Untuk pertama kalinya, komunitas ilmiah global memiliki data terverifikasi tentang berapa banyak CO₂ yang benar-benar terkubur aman di bawah tanah. Temuan ini menggeser perdebatan lama tentang teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) ke ranah bukti, bukan lagi spekulasi.
TEKNOLOGI penyimpanan karbon selama ini hidup dalam dua dunia. Di satu sisi, dipuji sebagai kunci dekarbonisasi industri berat. Di sisi lain, sering dituding sebagai solusi palsu yang memberi napas panjang bagi energi fosil. Kini, sebuah laporan internasional baru memberi pijakan yang lebih kokoh. CCS memang bekerja, dan datanya tak bisa diabaikan lagi.
Laporan tahunan pertama dari konsorsium ilmiah-industri global, yang melibatkan Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Imperial College London, dan sejumlah mitra industri, mengungkapkan angka penting. Lebih dari 383 juta ton CO₂ telah tersimpan secara permanen sejak 1996. Data ini dirilis 17 November 2025 dan dikutip dari Phys.org.
Angka itu setara dengan emisi 81 juta mobil bensin yang dikendarai selama satu tahun. Sebagian besar penyimpanan berasal dari Amerika Serikat, China, Brasil, Australia, dan wilayah Timur Tengah. Pertumbuhan kapasitas pada 2024–2025 pun disebut terus menanjak.
Bukti bahwa CCS benar-benar bekerja
“Pesan utama dari laporan kami adalah bahwa CCS berhasil,” kata Direktur Register dan Profesor Penyimpanan Karbon Bawah Permukaan di Imperial College London, Prof. Samuel Krevor. Menurutnya, manajemen karbon skala industri “sudah menjadi kenyataan” dan menunjukkan kemampuan teknis untuk menyerap CO₂ ke dalam formasi geologi secara aman dan permanen.
Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara
Pernyataan ini penting mengingat CCS sering berada dalam perdebatan politik dan ekonomi global. Banyak pihak mengkritik CCS karena dianggap terlalu mahal atau lambat berkembang. Namun data terbaru ini memperlihatkan dinamika yang berbeda. CCS bukan teknologi masa depan, melainkan sistem yang sudah bekerja hari ini.

Prof. Philip Ringrose dari NTNU memperkuat klaim itu. Ia menyebut penyimpanan karbon global mengalami pertumbuhan 17 persen per tahun sejak 1996, dengan 45 juta ton CO₂ tersimpan pada 2023. “Di sini kami mendokumentasikan kemajuan aktual, bukan lagi wacana,” katanya.
CCS Tetap Relevan di Era Energi Terbarukan
CCS menangkap CO₂ dari fasilitas industri atau pembangkit listrik, memisahkannya dari gas lain, lalu menginjeksikannya ke formasi geologi pada kedalaman lebih dari satu kilometer. Di sana, CO₂ terperangkap secara kimiawi, mineral, atau struktural dalam jangka waktu permanen.
Baca juga: Tagih Tanggung Jawab 66 Raksasa Polusi Dunia untuk Danai Teknologi Penangkap Karbon
Bagi sektor industri berat, seperti baja, semen, dan petrokimia, CCS bukanlah opsi pelengkap. CCS menjadi teknologi dekarbonisasi satu-satunya untuk proses yang tidak bisa sepenuhnya dialihkan ke listrik terbarukan. Hal ini juga sejalan dengan analisis IPCC, yang berulang kali menegaskan bahwa mencapai net-zero global tanpa CCS akan jauh lebih sulit, lebih mahal, atau bahkan tak mungkin.
Implikasi bagi Indonesia, Peluang dan Dilema
Indonesia berada di momentum penting. Dengan potensi penyimpanan geologi yang besar dan rencana pengembangan proyek CCS di sektor energi dan industri, temuan global ini memberi pembelajaran strategis. Bukti internasional memperlihatkan bahwa CCS sudah matang secara teknis. Tantangannya ada di area lain, yakni regulasi, biaya, perizinan, dan kesiapan pasar karbon.
Baca juga: CCS, Inovasi Canggih Atasi Krisis Karbon dan Wujudkan Indonesia Hijau
Di saat yang sama, Indonesia tengah memulai pembangunan 19 proyek CCS/CCUS yang diklaim menjadi kunci dekarbonisasi industri nasional. Jika negara-negara lain sudah mampu menyimpan CO₂ dalam skala besar, pertanyaannya kini bukan lagi apakah CCS mungkin, tetapi bagaimana Indonesia bisa mempercepatnya dengan tata kelola yang aman, transparan, dan berintegritas tinggi. ***
- Foto: Sigurður Ólafur Sigurðsson – Fasilitas ‘Orca’ di Islandia, salah satu proyek penangkapan karbon terbesar di dunia, yang menyerap CO₂ dan menginjeksikannya jauh ke bawah tanah hingga berubah menjadi batu.


