PEGUNUNGAN di seluruh dunia sedang berubah lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Peningkatan suhu, pola curah hujan yang makin tak menentu, dan pergeseran salju menjadi hujan membuat kawasan ini menghadapi tekanan iklim yang jauh lebih intens dibanding daerah dataran rendah. Dampaknya tidak hanya ekologis. Jutaan rumah tangga, pertanian, hingga sistem air bersih di Asia, Amerika Latin, hingga Eropa kini berada di jalur risiko.
Temuan tersebut datang dari studi internasional paling komprehensif hingga saat ini mengenai dinamika iklim di wilayah pegunungan. Penelitian yang dipimpin Associate Professor Dr. Nick Pepin dari University of Portsmouth itu dipublikasikan di jurnal Nature Reviews Earth & Environment.
Analisisnya mencakup data global beresolusi tinggi dan studi kasus dari Rocky Mountains, Alpen, Andes, hingga Dataran Tinggi Tibet, sejumlah kawasan yang menjadi “menara air” dunia.
Pemanasan Lebih Cepat dari Dataran Rendah
Menurut studi tersebut, antara 1980–2020, wilayah pegunungan rata-rata menghangat 0,21°C per dekade lebih cepat dibanding dataran rendah sekelilingnya. Perubahan ini bukan hanya soal angka. Juga memicu transformasi mendalam pada siklus hidrologi dan ekosistem.
Baca juga: Es Abadi Puncak Jayawijaya akan Punah 2026, Alarm Krisis Iklim
Dr. Pepin menjelaskan bahwa pegunungan kini menunjukkan gejala yang mirip dengan kawasan Arktik: kehilangan salju dan es yang cepat serta gangguan ekosistem yang meluas. “Semakin tinggi kita mendaki, semakin intens laju perubahan iklim,” ujarnya mengutip Phys.org.
Di banyak wilayah dunia, hujan menggantikan peran salju secara drastis. Akibatnya, badai, banjir bandang, dan fluktuasi debit sungai menjadi lebih ekstrem dan tidak dapat diprediksi.
Dampak Langsung bagi Manusia
Lebih dari satu miliar orang bergantung pada salju dan gletser pegunungan sebagai sumber air. Di Asia, pegunungan Himalaya memasok air bagi India dan Tiongkok, dua negara berpenduduk terbesar di dunia.
Baca juga: Gletser Dunia Meleleh, Ancaman Nyata untuk Iklim dan Masa Depan Air
Namun, pencairan es Himalaya berlangsung lebih cepat dari proyeksi sebelumnya. Jika salju tidak lagi tertahan di musim dingin dan langsung turun sebagai hujan, pola air tahunan akan berubah drastis. Musim banjir datang lebih awal, sementara musim kering menjadi lebih panjang dan lebih parah.

Implikasinya merembet ke sektor pangan, energi, dan stabilitas sosial. Bendungan kehilangan ritme pasokan alamiahnya. irigasi bergantung pada cuaca yang semakin liar, dan kota-kota besar berisiko menghadapi krisis air yangIberulang.
Ekosistem Bergerak ke Atas, Sampai Batasnya
Kenaikan suhu mendorong pepohonan, mamalia kecil, hingga burung untuk bermigrasi ke ketinggian lebih tinggi demi mencari iklim yang lebih dingin. Tetapi ruang pegunungan memiliki batas. Ketika spesies mencapai puncak dan tidak lagi memiliki habitat yang sesuai, risiko kepunahan meningkat.
Baca juga: Gunung Fuji tanpa Salju di Oktober, Pertama dalam 130 Tahun
Perubahan vegetasi juga mengganggu fungsi ekologis penting, seperti penyimpanan karbon, penyerapan air, serta stabilitas lereng. Di beberapa negara, pergeseran ini meningkatkan potensi longsor akibat hilangnya jenis vegetasi pelindung.
Kesenjangan Data, Kesenjangan Respons
Satu tantangan besar membayangi upaya mitigasi, pegunungan adalah wilayah yang sulit dijangkau dan minim stasiun cuaca. Kekurangan data membuat ilmuwan berpotensi meremehkan kecepatan pemanasan yang sebenarnya.
Baca juga: Salju Turun di Gurun Atacama, Bukti Nyata Bumi Sedang Kacau
Penelitian merekomendasikan peningkatan drastis dalam infrastruktur pemantauan, pemodelan komputer beresolusi tinggi, dan komitmen iklim global yang lebih kuat. Dr. Emily Potter dari University of Sheffield mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup. “Kita memerlukan tindakan, bukan hanya model,” tegasnya.
Implikasi untuk Indonesia
Indonesia mungkin tidak memiliki pegunungan es seperti Himalaya atau Andes. Namun, wilayah seperti Pegunungan Jayawijaya, Pegunungan Sudirman, dan dataran tinggi Sulawesi serta Papua menghadapi pola curah hujan ekstrem yang meningkat. Ketidakpastian ini mengancam pertanian, keanekaragaman hayati, dan daerah aliran sungai yang menjadi penopang kota-kota besar di bawahnya.
Kebijakan iklim nasional perlu memperhitungkan percepatan risiko ini. Penguatan sistem pemantauan, konservasi hulu DAS, serta perlindungan ekosistem pegunungan menjadi tugas mendesak sebelum “puncak risiko” itu benar-benar tiba. ***
- Foto: Utkarsh Malviya/ Pexels – Pegunungan kering di Ladakh, India, wilayah Himalaya Trans yang menjadi bukti percepatan pemanasan di kawasan tinggi dunia.


