Dekarbonisasi Fashion Global akan Menguji Industri Tekstil Indonesia

INDUSTRI fashion global memasuki fase baru dalam transisi iklim. Fokusnya kini tidak lagi hanya pada operasi perusahaan atau toko ritel merek besar, melainkan pada bagian paling kompleks dari sistem produksi, rantai pasok manufaktur.

Sebuah white paper terbaru yang dirilis H&M Group bersama Ernst & Young (EY) menegaskan bahwa dekarbonisasi rantai pasok telah menjadi agenda strategis bagi industri fashion global. Tanpa investasi serius pada pengurangan emisi di jaringan pemasok, perusahaan berisiko menghadapi gangguan produksi, tekanan regulasi internasional, hingga risiko finansial jangka panjang.

Perubahan ini memiliki implikasi langsung bagi negara-negara produsen tekstil di Asia, termasuk Indonesia.

Dalam struktur industri fashion global, sebagian besar emisi karbon tidak berasal dari kantor pusat atau toko ritel. Jejak karbon terbesar justru berada di proses produksi bahan baku, manufaktur tekstil, pewarnaan kain, hingga logistik yang tersebar di berbagai negara pemasok.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Emisi tersebut dikenal sebagai Scope 3 emissions, kategori emisi tidak langsung yang terjadi di luar operasi perusahaan, tetapi tetap menjadi bagian dari rantai nilai bisnis.

Bagi industri fashion, porsi Scope 3 sering kali mencapai lebih dari dua pertiga dari total jejak karbon perusahaan. Artinya, keberhasilan target iklim brand global sangat bergantung pada transformasi pabrik pemasok di negara manufaktur.

Transisi Iklim Bergeser ke Pabrik Pemasok

Upaya dekarbonisasi rantai pasok membutuhkan investasi yang tidak kecil. Pabrik tekstil harus beralih ke energi terbarukan, meningkatkan efisiensi mesin produksi, serta mengadopsi material yang lebih rendah emisi.

Namun, sebagian besar pemasok industri fashion berada di negara berkembang dengan akses pembiayaan yang terbatas.

Baca juga: Northern Lights, Tonggak Baru Dekarbonisasi Industri Berat di Eropa

White paper H&M dan EY menyoroti bahwa banyak perusahaan manufaktur dalam rantai pasok global menghadapi hambatan finansial untuk melakukan modernisasi teknologi dan investasi energi bersih.

Kondisi ini menciptakan paradoks dalam transisi industri fashion global. Di satu sisi, merek global semakin agresif menetapkan target net-zero. Di sisi lain, kemampuan pemasok untuk menjalankan transformasi teknologi masih sangat bergantung pada dukungan pembiayaan eksternal.

Laporan tersebut menekankan perlunya model pembiayaan baru yang melibatkan kolaborasi antara perusahaan fashion, lembaga keuangan, investor, dan organisasi internasional.

Pendekatan ini bertujuan untuk membuka akses modal bagi pemasok sekaligus memastikan investasi dekarbonisasi menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang.

CFO Kini Memimpin Strategi Iklim

Salah satu perubahan paling signifikan yang disorot laporan ini adalah bergesernya peran kepemimpinan perusahaan dalam agenda iklim.

Jika sebelumnya isu keberlanjutan banyak ditangani oleh divisi ESG, kini keputusan iklim semakin berada di pusat strategi keuangan perusahaan.

Chief Financial Officer H&M Group, Adam Karlsson, menyatakan bahwa perubahan iklim telah menjadi bagian dari manajemen risiko bisnis. “Biaya dari ketidakaktifan terhadap perubahan iklim terlalu besar, bagi planet maupun bagi industri,” ujarnya.

Baca juga: Bangunan Kini Menentukan Arah Dekarbonisasi

Menurut Karlsson, CFO memiliki tanggung jawab fiduciary untuk menjaga ketahanan jangka panjang perusahaan, bukan hanya mengejar profitabilitas jangka pendek.

Pandangan serupa disampaikan oleh Head of Sustainable Trade Solutions HSBC, Clair Smith. Ia menilai kepemimpinan keuangan perusahaan akan menjadi faktor kunci dalam mempercepat investasi dekarbonisasi di rantai pasok global.

Investasi iklim, menurutnya, bukan sekadar biaya tambahan, tetapi strategi untuk mengurangi risiko operasional dan memperkuat stabilitas bisnis di masa depan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Tantangan Baru bagi Industri Tekstil Indonesia

Perubahan arah industri fashion global membawa implikasi strategis bagi negara produsen seperti Indonesia.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor manufaktur penting bagi perekonomian nasional, dengan kontribusi signifikan terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Namun, tekanan dekarbonisasi rantai pasok global akan semakin menuntut transformasi teknologi produksi.

Brand fashion internasional mulai meminta transparansi emisi dari jaringan pemasok mereka sebagai bagian dari komitmen menuju target iklim global.

Baca juga: Standar Baru Uni Eropa Tekan Industri Tekstil Indonesia Menuju Ekonomi Sirkular

Hal ini berarti industri tekstil nasional perlu berinvestasi pada efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, serta inovasi material yang lebih berkelanjutan.

Tanpa langkah transformasi tersebut, pemasok berisiko menghadapi penurunan daya saing dalam jaringan produksi global yang semakin mengintegrasikan standar iklim ke dalam keputusan bisnis.

Kolaborasi Industri Menjadi Kunci

White paper tersebut juga menegaskan bahwa dekarbonisasi industri fashion tidak dapat dilakukan oleh satu perusahaan secara individual.

Skala rantai pasok global yang sangat luas menuntut koordinasi antara berbagai aktor. Perusahaan fashion, pemasok manufaktur, lembaga keuangan, pemerintah, serta organisasi non-profit.

Nordic Chief Impact Officer EY, Anna Ryott, menyebut bahwa industri fashion memiliki peluang untuk membangun model kolaborasi global yang mampu mempercepat transisi menuju produksi rendah karbon.

Menurutnya, perusahaan fashion harus mulai berperan sebagai pengelola aktif rantai nilai mereka, bukan sekadar pembeli dari jaringan pemasok.

Ujian Baru bagi Daya Saing Industri

Perubahan arah industri fashion global menandai transformasi yang lebih luas dalam ekonomi manufaktur dunia. Ke depan, daya saing industri tidak lagi hanya ditentukan oleh biaya produksi atau kapasitas ekspor.

Kemampuan beradaptasi dengan ekonomi rendah karbon akan menjadi faktor yang semakin menentukan posisi sebuah negara dalam rantai pasok global.

Baca juga: Circular Fashion: Gaya Keren Tanpa Limbah, Mungkinkah?

Bagi Indonesia, tekanan dekarbonisasi ini dapat menjadi tantangan sekaligus peluang.

Jika industri tekstil nasional mampu mempercepat transformasi menuju produksi yang lebih efisien dan rendah emisi, posisi Indonesia dalam rantai pasok fashion global justru dapat semakin kuat.

Namun tanpa transformasi tersebut, risiko kehilangan daya saing dalam ekonomi global yang semakin terikat pada agenda iklim akan semakin nyata. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Rajesh Kumar Verma – Sebagian besar emisi industri fashion global berasal dari proses produksi di rantai pasok manufaktur, termasuk pabrik tekstil yang menjadi pemasok utama bagi merek global.
Bagikan