DI TENGAH permukiman padat Salatiga, berdiri bangunan setinggi 17 meter dengan lebar hanya 2,8 meter. Namanya Pitu Rooms. Dari luar, bangunan ini tampak seperti sisipan vertikal di antara rumah-rumah warga. Dari dalam, hotel ini menjadi studi kasus nyata tentang bagaimana keterbatasan ruang bisa diolah menjadi solusi perkotaan.
SustainReview menjajal langsung hotel ini untuk melihat apakah arsitektur ekstrem tersebut sekadar gimmick wisata, atau justru menawarkan pelajaran serius bagi kota-kota Indonesia yang semakin sesak.
Ruang Sempit, Fungsi Maksimal
Pitu Rooms hanya memiliki tujuh kamar yang tersebar di enam lantai. Setiap kamar berukuran sekitar 2,8 × 3 meter dengan kamar mandi kompak. Furnitur dipasang presisi mengikuti dimensi ruang. Tidak ada koridor lebar, tidak ada lobi luas. Bahkan lift hanya bisa membawa satu orang dalam satu waktu. Semua keputusan desain berbicara satu bahasa, efisiensi.
Baca juga: Indonesia Kekurangan Bangunan Hijau, Mengapa Investasi dan Kebijakan Belum Sinkron?
Bangunan ini dirancang oleh studio arsitektur Sahabat Selojene di bawah arahan Ary Indra, yang sejak awal ingin menantang logika industri perhotelan yang identik dengan skala besar dan kemewahan. Di sini, keterbatasan tapak justru dijadikan titik berangkat desain.
Densitas Tanpa Ekspansi Lahan
Dari perspektif kebijakan ruang, pendekatan ini relevan. Kota-kota Indonesia menghadapi tekanan lahan yang tinggi. Ekspansi horizontal terus mendorong alih fungsi lahan dan memperpanjang kebutuhan infrastruktur. Pitu Rooms menunjukkan model lain, intensifikasi vertikal berskala mikro yang menyisip ke dalam jaringan kampung tanpa menggusur struktur sosial yang ada.
Baca juga: Indonesia, Negeri Para Pencerita: Jalan Baru Menjadi Pemimpin Pariwisata Berkelanjutan Dunia

Tapaknya kecil. Struktur bangunan menjadi lebih ringan. Kebutuhan material konstruksi lebih sedikit dibanding hotel konvensional dengan kapasitas setara. Artinya, jejak karbon sejak fase pembangunan dapat ditekan. Pada fase operasional, volume ruang yang terbatas juga berimplikasi pada kebutuhan energi yang lebih rendah untuk pendinginan dan pencahayaan.
Pariwisata Menyatu dengan Kampung
Menariknya, hotel ini tidak berdiri di kawasan komersial elite, melainkan di tengah lingkungan warga. Tamu yang menginap otomatis berinteraksi dengan warung sekitar, jasa transportasi lokal, dan ruang publik kampung. Model ini menciptakan distribusi manfaat pariwisata yang lebih menyebar, bukan terpusat di enclave wisata tertutup.
Baca juga: InJourney dan Jejak Karbon Pariwisata, Uji Nyata Bisnis Hijau di Sektor Aviasi
Dari beberapa kamar, tamu dapat melihat Gunung Merbabu di kejauhan. Pemandangan alam hadir tanpa perlu membangun resort di lereng gunung atau membuka lahan baru. Ini contoh bagaimana pengalaman wisata bisa dibangun lewat desain cerdas, bukan ekspansi ruang.

Eksperimen Kecil, Implikasi Besar
Bagi perencana kota, arsitek, dan pembuat kebijakan, Pitu Rooms menawarkan satu pelajaran penting, densitas tidak selalu identik dengan kesemrawutan. Dengan desain presisi dan fungsi yang jelas, ruang sempit pun bisa layak huni, layak usaha, dan layak secara lingkungan.
Baca juga: AI Ambil Alih Industri Travel, Siapa yang Siap dan Siapa yang Tertinggal?
Di tengah krisis lahan perkotaan dan tekanan emisi sektor bangunan, eksperimen kecil seperti ini memberi gambaran bahwa masa depan kota berkelanjutan mungkin tidak selalu hadir dalam proyek raksasa, melainkan pada bangunan ramping yang menyelip tenang di antara rumah warga. ***
- Foto: Dok. PituRooms – Tampak fasad vertikal Pitu Rooms di Salatiga, Jawa Tengah, dengan latar Gunung Merbabu. Bangunan selebar 2,8 meter ini menjadi contoh intensifikasi ruang mikro di kawasan perkotaan padat.


