Brasil menyerukan percepatan transisi energi global di Belém Climate Summit. Dari etanol hingga biofuel, Lula menawarkan arah baru bagi ekonomi hijau yang lebih adil dan inklusif.
“BERHENTI berputar dalam lingkaran janji.” Kalimat itu meluncur tajam dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Belem Climate Summit, Jumat (7/11). Bukan sekadar retorika, tetapi seruan agar dunia mempercepat transisi energi menuju ekonomi hijau yang adil.
Di tengah kesenjangan teknologi dan pendanaan yang masih membatasi negara-negara berkembang, Lula menempatkan Brasil sebagai contoh nyata, negara yang menjadikan energi bersih sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional dan diplomasi globalnya.
Dalam pidatonya di sesi tematik The Energy Transition, Lula menegaskan bahwa Brasil telah menjadi pelopor sejak lama. “Kami tidak takut berdialog tentang transisi energi. Sejak 1970-an, kami berinvestasi besar dalam energi terbarukan. Kini, 90 persen listrik nasional kami bersumber dari energi bersih,” ujarnya.
Baca juga: Menuju COP30, Brasil Usulkan Kontribusi Iklim Global Melampaui Negara
Menurutnya, paruh pertama 2025 menandai tonggak sejarah global. Energi terbarukan untuk pertama kalinya menyalip batu bara sebagai sumber utama listrik dunia. Brasil, lanjut Lula, juga memimpin dalam pengembangan mesin flex-fuel dan menjadi produsen biofuel terbesar kedua di dunia.
Belem 4X, Komitmen Baru Dunia untuk Energi Bersih
Momentum itu diperkuat dengan peluncuran Belem Commitment for Sustainable Fuels atau Belem 4X. Inisiatif bersama Brasil, Italia, dan Jepang ini bertujuan melipatgandakan penggunaan bahan bakar berkelanjutan hingga empat kali lipat pada 2035. Hingga kini, 19 negara telah menandatangani komitmen tersebut, mencerminkan dukungan lintas kawasan terhadap agenda energi bersih global.
Baca juga: Target 90 Persen Emisi Uni Eropa, Kompromi Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi
“Sebanyak 19 dukungan ini sudah merupakan hasil yang luar biasa. Keberagaman para pendukungnya menunjukkan bahwa isu ini benar-benar universal,” ungkap Duta Besar Mauricio Lyrio, Sekretaris Urusan Iklim, Energi, dan Lingkungan Brasil.

Transisi yang Adil untuk Selatan Global
Namun, di balik optimisme itu, Lula mengingatkan dunia bahwa dua miliar manusia masih kekurangan bahan bakar memasak layak, dan lebih dari 600 juta orang hidup tanpa akses listrik. “Selama ketidakadilan utang luar negeri dan diskriminasi terhadap negara berkembang belum dihapus, dunia akan terus berputar dalam lingkaran janji,” tegasnya.
Lula menggarisbawahi tiga komitmen utama untuk mempercepat transisi energi global. Melaksanakan Dubai Agreement yang menargetkan pelipatan tiga kali energi terbarukan dan dua kali efisiensi energi pada 2030; menempatkan penghapusan kemiskinan energi sebagai prioritas iklim global; serta memperluas partisipasi negara dalam Belém 4X.
Baca juga: Target Emisi Uni Eropa 2040, Keberlanjutan atau Kompromi?
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut memperkuat pesan itu. Ia menyoroti bahwa investasi energi bersih dunia kini telah mencapai USD 2 triliun, USD 800 miliar lebih tinggi dari investasi fosil. “Setiap satu dolar di energi terbarukan menciptakan tiga kali lebih banyak pekerjaan dibanding sektor fosil. Revolusi energi bersih telah tiba,” ujarnya.
Bagi Lula, dan kini semakin banyak pemimpin Global South, transisi energi bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi ujian moral dan ekonomi dunia. Ia menutup pidatonya dengan peringatan keras, “Kita harus memilih, apakah abad ke-21 dikenang sebagai era bencana iklim, atau sebagai masa rekonstruksi cerdas.” ***
- Foto: COP30 – Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berbicara pada sesi tematik kedua Belem Climate Summit bertajuk The Energy Transition, Jumat (7/11). Dalam forum ini, Lula menegaskan pentingnya langkah konkret menuju ekonomi hijau yang adil dan inklusif.


