Pasokan Kayu Global Masuk Fase Risiko Struktural

RANTAI pasok global yang bergantung pada kayu memasuki fase tekanan baru. Bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan bisnis yang berpotensi mengguncang stabilitas biaya, kepatuhan regulasi, hingga kepercayaan investor. Permintaan kayu yang terus meningkat kini bertemu dengan batas ekologis hutan, perubahan iklim, dan regulasi yang makin ketat.

Sinyal ini menguat dalam riset terbaru yang dirilis di sela World Economic Forum. Riset tersebut menilai bahwa model pasokan kayu “business as usual” akan semakin sulit dipertahankan dalam satu dekade ke depan. Risiko komersial dan ekologis bergerak bersamaan.

Baca juga: Riset Ungkap Deforestasi Ilegal di Hulu Batang Toru Jelang Bencana Sumatra

Canopy, organisasi lingkungan global yang bekerja dengan lebih dari 1.000 merek konsumen dunia, bersama Finance Earth, memetakan perubahan ini secara sistematis. Mereka melihat ketergantungan pada kayu perawan (virgin wood) justru membuka eksposur baru bagi pelaku usaha dan investor, mulai dari volatilitas pasokan hingga risiko reputasi dan hukum.

Permintaan Naik, Pasokan Menyempit

Tekanan utama datang dari konvergensi berbagai sektor. Bioenergi, konstruksi berbasis engineered timber, kemasan, hingga serat tekstil berbasis kayu tumbuh serempak. Di sisi lain, hutan menghadapi kebakaran, gangguan iklim, dan degradasi yang menurunkan produktivitas.

Brief riset bertajuk Paper Thin Comfort menilai pasar serat kayu akan semakin ketat secara struktural, khususnya untuk kayu bersertifikat dan dapat ditelusuri. Dampaknya terasa langsung pada industri kertas, kemasan, dan fesyen, dua sektor dengan ketergantungan tinggi pada pulp kayu.

Baca juga: Kayu Terapung, Tata Kelola yang Tenggelam di Bencana Sumatra

Sekitar seperlima penggunaan kayu global saat ini mengalir ke produksi pulp tekstil. Permintaan kemasan berbasis kertas yang melonjak akibat e-commerce membuat tekanan kian berat. Perusahaan dengan portofolio kemasan besar dan tekstil berbasis viscose menjadi yang paling rentan.

Founder dan Executive Director Canopy, Nicole Rycroft, menegaskan bahwa risiko ini bukan asumsi jangka panjang. “Jika perusahaan dan investor tetap bertahan pada pola pasokan lama, mereka sedang memilih biaya lebih tinggi, kerentanan pasokan, dan risiko regulasi yang meningkat. Padahal, jalur keluar sudah tersedia melalui serat alternatif dan Next Gen,” ujarnya, dikutip dari ESG News.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Regulasi Mengunci Ruang Gerak

Tekanan pasar diperkuat oleh regulasi. Uni Eropa, Inggris, Kanada, dan sejumlah yurisdiksi lain memperketat uji tuntas rantai pasok untuk memastikan bebas deforestasi dan pelanggaran sosial. European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang mulai berlaku penuh pada akhir 2026, berpotensi menjadi game changer.

Akses pasar akan dibatasi bagi komoditas berbasis hutan yang tak memenuhi standar ketertelusuran. Kompetisi atas volume kayu yang terverifikasi pun dipastikan meningkat. Bagi pelaku usaha, kepatuhan tidak lagi opsional.

Baca juga: DNA Kayu, Senjata Baru Lawan Pembalakan Liar di Indonesia

Di sisi keuangan, investor mulai mengaitkan risiko deforestasi dengan biaya modal. Portofolio yang dinilai berisiko tinggi terhadap kerusakan hutan menghadapi tekanan penilaian ulang. Risiko hutan kini terhubung langsung dengan rezim pengungkapan iklim dan tata kelola.

Peta Jalan Mengurangi Risiko

Laporan tersebut menawarkan kerangka tiga langkah. Pertama, mengurangi ketergantungan pada kayu perawan melalui serat daur ulang dan bahan alternatif berbasis residu pertanian atau limbah tekstil. Kedua, menurunkan risiko pasokan kayu yang tersisa dengan sertifikasi kredibel, ketertelusuran penuh, dan penyaringan risiko sosial, termasuk dampak terhadap masyarakat adat. Ketiga, mengintegrasikan skenario guncangan pasokan kayu ke dalam perencanaan pengadaan dan alokasi modal.

Baca juga: Gugatan Rp4,8 Triliun, Negara Mulai Menagih Biaya Ekologi Sumatra

Managing Director Finance Earth, Elizabeth Beall, menyebut banyak perusahaan mulai menghitung dampak finansial dari risiko ini. “Saat risikonya dikuantifikasi, alasan untuk berinvestasi pada ketahanan dan sumber pasokan berisiko rendah menjadi sangat jelas,” katanya, juga dikutip oleh ESG News.

Bagi eksekutif dan investor, pesan utamanya tegas. Risiko serat kayu kini bersifat material. Sirkularitas dan ketertelusuran bukan lagi komitmen sukarela, melainkan prasyarat strategi bisnis di era batas ekologis. ***

  • Foto: Mark Stebnicki/ Pexels – Tumpukan kayu di area logistik mencerminkan tekanan baru dalam rantai pasok global. Permintaan lintas sektor, regulasi ketat, dan risiko iklim membuat pasokan kayu makin rentan.
Bagikan