Emisi AS Picu Kerugian Global Rp155.000 Triliun, Beban Terbesar Ditanggung Negara Berkembang

KENAIKAN suhu global selama tiga dekade terakhir bukan sekadar isu lingkungan. Tapi, telah berubah menjadi kerugian ekonomi nyata, dan kini mulai dihitung secara sistematis.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature memperkirakan emisi karbon historis Amerika Serikat menyebabkan kerugian ekonomi global hingga 10 triliun dolar AS atau sekitar Rp155.000 triliun sejak 1990. Temuan ini, sebagaimana dilaporkan The Guardian, menempatkan Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam pembentukan beban ekonomi global akibat perubahan iklim.

Di titik ini, konsep “utang iklim” tidak lagi sekadar narasi moral. Tapi, mulai masuk ke dalam kalkulasi ekonomi.

Dari Emisi ke Kerugian

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan ekonomi berbasis data jangka panjang. Tim peneliti mengaitkan perubahan suhu global dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lintas negara, menggunakan data iklim dan ekonomi selama hampir enam dekade.

Hasilnya konsisten. Kenaikan suhu, even dalam skala kecil, berdampak langsung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Krisis Dana Adaptasi, Dunia Masih Gagal Membayar Utang Iklimnya

Marshall Burke menyebut dampak ini sebagai akumulasi kerugian yang terjadi perlahan namun pasti.

“Jika suhu meningkat sedikit saja, kita melihat bukti historis bahwa pertumbuhan ekonomi melambat. Ketika efek ini terakumulasi selama 30 tahun, dampaknya menjadi sangat besar,” ujarnya.

Dampak tersebut bekerja melalui berbagai jalur. Produktivitas tenaga kerja menurun saat suhu meningkat. Sistem kesehatan terbebani oleh gelombang panas. Sektor pertanian mengalami tekanan akibat perubahan pola cuaca.

Efeknya tidak langsung terasa dalam satu tahun, tetapi terakumulasi dalam jangka panjang, menciptakan apa yang disebut sebagai economic drag global.

Beban Tak Merata

Salah satu temuan paling krusial dari studi ini adalah distribusi dampak yang tidak proporsional.

Sekitar seperempat kerugian ekonomi global akibat perubahan iklim terjadi di Amerika Serikat sendiri. Namun, beban yang lebih berat justru ditanggung oleh negara berkembang.

India diperkirakan mengalami kerugian sekitar 500 miliar dolar AS akibat emisi historis AS. Brasil menyusul dengan sekitar 330 miliar dolar AS.

Baca juga: Adaptasi Tertinggal di Tengah Lonjakan Dana Iklim Global

Negara-negara ini bukan kontributor utama emisi historis. Namun, mereka menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampaknya.

Frances Moore menilai bahkan angka tersebut kemungkinan masih meremehkan dampak sebenarnya.

“Kerugian satu dolar bagi masyarakat miskin jauh lebih besar dampaknya dibandingkan bagi masyarakat kaya. Perbedaan ini belum sepenuhnya tercermin dalam model,” ujarnya.

Baca juga: Kematian Iklim Tak Merata, Adaptasi Menentukan Siapa Bertahan

Artinya, ketimpangan dampak iklim bukan hanya soal jumlah kerugian, tetapi juga soal nilai relatif dari kerugian tersebut.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Utang Iklim Menguat

Dalam kerangka kebijakan global, temuan ini memperkuat argumen mengenai loss and damage, mekanisme kompensasi bagi negara yang terdampak perubahan iklim.

Selama ini, negara-negara berkembang mendorong negara maju untuk berkontribusi lebih besar dalam pendanaan iklim. Namun, resistensi tetap kuat, terutama dari Amerika Serikat.

Gernot Wagner menegaskan bahwa akumulasi emisi masa lalu telah menciptakan kerusakan yang bergerak lebih cepat dari respons kebijakan.

Baca juga: Mesir Mengunci Pembiayaan Iklim, Rp11,7 Triliun untuk Adaptasi dan Transisi

Menurutnya, memasukkan biaya sosial karbon secara penuh ke dalam kebijakan ekonomi akan menghasilkan manfaat global yang jauh lebih besar.

Namun, arah kebijakan justru menunjukkan tren sebaliknya. Amerika Serikat menarik diri dari sejumlah komitmen pendanaan iklim global dan memperluas eksploitasi bahan bakar fosil.

Kondisi ini memperlebar jarak antara tanggung jawab historis dan aksi kebijakan.

Implikasi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, dinamika ini bukan isu jauh. Tapi, langsung terkait dengan posisi negara dalam arsitektur ekonomi dan kebijakan iklim global.

Indonesia berada di posisi yang kompleks. Bukan lagi negara berpendapatan rendah, tetapi masih rentan terhadap dampak perubahan iklim, dari banjir, kekeringan, hingga tekanan pada sektor pangan dan energi.

Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan transisi energi terus meningkat.

Baca juga: Negara Pulau Kecil Menanggung Krisis Iklim yang Bukan Mereka Ciptakan

Dalam konteks ini, pertanyaan kuncinya bukan hanya bagaimana Indonesia mengurangi emisi, tetapi juga bagaimana negara ini memposisikan diri dalam negosiasi global. Apakah sebagai penerima dampak, penerima kompensasi, atau aktor strategis dalam arsitektur pembiayaan iklim.

Temuan tentang “utang iklim” membuka ruang baru untuk memperkuat posisi tersebut, dengan basis data, bukan sekadar narasi. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Kelly/ PexelsCerobong industri berbasis bahan bakar fosil menjadi sumber utama emisi karbon global yang kini mulai dihitung sebagai kerugian ekonomi lintas negara.
Bagikan