KRISIS pangan di Afrika Barat dan Tengah memasuki fase yang lebih berbahaya. Program Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan sekitar 55 juta orang di kawasan ini berisiko mengalami kelaparan tingkat krisis pada 2026. Ini bukan sekadar darurat kemanusiaan. Ini tanda tekanan sistemik yang kian dalam.
Konflik belum mereda. Iklim makin ekstrem. Pendanaan global justru menyusut.
Episentrum Kerentanan
Empat negara menjadi pusat tekanan, Nigeria, Chad, Kamerun, dan Niger. Keempatnya menyumbang 77 persen dari total kerawanan pangan regional. Konflik bersenjata yang berkepanjangan, termasuk aktivitas kelompok seperti Boko Haram, menjadi faktor risiko utama di kawasan ini, sebagaimana dicatat dalam laporan The Independent yang merangkum pembaruan situasi WFP.
Baca juga: AS Pangkas Bantuan, Krisis Pangan Mengancam 14 Negara
Konflik bersenjata memperparah kondisi. Aktivitas kelompok seperti Boko Haram mengganggu produksi pangan, memutus jalur distribusi, dan memaksa jutaan orang meninggalkan lahan serta sumber penghidupan mereka. Ketika keamanan runtuh, sistem pangan ikut rapuh.
Iklim Menggerus Fondasi Pangan
Krisis iklim memperbesar kerentanan struktural. Pertanian menyerap sekitar 60 persen tenaga kerja di Afrika Barat dan Tengah. Ketika banjir dan kekeringan datang silih berganti, pendapatan rumah tangga langsung terpukul.
Pada 2025, hujan ekstrem dan banjir berdampak pada lebih dari 841.000 orang di kawasan ini. Nigeria mencatat 334.000 orang terdampak, sementara Niger mencapai 305.000 orang. Lahan rusak. Panen gagal. Harga pangan naik. Akses makin sempit. Ketahanan pangan yang sudah lemah semakin tergerus oleh guncangan iklim berulang.
Bantuan Menyusut, Dampak Membesar
Di tengah tekanan yang meningkat, pendanaan kemanusiaan justru menurun. WFP pada 2025 hanya menerima 41 persen dari kebutuhan dana sebesar US$2 miliar untuk Afrika Barat dan Tengah. Dalam enam bulan ke depan, badan ini masih membutuhkan sekitar US$453 juta agar operasi penyelamatan jiwa tetap berjalan.
Baca juga: Ketahanan Pangan Indonesia di Bawah Bayang-bayang Krisis Iklim
“Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menghentikan bantuan pangan,” kata Direktur Negara WFP untuk Nigeria, David Stevenson. Ia menegaskan bahwa pemotongan bantuan akan memicu konsekuensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas, termasuk pengungsian massal lintas batas.

Dampaknya sudah nyata. WFP Nigeria memperkirakan hanya mampu menjangkau 72.000 orang pada Februari mendatang, turun drastis dari 1,3 juta orang yang dibantu selama musim paceklik 2025. Di Kamerun, rencana jumlah penerima bantuan dipangkas sekitar 60 persen tahun ini. Secara global, WFP memperkirakan hanya bisa membantu setengah dari 110 juta orang yang sebelumnya ditargetkan menerima dukungan pada 2026.
Risiko Regional dan Pelajaran Global
Tren ini menunjukkan paradoks tata kelola global. Risiko meningkat, tetapi solidaritas fiskal menurun. Negara-negara donor menghadapi tekanan anggaran domestik. Namun pemotongan bantuan pangan di wilayah rawan konflik berpotensi menciptakan biaya jangka panjang yang jauh lebih besar: instabilitas regional, migrasi paksa, dan eskalasi krisis keamanan.
Bagi pembuat kebijakan dan praktisi keberlanjutan, situasi ini menegaskan keterkaitan erat antara iklim, pangan, dan stabilitas. Adaptasi iklim di sektor pertanian bukan lagi agenda lingkungan semata. Ia adalah strategi pencegahan krisis kemanusiaan.
Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah
Investasi pada sistem peringatan dini, irigasi tahan iklim, dan perlindungan sosial adaptif dapat menekan lonjakan kebutuhan bantuan darurat. Krisis Afrika Barat–Tengah menjadi pengingat keras: ketahanan pangan adalah fondasi stabilitas, dan pembiayaannya tidak bisa bersifat musiman.
Ketika bantuan menyusut di tengah risiko yang membesar, dunia menghadapi pilihan kebijakan yang jelas: membayar lebih mahal nanti, atau berinvestasi lebih cerdas sekarang. ***
- Foto: Ilustrasi/ Darkshade Photos/ Pexels – Warga memproses hasil panen di tengah lanskap kering di Nigeria, Afrika Barat. Perubahan iklim dan konflik memperburuk kerentanan sistem pangan di kawasan ini.


