KETIKA dunia menatap Amazon untuk COP30, kabar baru datang dari Afrika Timur. Ethiopia resmi ditetapkan sebagai tuan rumah COP32 tahun 2027. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden COP30 Ana Toni kepada Reuters, menandai kembalinya benua Afrika ke panggung utama diplomasi iklim global.
Namun, ada ironi yang menarik. Tuan rumah COP32 sudah pasti, tapi COP31 justru masih tanpa kepastian.
Persaingan Panas Australia vs Turki
Keputusan tuan rumah COP31 yang semestinya digelar tahun depan masih menemui jalan buntu. Dua negara, Australia dan Turki, sama-sama bersaing untuk menjadi tuan rumah, mewakili kelompok “Eropa Barat dan Negara Lainnya” (WEOG).
Baca juga: COP30: Waktu Menjadi Musuh Terbesar Aksi Iklim
Australia membawa misi politik yang kuat. Negeri Kanguru mengajukan diri bersama negara-negara Kepulauan Pasifik, wilayah yang selama ini dikenal sebagai “garis depan krisis iklim”. Langkah ini bukan hanya simbol solidaritas, tapi juga upaya memperkuat posisi moral di tengah tekanan agar negara maju mempercepat pendanaan iklim.

Turki di sisi lain, mengandalkan posisi geopolitiknya yang unik, menjembatani Eropa dan Asia, serta narasi bahwa transisi energi perlu adil bagi negara berkembang.
Baca juga: Dari Lingkaran Janji ke Agenda Transisi Energi Hijau Dunia
Hingga kini, belum ada kompromi. Jika negosiasi gagal, Bonn, Jerman, markas besar UNFCCC, disebut-sebut siap menjadi lokasi alternatif, skenario darurat yang pernah terjadi di masa lalu.
Ethiopia, Simbol Afrika Baru dalam Diplomasi Iklim
Sementara perdebatan soal COP31 belum selesai, Afrika sudah bersatu untuk COP32. Menurut sumber Reuters, Dewan Negara-Negara Afrika secara bulat mendukung Ethiopia sebagai tuan rumah. Addis Ababa, yang juga markas Uni Afrika, dipandang strategis dan merepresentasikan semangat “kemandirian global Selatan” dalam isu iklim.
Ethiopia sebelumnya bersaing dengan Nigeria, namun keunggulannya pada aspek diplomasi regional dan kesiapan infrastruktur membuat posisinya lebih kuat. Pemerintah Ethiopia telah berjanji menjadikan COP32 sebagai momentum untuk menunjukkan transisi energi dan ketahanan iklim Afrika, bukan sekadar forum simbolik.

Sinyal Geopolitik dalam Agenda Iklim
Kisah ini menunjukkan bahwa COP bukan hanya ajang lingkungan, tapi juga peta kekuatan geopolitik baru.
Australia ingin menegaskan perannya di kawasan Indo-Pasifik; Turki berusaha memperluas pengaruh lintas benua. Sementara Ethiopia muncul sebagai wajah baru Afrika yang ingin didengar.
Baca juga: Metana Jadi Musuh Baru, Indonesia Masuk Barisan Awal Aksi Cepat Iklim Dunia
Dalam konteks global, dinamika ini memperlihatkan satu hal penting. Isu iklim kini menjadi arena diplomasi strategis, tempat negara-negara bukan hanya berdebat tentang karbon, tapi juga tentang kepemimpinan dan legitimasi moral. ***
- Foto: Gift Habeshaw/ Pexels – Stadion dan gedung-gedung di Addis Ababa, Ethiopia, tampak berkilau pada malam hari. Kota ini resmi ditetapkan sebagai tuan rumah COP32 tahun 2027, melambangkan kembalinya Afrika ke panggung utama diplomasi iklim global.


