Dengan potensi 40% cadangan panas bumi global, PGE membidik lompatan kapasitas menuju kepemimpinan geothermal dunia dan menopang transisi energi Indonesia.
INDONESIA duduk di atas salah satu harta energi paling berharga di dunia, panas bumi. Dengan sekitar 40% cadangan panas bumi global, negeri ini memiliki modal kuat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang bersifat intermiten, panas bumi adalah sumber energi hijau base-load., mampu beroperasi 24 jam tanpa henti. Aset strategis seperti ini selayaknya menjadi tulang punggung transisi energi nasional.
Namun, perjalanan menuju mimpi besar itu tidak sederhana.
Kamojang, Laboratorium Panas Bumi Indonesia
Kamojang di Jawa Barat merupakan simbol perjalanan panjang pengembangan geothermal Indonesia. Area yang pertama kali dieksplorasi pada 1926 itu kini dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk, dan telah memasok energi bersih ke sistem Jawa-Madura-Bali sejak mulai beroperasi komersial pada 1983.
Saat ini, wilayah kerja Kamojang mengoperasikan lima unit PLTP dengan total kapasitas terpasang 235 MW, menjadikannya salah satu tulang punggung suplai listrik hijau nasional.
Meski demikian, kontribusi panas bumi masih jauh dari potensi maksimal. Pjs General Manager PGE Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga, mengungkap bahwa total kapasitas terpasang di Jawa Barat (meliputi Kamojang, Darajat, Salak, dan Patuha) berada di kisaran 900–1.000 MW. Angka ini relatif kecil jika dibandingkan kebutuhan sistem Jawa-Bali yang kian meningkat setiap tahun.
“Lebih tepat bukan menggantikan (batubara), tetapi berkontribusi. Terlalu ambisius kalau dalam waktu singkat geothermal bisa mengambil alih,” ujarnya di Kamojang, 6 November 2025.
Dengan jumlah penduduk dan industri yang berkembang, kebutuhan energi nasional meningkat drastis. Geothermal berperan mendampingi, bukan menggantikan secara tiba-tiba, arus utama energi fosil.
Momentum Baru, dari Target 1 GW ke Kepemimpinan Global
Namun arah jangka panjang sudah jelas. Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, menegaskan bahwa pemerintah melalui agenda Asta Cita Presiden Prabowo menempatkan energi terbarukan sebagai prioritas strategis.
PGE menargetkan menjadi 1 GW company pada 2030, dan 1,7–1,8 GW pada 2039, yang berpotensi menjadikan Indonesia negara panas bumi terbesar di dunia, mengungguli AS.
Inovasi teknologi seperti modular power plant, yang memungkinkan pembangkit ditempatkan langsung di sumur tanpa jaringan pipa panjang, menjadi kunci efisiensi dan ekspansi. Terobosan ini dapat mempercepat proses pembangunan dan mengurangi biaya.
“We need to have new technology. Modular power plant bisa menjadi game changer,” tegas Julfi.
Mimpi Menuju Indonesia Emas 2045
Pengembangan panas bumi bukan hanya agenda energi, tetapi strategi kedaulatan ekonomi dan masa depan industri hijau nasional. Dengan kolaborasi lintas pemain (BUMN, IPP, investor, dan regulator) geothermal dapat menjadi aset strategis bangsa. ***
Foto: Dok. Pertamina Geothermal Energy – Pemandangan kawasan panas bumi Kamojang, Jawa Barat, yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy, salah satu tulang punggung suplai listrik geothermal nasional.