Lima Misi Penyelamat Bumi, Anak Menjadi Arah Baru Kebijakan Iklim

DI TENGAH suhu ekstrem, banjir mendadak, dan krisis air yang kini semakin sering dirasakan masyarakat Indonesia, satu pesan kuat menggema dari panggung Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada Puncak Festival Aksi Generasi Iklim (AGI) 2025, Sabtu (22/11/2025), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengingatkan bahwa bumi kini sedang “sakit”, dan para penyembuh terpenting justru adalah anak-anak Indonesia.

Pesan itu disampaikan melalui sebuah tayangan video. Dengan bahasa yang sederhana namun menggugah, Pratikno menggambarkan bagaimana iklim yang tak menentu adalah tanda tubuh bumi sedang demam. Panas ekstrem berganti hujan badai dalam hitungan jam, memicu banjir di kota-kota besar dan desa-desa terpencil. “Bumi kita butuh pahlawan super dan pahlawan itu adalah kalian semua,” tegasnya, disambut gemuruh antusiasme ribuan peserta muda.

Lima Misi untuk Generasi Penjaga Bumi

Pratikno menawarkan lima misi praktis yang dapat dilakukan setiap anak Indonesia. Langkah kecil yang diharapkan membangun perubahan besar.

Pertama: Menjadi ‘detektif sampah’. Anak-anak diajak memastikan sampah berada di tempatnya, mencegah selokan tersumbat, dan ikut menjaga lingkungan sekitar.

Kedua: ‘Pasukan anti plastik’. Membawa tas belanja sendiri, memakai botol minum ulang, dan menolak plastik sekali pakai. “Setiap kali kita menolak plastik, kita menyelamatkan bumi,” ucapnya.

Baca juga: Agam Rinjani Raih Medali Kofi Annan, Pelajaran Kemanusiaan di Tengah Krisis Iklim

Ketiga: Penjaga air. Membiasakan menutup keran dan menghemat air sebagai bentuk empati bagi wilayah yang tengah krisis air bersih.

Keempat: Sahabat tumbuhan. Menghidupkan program kebun sekolah, menanam sayuran, membuat ruang belajar lebih hijau dan lebih sejuk.

Kelima: Pahlawan makanan. Menghabiskan makanan tanpa tersisa dan berbagi dengan yang membutuhkan demi memerangi food waste.

Seruan ini ditutup dengan ucapan selamat Hari Anak Sedunia, 20 November 2025. “Berbagi adalah kekuatan super paling hebat,” pesan Pratikno.

Seorang anak memegang poster kampanye “Save the Earth” dalam aksi peduli lingkungan di area pantai, simbol keterlibatan generasi muda dalam gerakan iklim. Foto: Ilustrasi/Ron Lach/ Pexels

Aksi Iklim Melalui Seni dan Narasi

Festival AGI 2025 bukan sekadar selebrasi. Di dalamnya ditampilkan pertunjukan imersif “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” yang digarap Save the Children Indonesia. Pertunjukan visual ini membawa penonton menyelami keindahan bumi sekaligus melihat krisis nyata. Mulai dari kekeringan, limbah, dan banjir yang menyapu ruang hidup.

CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar menekankan bahwa krisis iklim bukan lagi wacana untuk generasi depan. “Kita melihat anak-anak sakit dan sekolah terhenti ketika banjir datang. Mereka terdampak paling awal, dan karena itu mereka juga siap menjadi pelopor,” ujarnya.

Baca juga: Pendidikan Hijau, Jalan Baru Mempersiapkan Generasi Muda di Era Krisis Iklim

Dessy menegaskan bahwa suara anak harus diterjemahkan menjadi kebijakan publik. Program kampanye suara anak yang digerakkan organisasi ini kini berjalan di delapan provinsi di Indonesia, memperjuangkan ruang partisipasi nyata dalam pengambilan keputusan iklim.

Generasi yang Tidak Lagi Menunggu Giliran

Pesan utama yang bergema di TIM sederhana namun strategis, masa depan tidak bisa ditunda. Ketika anak-anak berani mengambil peran, saatnya pemerintah, pelaku industri, dan pembuat kebijakan mengubah arah dari wacana menjadi aksi.

Baca juga: Kota, Barisan Pertama dan Pertahanan Terakhir Iklim Dunia

AGI 2025 menjadi bukti perjuangan melawan krisis iklim bukan hanya wilayah teknokrat, pebisnis, atau ilmuwan. Generasi paling muda kini berada di garda depan. Dan dunia harus siap mendengarkan. ***

  • Foto: Ron Lach/ Pexels Anak-anak dan keluarga melakukan aksi bersih pantai sambil membawa poster kampanye penyelamatan bumi, sebagai simbol peran generasi muda dalam gerakan iklim.
Bagikan