SELAMA bertahun-tahun, polusi udara di kota besar sering dianggap sebagai “biaya tak terhindarkan” dari urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, data terbaru menunjukkan narasi itu mulai berubah.
Sejumlah kota besar dunia kini berhasil menurunkan polusi udara secara signifikan, bahkan dalam waktu relatif singkat.
Laporan “Breathe Better: How Leading Cities Have Rapidly Cut Air Pollution” yang dirilis oleh organisasi kesehatan lingkungan Breathe Cities menunjukkan bahwa 19 kota global berhasil menurunkan kadar polutan utama secara drastis dalam 15 tahun terakhir.
Penurunan tersebut bukan kecil. Konsentrasi partikel halus PM2.5 dan gas nitrogen dioksida (NO2) di kota-kota tersebut turun 20 hingga 45 persen.
Baca juga: Hujan Mikroplastik di Jakarta, Krisis Baru Polusi Urban
Temuan ini penting. Karena menunjukkan bahwa polusi udara perkotaan bukanlah masalah yang mustahil diatasi. Dengan kebijakan yang tepat, kualitas udara bisa membaik dalam satu generasi kebijakan.
Kota-kota yang Berhasil Mengubah Arah
Analisis laporan tersebut mencakup tren kualitas udara dari hampir 100 kota anggota jaringan C40 dan Breathe Cities sepanjang 2010–2024.
Sebanyak 19 kota menunjukkan perbaikan paling signifikan.
Beijing dan Warsawa menjadi contoh paling mencolok dalam penurunan PM2.5, dengan pengurangan lebih dari 45 persen sejak 2010.
Di Eropa Barat, Amsterdam dan Rotterdam mencatat penurunan terbesar untuk NO2, dengan penurunan lebih dari 40 persen.
Baca juga: Polusi Udara Menyurutkan Sinar Matahari, Energi Surya Terhambat
Di Amerika Serikat, hanya San Francisco yang berhasil menurunkan kedua polutan utama tersebut lebih dari 20 persen secara bersamaan.
Secara geografis, sembilan kota berasal dari China dan Hong Kong, sementara sisanya tersebar di Eropa.
Direktur Eksekutif Breathe Cities, Cecilia Vaca Jones, mengatakan temuan ini menantang asumsi lama tentang sulitnya membersihkan udara perkotaan.
“Laporan ini menunjukkan bahwa kota-kota dapat mencapai apa yang dulu dianggap mustahil, mengurangi polusi udara beracun hingga 45 persen hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu dekade,” ujarnya.
Intervensi Kebijakan yang Terbukti Efektif
Penurunan polusi udara di kota-kota tersebut bukan terjadi secara alami. Tapi, merupakan hasil dari paket kebijakan yang konsisten.
Beberapa intervensi paling menonjol antara lain:
- Elektrifikasi transportasi, terutama di kota-kota China yang mempercepat adopsi kendaraan listrik.
- Ekspansi jalur sepeda di banyak kota Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.
- Pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di pusat kota, seperti yang dilakukan di London.
Baca juga: Biaya Polusi Udara Jakarta: Rp52 T Setiap Tahun
Intervensi tersebut memperlihatkan satu pola yang sama, transportasi menjadi sektor kunci pengurangan polusi perkotaan.
Kebijakan mobilitas rendah emisi terbukti memberi dampak cepat pada kualitas udara.

Polusi Udara Berbahaya
Polusi udara bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah krisis kesehatan masyarakat. Partikel PM2.5 sangat kecil sehingga dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke berbagai organ tubuh. Dampaknya meliputi gangguan paru-paru, penyakit jantung, hingga kerusakan organ lain.
Baca juga: Polusi Udara Mencengkeram Asia, Anak-anak Korban Terbesar
Sementara itu, NO2 merusak sistem pernapasan dan dapat memicu pembentukan hujan asam. Berbagai penelitian dalam satu dekade terakhir bahkan mengaitkan paparan polusi udara dengan penurunan fungsi kognitif dan meningkatnya risiko demensia pada usia lanjut.
Dampaknya muncul sepanjang siklus kehidupan, dari bayi dengan berat lahir rendah hingga penyakit kronis pada usia dewasa.
Pelajaran Strategis bagi Kota di Indonesia
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, temuan ini memiliki implikasi kebijakan yang jelas.
Pertama, perbaikan kualitas udara membutuhkan strategi jangka menengah yang konsisten, bukan intervensi sesaat.
Kedua, kebijakan transportasi menjadi instrumen paling efektif dalam menekan emisi polutan perkotaan.
Ketiga, koordinasi antara kebijakan nasional dan pemerintah kota sangat menentukan keberhasilan implementasi.
Baca juga: Polusi Udara Indonesia, Mengapa Masih yang Terburuk di Asia Tenggara?
Laporan ini juga menunjukkan bahwa transformasi kualitas udara tidak harus menunggu puluhan tahun. Dalam beberapa kasus, perubahan signifikan dapat terjadi dalam waktu sekitar 15 tahun.
Bagi kota-kota besar di Asia, termasuk Jakarta, pelajaran ini semakin relevan.
Kualitas udara yang lebih bersih bukan hanya soal lingkungan. Itu adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, produktivitas ekonomi, dan kualitas hidup perkotaan.
Dalam konteks transisi menuju ekonomi rendah karbon, udara bersih menjadi indikator penting dari keberhasilan kebijakan pembangunan berkelanjutan. ***
- Foto: Viridiana Rivera/ Pexels – Budaya bersepeda di kota-kota Eropa menjadi bagian dari strategi mobilitas rendah emisi yang membantu menurunkan polusi udara secara signifikan dalam dua dekade terakhir.


