PERINGKAT keberlanjutan global kembali memberi sinyal penting bagi arah tata kelola energi Indonesia. Pada akhir 2025, PT Pertamina (Persero) mencatat perbaikan signifikan dalam skor ESG (Environmental, Social, and Governance). Skor ESG Risk Rating perusahaan turun menjadi 23,1 dari 26,9 pada 2024. Dalam metodologi penilaian risiko ESG, angka yang lebih kecil justru menunjukkan tingkat risiko yang lebih rendah.
Penilaian tersebut dirilis oleh Sustainalytics, lembaga pemeringkat keberlanjutan global yang banyak digunakan investor institusional. Dengan skor itu, Pertamina menempati posisi peringkat ESG nomor satu dunia di sub-industri integrated oil and gas, mengungguli 55 perusahaan sejenis lainnya. Pertamina juga masuk dalam 11 persen perusahaan dengan kategori medium risk, sementara mayoritas perusahaan global di sektor yang sama masih berada pada kategori high hingga severe risk.
Baca juga: Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Pertamina Luncurkan Program UCollect
Bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri, capaian ini tidak dapat dibaca sekadar sebagai prestasi reputasional. ESG kini berfungsi sebagai indikator risiko bisnis jangka panjang. ESG mencerminkan seberapa siap sebuah perusahaan menghadapi tekanan transisi energi, tuntutan dekarbonisasi, serta ekspektasi tata kelola dan sosial yang semakin ketat. Dalam konteks industri minyak dan gas, perbaikan skor ESG menandakan penguatan sistem manajemen risiko, bukan sekadar kepatuhan administratif.
Konfirmasi dari Pemeringkat Global
Konsistensi perbaikan ESG Pertamina juga tercermin dari lembaga pemeringkat lain. MSCI ESG Rating menaikkan peringkat Pertamina dari BB menjadi BBB per 31 Desember 2025. Dalam kerangka MSCI, peringkat BBB menandakan kapasitas pengelolaan risiko ESG yang semakin matang dan relevan secara finansial.
Baca juga: Panas Bumi Lampaui Listrik, Strategi PGE Menuju 100 Tahun Energi Hijau Indonesia
Sementara itu, CDP memberikan penilaian A- untuk aspek Water Security. Penilaian ini menempatkan Pertamina pada kategori Leadership, menunjukkan bahwa pengelolaan air perusahaan dinilai berada di atas rata-rata industri global. Untuk aspek Climate Change, skor Pertamina bertahan di level B, atau kategori Management. Artinya, sistem pengelolaan risiko iklim sudah berjalan, meski belum mencapai kepemimpinan penuh.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut capaian ini sebagai hasil integrasi prinsip ESG ke seluruh lini bisnis perusahaan. Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang semakin struktural. Namun, penting dicatat bahwa peringkat ESG tidak otomatis mencerminkan kecepatan penurunan emisi absolut atau pergeseran portofolio energi. Di sinilah tantangan berikutnya bermula.
Dari Peringkat ke Kebijakan Publik
Bagi negara, capaian ESG Pertamina memiliki implikasi strategis. Sebagai BUMN energi, Pertamina sering menjadi referensi praktik tata kelola bagi perusahaan lain. Peringkat ESG global ini semestinya dibaca sebagai dasar untuk memperkuat standar ESG nasional, bukan sebagai pengecualian yang bersifat simbolik.
Baca juga: Panas Bumi Naik Kelas, PGE Bidik 1,7 GW untuk Perkuat Kedaulatan Energi
Target Net Zero Emission 2060 menuntut lebih dari sekadar pengakuan global. Target itu membutuhkan peta jalan investasi, transparansi data emisi, serta konsistensi kebijakan lintas sektor. Koordinasi dengan Danantara Indonesia menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa perbaikan ESG benar-benar diterjemahkan ke dalam keputusan investasi dan transformasi bisnis.
Di tengah sorotan global terhadap industri minyak dan gas, posisi Pertamina di puncak peringkat ESG dunia menunjukkan satu hal krusial, bahwa tata kelola yang disiplin dapat memperkecil risiko, bahkan di sektor dengan tekanan transisi paling besar. Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi—mengubah skor menjadi kebijakan, dan kebijakan menjadi dampak nyata. ***
Foto: Dok. PT Pertamina – Pekerja PT Pertamina (Persero) melakukan pengoperasian fasilitas minyak dan gas terintegrasi. Kinerja tata kelola dan pengelolaan risiko keberlanjutan Pertamina mendapat pengakuan global melalui peringkat ESG teratas di sub-industri integrated oil and gas.


