Di Dunia yang Terbelah, ke Mana Arah Mobilitas Wisatawan Global?

Bagian 1 dari Serial Editorial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026”

Pengantar Redaksi

Untuk satu pekan ke depan, SustainReview menurunkan laporan serial bertajuk “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026.” Serial ini membedah arah baru pariwisata global dan nasional melalui perspektif ekonomi, geopolitik, iklim, investasi, hingga transformasi teknologi. Seluruh laporan disusun tim redaksi berdasarkan data resmi, termasuk Indonesia Tourism Outlook 2025–2026, laporan bersama Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan Bappenas.

Serial ini diharapkan memberi wawasan strategis bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, dan pembaca SustainReview yang mengikuti isu keberlanjutan dan transformasi pariwisata Indonesia.
Dan berikut adalah laporan pertama kami untuk Anda.
Salam Sustain.


Geopolitik yang Mengubah Peta Wisata Dunia

DUNIA memasuki fase paling cair dalam dua dekade terakhir. Ekonomi global melemah, tensi geopolitik meningkat, dan blok-blok kekuatan baru membentuk ulang lanskap mobilitas internasional. Berdasarkan World Economic Outlook IMF, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 3,2% pada 2025 dan turun menjadi 3,1% pada 2026, angka yang menandakan pemulihan rapuh.

Laporan Indonesia Tourism Outlook 2025–2026 mencatat bahwa polarisasi perdagangan, tarif Amerika Serikat, dan tensi geopolitik menjadi beban jangka panjang bagi pariwisata global.

Ketidakpastian geopolitik tercermin kuat di data mobilitas internasional. Mengutip UN Tourism dalam laporan itu, 31% wisatawan menyebut konflik global sebagai penghalang utama untuk bepergian. Fragmentasi ini membuat wisatawan Asia dan Eropa Timur mengalihkan perjalanan jauh ke rute pendek yang lebih aman dan terjangkau.

Baca juga: Overtourism, Alarm Baru Dunia Wisata dan Babak Transformasi Indonesia

Pergeseran Perilaku Wisatawan, Short-Haul Jadi Raja Baru

Tren short-haul travel kini menjadi arus utama. Menurut data yang dihimpun dalam outlook tersebut, minat wisatawan India dan Asia Tenggara ke Eropa turun dari 49% menjadi 44% pada 2025, disebabkan tingginya biaya perjalanan jarak jauh dan waktu liburan yang semakin terbatas. Sebaliknya, kawasan ASEAN menjadi pemenang baru.

Baca juga: Indonesia, Negeri Para Pencerita: Jalan Baru Menjadi Pemimpin Pariwisata Berkelanjutan Dunia

UN Tourism mencatat bahwa kuartal I 2025 mencatat lebih dari 300 juta perjalanan internasional, 3% lebih tinggi daripada periode prapandemi. Meski dunia terbelah, permintaan perjalanan tetap elastis. Kontribusi pariwisata terhadap PDB global diperkirakan mencapai US$11,7 triliun pada 2025, melanjutkan tren pemulihan yang kuat.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Peluang Indonesia di Tengah Fragmentasi Global

Kawasan Asia tetap menjadi motor pemulihan global. Dengan meningkatnya daya beli kelas menengah Asia Timur Laut, Asia Tenggara, dan Oseania, Indonesia berada pada posisi strategis untuk memetik keuntungan. Indonesia Tourism Outlook menegaskan bahwa konektivitas regional, stabilitas makroekonomi, dan tren short-haul memberi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat pasar ASEAN, India, dan Australia.

Baca juga: Saatnya Industri Travel Mengubah Cara Bercerita tentang Keberlanjutan

Namun laporan itu juga memberi peringatan. Fragmentasi geopolitik dapat mengubah pola permintaan wisata dalam hitungan bulan. Destinasi yang tidak gesit berisiko tertinggal, bukan karena persoalan pariwisata, tetapi karena ekonomi-politik global yang bergeser cepat.

Indonesia dapat menjadi pemenang, jika strategi pariwisata nasional mampu beradaptasi dengan cepat, berbasis data, dan mengutamakan kualitas.

BESOK: BAGIAN 2

“Krisis Iklim dan Cuaca Ekstrem: Ketika Lingkungan Menjadi Penentu Arah Pariwisata Dunia”

  • Foto: Markus Winkler/ Pexels Arus mobilitas wisatawan internasional bergerak dinamis di tengah fragmentasi geopolitik dan perubahan perilaku perjalanan global.
Bagikan