PASAR karbon global mulai berubah arah. Bukan lagi sekadar kompensasi emisi, tapi masuk fase baru, infrastruktur jangka panjang.
Kesepakatan Microsoft untuk membeli 626.000 ton kredit carbon removal selama 15 tahun dari proyek North Star di Kanada menjadi sinyal kuat. Korporasi kini tidak lagi berburu offset murah, tetapi mengunci pasokan karbon yang bersifat permanen, terukur, dan dapat diverifikasi.
Kesepakatan ini menunjukkan bahwa pasar karbon global sedang bergeser dari offset berbasis klaim menuju carbon removal berbasis infrastruktur dengan kontrak jangka panjang.
Dari Offset ke Infrastruktur
Selama satu dekade terakhir, pasar karbon didominasi oleh offset berbasis penghindaran emisi. Murah, fleksibel, tetapi sering dipertanyakan kualitasnya.
Model baru yang muncul berbeda.
Proyek North Star menggunakan pendekatan bioenergy with carbon capture and storage (BECCS), menggabungkan biomassa, penangkapan karbon, dan penyimpanan geologis permanen. Artinya, karbon tidak hanya “dikompensasi”, tetapi benar-benar dihapus dari atmosfer dan disimpan dalam jangka panjang.
Baca juga: Pasar Karbon Sukarela Berubah Wajah, dari Komitmen Hijau ke Instrumen Strategis
Lebih penting lagi, proyek ini dirancang sebagai sistem terintegrasi. Dari sumber biomassa limbah industri kayu, proses penangkapan karbon, hingga penyimpanan geologi, semuanya berada dalam satu rantai nilai.
Struktur ini membuat carbon removal semakin menyerupai proyek energi. Berbasis aset fisik, membutuhkan investasi besar, dan mengandalkan kontrak jangka panjang untuk menjamin kelayakan ekonomi.
Sinyal Pasar, Kualitas Mengalahkan Harga
Langkah Microsoft juga mencerminkan perubahan preferensi korporasi global.
Daripada membeli kredit karbon murah dalam jumlah besar, perusahaan kini mencari tiga hal utama, durability (ketahanan penyimpanan), verifiability (pengukuran yang ketat), dan integrity (kredibilitas ilmiah).
Standar ini membuat tidak semua kredit karbon lagi relevan.
Baca juga: Mengincar Polutan Super, Strategi Iklim Cepat Korporasi Global
Pasar mulai tersegmentasi. Kredit berkualitas tinggi, seperti BECCS atau direct air capture, akan menjadi premium. Sementara offset berbasis klaim, tanpa jaminan permanensi, perlahan kehilangan daya tarik.
Dalam konteks ini, kontrak jangka panjang seperti yang dilakukan Microsoft menjadi instrumen penting. Itu bukan hanya pembelian, tetapi juga mekanisme pembiayaan yang menurunkan risiko proyek dan mempercepat realisasi investasi.

Tata Kelola Baru, Komunitas Jadi Pemilik
Yang membuat proyek North Star berbeda bukan hanya teknologinya, tetapi juga struktur kepemilikannya.
Proyek ini dimiliki oleh komunitas adat melalui Meadow Lake Tribal Council, bekerja sama dengan Svante Technologies. Ini menandai pergeseran penting dalam tata kelola proyek karbon.
Baca juga: Scope 3 California, Tekanan Baru Rantai Pasok Indonesia di Era Transparansi Karbon
Selama ini, proyek karbon sering dikritik karena tidak memberikan manfaat langsung kepada komunitas lokal. Model North Star justru menempatkan komunitas sebagai pemilik, bukan sekadar penerima dampak.
Pendekatan ini membuka kemungkinan baru, karbon tidak hanya menjadi instrumen mitigasi iklim, tetapi juga alat pembangunan ekonomi lokal yang inklusif.
BECCS Masuk Fase Industri
Secara teknologi, kesepakatan ini juga mengirim pesan bahwa BECCS mulai memasuki fase komersial.
Dengan target penangkapan hingga 90.000 ton CO₂ per tahun dan rencana operasi pada 2029, proyek ini menunjukkan bahwa teknologi negative emissions tidak lagi berhenti di tahap pilot.
Kombinasi biomassa berkelanjutan, teknologi penangkapan karbon, dan penyimpanan geologis kini mulai menemukan model bisnis yang viable, terutama ketika didukung oleh pembeli besar dengan komitmen jangka panjang.
Indonesia: Potensi Besar, Pasar Belum Terbentuk
Bagi Indonesia, pelajaran utamanya jelas.
Negara ini memiliki hampir semua prasyarat untuk mengembangkan BECCS. Sumber biomassa melimpah dari sektor kehutanan dan sawit, serta potensi penyimpanan karbon di formasi geologi.
Baca juga: Standar Baru Pasar Karbon Global, Peluang bagi Proyek CDR Indonesia
Namun satu elemen masih hilang, yakni pasar yang matang dan pembeli yang siap mengunci permintaan jangka panjang.
Tanpa anchor buyer seperti Microsoft, proyek carbon removal berisiko sulit mencapai skala ekonomi.
Ini menjadi tantangan sekaligus peluang kebijakan. Pemerintah dapat memainkan peran kunci dalam membangun ekosistem, mulai dari standar kredit karbon, insentif investasi, hingga integrasi dengan strategi FOLU Net Sink 2030.
- Foto: Ilustrasi/ AI-generated/ SustainReview – Fasilitas carbon capture terintegrasi mencerminkan pergeseran pasar karbon global menuju infrastruktur berbasis penyimpanan jangka panjang.


