Saatnya Industri Travel Mengubah Cara Bercerita tentang Keberlanjutan

INDUSTRI perjalanan global sedang memasuki babak baru. Transformasi menuju praktik yang lebih hijau bukan lagi sekadar pilihan moral, tetapi strategi bisnis yang menentukan daya saing. Namun, menurut pakar aviasi internasional Paul Charles, perubahan terbesar justru bukan pada teknologi atau regulasi, melainkan pada cara industri travel bercerita tentang keberlanjutan.

Dalam percakapan khusus dengan SustainReview.ID di TOURISE Global Summit 2025, Riyadh, ia menegaskan bahwa keberlanjutan hanya dapat berhasil jika disampaikan dengan cara yang emosional, menarik, dan bermakna bagi konsumen, bukan sebagai tuntutan yang membuat liburan terasa berat.

Komunikasi Hijau yang Lebih Menggugah

Selama bertahun-tahun, industri perjalanan menempatkan keberlanjutan sebagai pesan moral. Hemat energi, kurangi sampah, hindari limbah plastik. Namun Charles mengingatkan bahwa pendekatan seperti itu justru membuat konsumen menjauh.

“Kata ‘keberlanjutan’ tidak selalu terasa menarik,” ujarnya. Saat seseorang telah menabung bertahun-tahun untuk berlibur, pesan “hemat” atau “kurangi ini-itu” terasa seperti mengurangi nilai pengalaman mereka.

Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

Karena itu, strategi komunikasinya harus berubah.
Keberlanjutan harus diposisikan sebagai nilai tambah pengalaman, bukan kompromi. Ia mencontohkan pemberian discount green choices, hotel yang memperkuat identitas lokal, hingga insentif untuk wisata ramah lingkungan.

“Buat konsumen merasa bahwa memilih opsi hijau bukan pengorbanan, tetapi bagian dari pengalaman liburan yang lebih bermakna,” katanya.

Paul Charles, pakar aviasi internasional, dalam sesi wawancara di Riyadh. Foto: Dok.

Pasca-Pandemi, Wisata Lebih Personal dan Bermakna

Pandemi COVID-19 mengubah pola pikir wisatawan secara drastis. Charles melihat perubahan perilaku yang sangat kuat. Wisatawan kini ingin perjalanan yang lebih personal, lebih emosional, dan lebih bernilai.

Selama lebih dari dua tahun, banyak orang kehilangan momen-momen penting bersama keluarga. Ketika dunia kembali dibuka, prioritas mereka berubah:

  • lebih sedikit belanja barang,
  • lebih banyak menginvestasikan uang pada pengalaman,
  • mencari koneksi dengan komunitas lokal,
  • mencari destinasi yang lebih tenang, autentik, dan penuh makna.

Inilah momentum industri pariwisata untuk membangun narasi baru. Perjalanan sebagai cara memulihkan diri, terhubung kembali, dan memberi dampak positif, bukan sekadar aktivitas berpindah tempat.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Narasi Baru, Keberlanjutan sebagai Fitur Premium

Menurut Charles, keberlanjutan tidak boleh berhenti di jargon atau pemasaran hijau. Industri harus memastikan bahwa perubahan nyata lebih dulu hadir, baru kemudian dikomunikasikan.

“Keberlanjutan harus dilakukan dengan benar dan autentik,” tegasnya. “Anda akan ketahuan jika hanya bicara tanpa benar-benar melakukannya.”

Baca juga: Krisis Iklim Ubah Peta Pariwisata Turki di 2025

Bagi maskapai, itu berarti penggunaan SAF secara bertahap, transparansi emisi, dan peningkatan efisiensi operasional.
Bagi hotel, itu bisa berarti air kemasan kaca, energi terbarukan, makanan lokal, hingga pengalaman komunitas.
Bagi destinasi, itu berarti menceritakan keaslian budaya sebagai kekuatan, bukan sekadar menjual pemandangan.

Keaslian, authenticity, adalah mata uang paling berharga dalam industri travel masa depan.

Momentum Emas Indonesia

Indonesia berada pada momentum emas. Dengan lebih dari 7.000 desa wisata, masyarakat lokal yang kreatif, dan kekayaan budaya yang autentik, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk memimpin gelombang responsible travel di Asia.

Baca juga: 2 Desa Wisata Indonesia Terbaik Dunia 2024

Tinggal satu pekerjaan rumah besar, yakni mengemas keberlanjutan sebagai cerita yang hidup, bukan sekadar label.

Mulai dari Bali, Mandalika, Labuan Bajo, hingga destinasi baru di Sulawesi dan Kalimantan, semuanya memiliki peluang untuk memadukan pengalaman premium dengan narasi hijau yang kuat. ***

  • Foto: Ekaterina Belinskaya/ PexelsSiluet para wisatawan di terminal bandara internasional, menggambarkan perubahan tren perjalanan global menuju pengalaman yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Bagikan