
Ia menilai riset tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengolahan logam strategis.
“Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat mendukung Indonesia menjadi pusat pengolahan logam strategis yang mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Rantai Pasok Baru Mineral Strategis
Dalam jangka panjang, daur ulang baterai berpotensi menciptakan lapisan baru dalam rantai pasok mineral global.
Jika selama ini pasokan nikel dan kobalt bergantung pada penambangan primer, maka urban mining membuka peluang sumber sekunder yang lebih efisien secara energi dan lingkungan.
Baca juga: Indonesia Jadi Magnet Baru Rantai Pasok Global
Bagi Indonesia, yang sedang membangun ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai, pengembangan teknologi daur ulang dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pasokan logam kritis.
Dengan kata lain, masa depan industri baterai tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar cadangan tambang yang dimiliki suatu negara, tetapi juga oleh kemampuan mengelola kembali material yang telah digunakan. ***
- Foto: Ilustrasi / Freepik – Limbah baterai litium berpotensi menjadi sumber sekunder logam kritis seperti nikel dan kobalt melalui proses daur ulang atau urban mining.


