Bagian 2 dari Serial Editorial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026
Pengantar Redaksi
Serial ini membedah wajah baru pariwisata global dan nasional melalui perspektif ekonomi, geopolitik, iklim, investasi, hingga transformasi teknologi. Seluruh laporan disusun berdasarkan data resmi, termasuk Indonesia Tourism Outlook 2025–2026—laporan kolaborasi Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan Bappenas.
Dan berikut adalah laporan kedua kami untuk Anda. Salam Sustain.
Era Cuaca Ekstrem dan Ancaman Destinasi yang Tak Terhindarkan
PERUBAHAN iklim kini berdiri sebagai risiko terbesar bagi masa depan pariwisata dunia. Berdasarkan Global Risks Report 2025 yang dikutip dalam Indonesia Tourism Outlook 2025–2026, empat risiko global teratas sepuluh tahun ke depan sepenuhnya terkait lingkungan. Mulai dari cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, perubahan sistem bumi, hingga kelangkaan sumber daya alam.
Dampaknya terlihat semakin kasat mata. Musim panas ekstrem di Eropa memaksa penutupan situs wisata, banjir tiba-tiba merusak destinasi Asia Selatan. Sementara kekeringan panjang menekan kapasitas air destinasi tropis termasuk Indonesia. Di banyak negara, krisis iklim tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan realitas harian yang mengubah pola kunjungan, biaya operasional industri, hingga daya tarik destinasi.
Baca juga: Di Dunia yang Terbelah, ke Mana Arah Mobilitas Wisatawan Global?
Dalam outlook tersebut juga disebutkan bahwa sektor pariwisata, yang sangat bergantung pada kondisi alam, menjadi salah satu yang paling rentan terhadap dinamika iklim global. Mulai dari naiknya permukaan laut yang mengancam destinasi pesisir, hingga kebakaran hutan yang menutup kawasan wisata alam, risiko-risiko ini sudah menghampiri berbagai kawasan dan berpotensi meningkat.
Emisi Pariwisata: Tekanan Meningkat, Solusi Masih Mahal
Krisis iklim tidak bisa dilepaskan dari kontribusi sektor pariwisata itu sendiri. Indonesia Tourism Outlook menegaskan bahwa sektor perjalanan dan pariwisata menjadi kontributor signifikan pada emisi global, terutama melalui transportasi udara.
Data yang dikutip dari World Travel & Tourism Council menunjukkan bahwa dekarbonisasi aviasi sangat bergantung pada Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang diproyeksikan menyumbang hingga 65% solusi menuju emisi nol bersih.
Baca juga: Saatnya Industri Travel Mengubah Cara Bercerita tentang Keberlanjutan
Namun tantangannya besar. SAF masih jauh lebih mahal dibandingkan avtur konvensional. Infrastruktur produksinya terbatas, dan regulasi insentif belum memadai. Di Asia Tenggara, hanya sedikit negara yang telah memulai implementasi penuh.

Indonesia memiliki potensi feedstock terbesar di kawasan, mulai dari minyak jelantah hingga biomassa, tetapi implementasinya membutuhkan percepatan kebijakan dan investasi yang berani.
Baca juga: Krisis Iklim Ubah Peta Pariwisata Turki di 2025
Industri perhotelan pun menghadapi langkah dekarbonisasi yang menuntut biaya besar. Laporan tersebut mengutip contoh uji coba pengurangan limbah makanan berbasis AI di jaringan hotel internasional yang berhasil menekan 726 ton CO₂ dalam satu tahun, sebuah bukti bahwa efisiensi berbasis data dapat menjadi tulang punggung sustainability hospitality modern.
Dari Overtourism ke Regeneratif, Poros Baru Transformasi
Tekanan iklim membuat banyak negara bergerak dari sekadar “pariwisata berkelanjutan” menuju konsep regenerative tourism, sebuah pendekatan yang tidak hanya meminimalkan dampak, tetapi secara aktif memulihkan ekosistem dan budaya lokal.
Menurut outlook tersebut, Indonesia mulai memasuki fase penting menuju “Quality Sustains Future”, dengan fokus pada peningkatan nilai tambah per wisatawan, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan komunitas. Kebijakan ini menjadi krusial karena destinasi wisata nasional, dari Bali hingga Labuan Bajo, mulai merasakan dampak tekanan iklim dan daya dukung yang terbatas.
Baca juga: DAS Ayung Kritis, Bagaimana Bali Menjaga Pulau Kecil dari Dampak Iklim Besar?
Regenerative tourism menuntut perencanaan ulang model bisnis destinasi. Pembatasan jumlah kunjungan, sistem tiket adaptif, pengelolaan air dan energi, hingga skema benefit-sharing bagi masyarakat lokal. Ini bukan pilihan, tetapi kebutuhan jika Indonesia ingin mempertahankan daya tarik destinasi dalam jangka panjang.
Krisis iklim memaksa industri untuk berubah, dan laporan tersebut menegaskan satu hal penting masa depan pariwisata Indonesia tidak ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi bagaimana setiap kunjungan memberi dampak positif yang lebih besar daripada tekanan yang ditinggalkan. ***
- Foto: @pg_hermawan dan info.kapal – Wisatawan terjebak banjir besar di Bali, 10 September 2025, ketika hujan ekstrem melumpuhkan aktivitas pariwisata. Foto ini menjadi simbol nyata bagaimana krisis iklim kini menentukan arah perjalanan global.
BESOK: BAGIAN 3
“SAF, Biofuel, dan Taruhan Baru Industri Travel: Masa Depan Aviasi Rendah Karbon Indonesia.”


