BENCANA banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 menjadi peringatan keras bahwa cuaca ekstrem bukan lagi anomali, melainkan ujian terhadap sistem tata ruang dan tata air yang telah lama melemah.
Hingga Jumat (28/11), BNPB mencatat 72 korban meninggal, puluhan lainnya masih hilang, dan ribuan warga mengungsi. Dari Aceh Tamiang sampai Tapanuli Selatan, air turun dari hulu dengan volume dan kecepatan yang tidak mampu diredam oleh struktur ekologis yang seharusnya bekerja.
Siklon Senyar Memicu, Kerentanan yang Menentukan Dampak
Hujan ekstrem kali ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di perairan hangat Selat Malaka. Siklon ini mengangkat uap air secara masif, memperkuat awan konvektif, dan mendorong hujan sangat lebat selama beberapa hari.
Namun intensitas hujan bukan satu-satunya faktor. Banjir berubah menjadi bencana karena hujan jatuh di atas lanskap yang kehilangan penyangga. Lereng hulu yang terbuka, daerah tangkapan air yang menyusut, serta sungai yang dangkal akibat sedimentasi membuat curah hujan ekstrem langsung menurunkan debit besar ke hilir.
Baca juga: Sinyal Krisis Iklim, Indonesia Hadapi Cuaca Ekstrem hingga 2100
Di berbagai lokasi, banjir membawa batang-batang kayu besar. Ini bukan fenomena alam semata, tetapi tanda bahwa kawasan hulu telah mengalami deforestasi. Kerusakan itu terpampang jelas di Aceh maupun Sumatera Utara.
Aceh dan Krisis Tata Air yang Kian Dalam
Aceh kini berada di fase krisis tata air. Sungai-sungai yang dulunya menjadi penyimpan air tidak lagi memiliki ruang untuk meredam debit puncak. Selama tiga dekade terakhir, perubahan tata guna lahan, ekspansi permukiman, perkebunan, hingga hilangnya rawa pesisir, menggoyahkan struktur ekologis Aceh. Infiltrasi menurun drastis, membuat air hujan berubah menjadi limpasan cepat.

Di hilir Aceh Timur dan Aceh Utara, sedimentasi mempersempit badan sungai, sementara rawa-rawa yang berfungsi sebagai ruang tunda air telah hilang satu per satu. Ketika hujan berlangsung terus-menerus, air datang lebih cepat dari kemampuan sungai untuk menampungnya.
Baca juga: Perubahan Iklim Makin Parah, Siklus Banjir di Indonesia Kian Cepat
DAS Tamiang menjadi contoh kerentanan paling akut. Hujan yang tergolong sedang kini cukup untuk memicu banjir besar. Tanah yang kehilangan struktur organiknya tak lagi menahan air. Ketika Senyar mendorong hujan beruntun, Tamiang tumbang dalam hitungan jam.
Batang Toru, Hulu yang Kehilangan Penyangga
Di Sumatera Utara, luka terbesar tampak di kawasan Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru. Bentang hutan tropis ini seharusnya menjadi menara air dan penyangga hidrologis utama. Namun dua dekade tekanan industri ekstraktif, pembangunan energi, jalan perusahaan, dan fragmentasi habitat membuat Batang Toru kehilangan daya simpan air.

Ketika hujan ekstrem tiba, lereng-lereng curam yang kehilangan tutupan pohon melepaskan air, lumpur, dan material kayu dalam volume besar. WALHI Sumut menilai pembukaan hutan dan aktivitas ekstraktif sebagai penyumbang utama kerusakan, memperparah dampak hujan ekstrem yang sebenarnya dapat diredam oleh ekosistem yang sehat.
Ketika Krisis Ekologi Naik ke Level Politik Nasional
Di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyinggung langsung isu ini dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional. Ia menyebut pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan pembabatan hutan sebagai tantangan utama bangsa.
Prabowo menekankan pentingnya menjaga hutan dan sungai agar mampu merespons cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba. Pernyataannya, yang menyandingkan bencana dengan urgensi pendidikan lingkungan, menunjukkan bahwa persoalan tata ruang dan deforestasi kini memasuki radar kebijakan tingkat nasional.
Baca juga: Ada Racun Kimia di Balik Setiap Banjir
Namun pernyataan itu juga membuka pertanyaan penting. Sejauh mana komitmen politik akan diterjemahkan menjadi kebijakan perlindungan kawasan hulu, pembenahan tata ruang lintas provinsi, dan evaluasi izin industri yang berada di zona rawan iklim.
Kisah Aceh dan Batang Toru memperlihatkan bahwa kerusakan bukan hanya akibat badai, tetapi hasil akumulasi keputusan tata ruang selama bertahun-tahun. Cuaca ekstrem hanyalah pemicu. Yang menentukan kedalaman luka adalah ekosistem yang kehilangan daya redam dan tata ruang yang tidak membaca risiko.
Tanpa pergeseran kebijakan yang memulihkan fungsi hidrologis kawasan hulu dan memperkuat perlindungan DAS, setiap siklon berikutnya hanya akan mengulang tragedi, dengan skala yang semakin besar. ***
- Foto: BPBD Kabupaten Tapanuli Utara – Arus banjir menghantam dan merusak struktur Jembatan Siborongborong di Tapanuli Utara, Selasa (25/11). Debit air yang meluap memperlihatkan tekanan hidrologis besar dari kawasan hulu Batang Toru.


