Hutan Sumatra di Peta Netral Karbon Apple 2030

Drone footage of the canopy of Batang Toru Forest, South Tapanuli Regency, North Sumatra, Indonesia. Photo aérienne prise au drone de la forêt de Batang toru vue de haut.

KEHADIRAN Lisa Jackson di Bali lewat wisuda Apple Developer Academy 2025 sekilas tampak sebagai agenda simbolik. Namun, di balik panggung pendidikan dan teknologi itu, Apple menyampaikan pesan yang jauh lebih strategis. Masa depan target iklim global mereka ikut ditentukan oleh Indonesia, khususnya hutan Sumatra.

Apple 2030 adalah komitmen ambisius perusahaan berbasis di Cupertino untuk mencapai netralitas karbon di seluruh rantai bisnisnya pada 2030. Bukan hanya operasional internal, tetapi juga manufaktur, pemasok, logistik, hingga penggunaan produk oleh konsumen. Target ini menuntut pengurangan emisi hingga 75 persen, sementara sisanya diseimbangkan melalui investasi berbasis alam.

Di titik inilah Sumatra masuk sebagai variabel kunci.

Hutan sebagai Infrastruktur Iklim Global

Dalam kerangka Apple 2030, hutan tidak lagi dipandang sebagai latar ekologis pasif. Hutan berfungsi sebagai natural infrastructure, penyerap karbon yang menopang keseimbangan emisi global. Kolaborasi Apple dengan World Wildlife Fund (WWF) di kawasan Bukit Tigapuluh menjadi contoh konkret pendekatan ini.

Baca juga: Jejak Alih Fungsi Lahan di Balik Banjir Besar Sumatra

Bukit Tigapuluh merupakan salah satu hutan dataran rendah terakhir di Sumatra. Wilayah ini menyimpan cadangan karbon signifikan sekaligus menjadi habitat harimau, gajah, dan orangutan Sumatra. Apple mendukung pemantauan deforestasi di kawasan ini untuk memastikan perlindungan ekosistem berjalan seiring dengan target iklim perusahaan.

Bagi Apple, kerusakan hutan bukan hanya isu konservasi. Itu berdampak langsung pada stabilitas iklim dan kehidupan manusia. Pesan ini menandai pergeseran narasi, hutan Indonesia kini terhubung langsung dengan agenda dekarbonisasi korporasi global.

Indonesia, Mitra Transformasi atau Lokasi Offset?

Namun, keterlibatan ini juga memunculkan pertanyaan strategis. Dalam arsitektur Apple 2030, di mana posisi Indonesia sebenarnya? Apakah sebagai mitra transformasi struktural, atau sekadar lokasi penyeimbang emisi global?

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Apple secara terbuka mengakui bahwa nol emisi absolut hampir mustahil dicapai. Karena itu, investasi pada alam menjadi komponen penyeimbang yang tak terhindarkan. Di sinilah negara-negara berhutan tropis memegang peran besar dan sekaligus menanggung risiko.

Baca juga: Ketika Rakyat Ingin Membeli Hutan, Negara Kehilangan Otoritas Ekologisnya

Jika perlindungan hutan diposisikan semata sebagai mekanisme offset, maka nilai tambah bagi Indonesia bisa berhenti pada level simbolik. Sebaliknya, jika diperlakukan sebagai kemitraan setara, maka hutan Sumatra dapat menjadi pintu masuk transformasi tata kelola lingkungan, energi, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Energi, Keadilan, dan Pembangunan

Pernyataan Lisa Jackson tentang energi sebagai isu keadilan memberi konteks penting. Akses energi bersih tidak hanya menopang industri, tetapi menentukan kesempatan hidup setara, dari pendidikan hingga ekonomi lokal. Dalam perspektif ini, Indonesia bukan sekadar penyedia karbon sink, melainkan medan uji pendekatan lingkungan yang menyatukan ekologi dan kesejahteraan manusia.

Baca juga: Tagihan Ekologis Sumatra Jatuh Tempo, Batang Toru Mengirim Alarm ke Jakarta

Apple melalui program Power for Impact juga mendukung proyek energi bersih skala komunitas, termasuk sekolah. Langkah ini memperlihatkan bahwa agenda iklim perusahaan mulai bergeser dari teknologi murni ke dampak sosial.

Ujian Tata Kelola Nasional

Ketika target iklim perusahaan global bergantung pada hutan Indonesia, tantangan terbesar justru berada di dalam negeri. Deforestasi, konflik lahan, dan lemahnya pengawasan tidak lagi menjadi isu lokal. Deferostasi berubah menjadi risiko global.

Baca juga: Banjir Sumatra Bongkar Celah Tata Kelola Proyek Energi Hijau

Di titik ini, Apple 2030 menjadi cermin bagi Indonesia. Bukan hanya tentang seberapa besar kontribusi hutan Sumatra bagi dunia, tetapi sejauh mana negara mampu memastikan bahwa peran strategis itu dijalankan dengan tata kelola yang adil, transparan, dan berdaulat. ***

  • Foto: Dok. WWF – Ekosistem hutan tropis di Sumatra menjadi penyerap karbon alami penting dalam agenda iklim global, termasuk peta netral karbon Apple 2030.
Bagikan