GUNUNG kerap dipersepsikan sebagai ruang bebas, liar, alami, dan berdiri di luar jangkauan kebijakan publik. Namun di sejumlah negara Nordik, terutama Norwegia, pendekatan itu tidak lagi relevan. Jalur gunung diperlakukan sebagai infrastruktur publik. Dirawat, diawasi, dan dikelola secara sistematis demi menjaga keselamatan manusia sekaligus stabilitas ekosistem.
Pendekatan ini terlihat dari praktik perawatan jalur pendakian yang dilakukan secara manual, presisi, dan berkelanjutan. Batu-batu besar diangkat satu per satu. Anak tangga disusun mengikuti kontur alami. Tidak ada alat berat, tidak ada beton masif. Gunung tidak “ditaklukkan”, melainkan dipelihara.
Jalur Gunung sebagai Infrastruktur Lingkungan
Dalam kerangka kebijakan lingkungan, jalur pendakian bukan sekadar fasilitas wisata. Tapi, berfungsi sebagai pengendali tekanan ekologis. Jalur yang dirancang dan dirawat dengan baik mampu mencegah erosi tanah, membatasi pergerakan liar pengunjung, serta mengurangi degradasi vegetasi di kawasan rentan.
Baca juga: Gunung Memanas Lebih Cepat, Ancaman Baru bagi Miliaran Penduduk Dunia
Di Norwegia, jalur gunung juga menjadi bagian dari sistem keselamatan publik. Perawatan rutin menekan risiko kecelakaan, terutama di wilayah dengan cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang makin sulit diprediksi. Dengan kata lain, investasi pada jalur gunung adalah investasi pada adaptasi iklim.
Mengapa Manual, Bukan Mekanis
Pilihan untuk mengandalkan tenaga manusia dalam perawatan jalur bukan soal romantisme. Ini adalah keputusan kebijakan. Alat berat berpotensi merusak struktur tanah, meningkatkan emisi, dan mengubah lanskap secara permanen. Sebaliknya, teknik manual memungkinkan intervensi minimal dengan presisi tinggi.
Baca juga: Gunung Fuji tanpa Salju di Oktober, Pertama dalam 130 Tahun
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip low-impact infrastructure. Jejak karbon lebih kecil. Lanskap tetap utuh. Jalur dapat menyatu dengan ekosistem alih-alih memaksanya beradaptasi dengan konstruksi.

Pengetahuan Pegunungan yang Ditransfer
Dalam beberapa proyek perawatan jalur gunung di Eropa, termasuk kawasan Nordik, muncul pekerja musiman dari luar kawasan, termasuk dari Nepal. Mereka dikenal memiliki keahlian tradisional dalam kerja batu dan jalur pegunungan, hasil warisan panjang hidup di lanskap Himalaya.
Yang penting dicatat, keterlibatan tenaga ini bukan semata soal tenaga murah. Dalam praktik terbaik, mereka bekerja melalui kontraktor resmi, dengan standar keselamatan dan upah mengikuti regulasi setempat. Ini lebih tepat dibaca sebagai transfer pengetahuan lintas wilayah, bukan eksploitasi.
Baca juga: Nanoplastik di Pegunungan Alpen, Ancaman tak Terlihat dari Partikel Ban
Narasi di media sosial yang menyebut perbedaan upah ekstrem, hingga diklaim setara puluhan tahun pendapatan di negara asal, perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak ada data resmi yang mengonfirmasi angka tersebut. Namun yang tak terbantahkan adalah ketimpangan global dalam nilai kerja, dan bagaimana negara maju bersedia membayar mahal untuk menjaga lanskap alamnya.

Gunung, Pariwisata, dan Kontrol Tekanan
Perawatan jalur juga berkaitan langsung dengan pengelolaan pariwisata. Negara-negara Nordik memahami bahwa overtourism tidak selalu datang dalam bentuk hotel dan resor, tetapi dari ribuan sepatu yang menginjak jalur rapuh setiap musim panas.
Dalam berbagai dokumen dan laporan pengelolaan destinasi alam Norwegia, praktik penataan ulang jalur pendakian disebut telah berlangsung dalam skala ratusan proyek di berbagai wilayah. Intervensi ini mencakup restorasi jalur lama, pembangunan stone steps, serta stabilisasi lintasan di kawasan dengan tekanan kunjungan tinggi.
Baca juga: Gunung Fuji dan Ancaman Letusan, Seberapa Siap Jepang?
Bukan membangun jalur baru secara agresif, pendekatan yang dipilih adalah menghidupkan kembali jalur-jalur lama, ancient paths reborn, not replaced. Jalur yang terkelola kemudian berfungsi sebagai alat kontrol, mengarahkan arus manusia, membatasi akses ke zona sensitif, dan menjaga daya dukung lingkungan. Dalam konteks ini, perawatan gunung menjadi instrumen kebijakan pariwisata berkelanjutan.
Pelajaran bagi Indonesia

Indonesia memiliki ratusan gunung aktif dan nonaktif yang menjadi destinasi populer. Namun perawatan jalur pendakian masih kerap bergantung pada relawan, komunitas, atau inisiatif sporadis. Negara hadir saat krisis, tetapi absen dalam perawatan rutin.
Baca juga: Es Abadi Puncak Jayawijaya akan Punah 2026, Alarm Krisis Iklim
Pendekatan Nordik menawarkan pelajaran penting. Gunung bukan sekadar objek wisata atau simbol alam, melainkan infrastruktur ekologis yang membutuhkan investasi jangka panjang. Tanpa itu, kerusakan akan menumpuk—perlahan, tetapi pasti. ***
- Foto: X/ @historyinmemes – Perawatan jalur pendakian di kawasan pegunungan Norwegia dilakukan secara manual dengan teknik batu alam. Jalur gunung diperlakukan sebagai infrastruktur publik.


