LEDAKAN kendaraan listrik di Indonesia tak lagi sebatas janji masa depan. Angkanya sudah berbicara. Pada pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, populasi kendaraan listrik nasional dilaporkan menembus 103 ribu unit. Laju pertumbuhannya mencapai 150 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pertanyaan krusialnya bukan lagi soal minat pasar. Yang diuji kini adalah ketahanan sistem energi nasional.
EV Tumbuh Cepat, Sistem Listrik Diuji
Kendaraan listrik memindahkan emisi dari knalpot ke hulu energi. Artinya, transisi di sektor transportasi otomatis menjadi ujian langsung bagi sistem ketenagalistrikan. Di titik ini, peran PLN menjadi sentral, sekaligus menentukan arah keberlanjutan.
PLN memperluas jaringan infrastruktur EV secara agresif. Hingga awal 2026, lebih dari 5.000 stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) telah beroperasi di berbagai wilayah. Ekosistem ini diperkuat layanan home charging, pengisian darurat, serta platform digital yang memudahkan akses dan transaksi.
Baca juga: Hilirisasi Nikel Antam, Membangun Ekosistem Baterai EV dari Tambang hingga Daur Ulang
PLN sendiri mengakui tantangan yang menyertai pertumbuhan cepat tersebut. “Perkembangan kendaraan listrik menuntut kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan yang matang agar ekosistem ini tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto.
PLN di Simpul Transisi Transportasi
Pernyataan itu menegaskan bahwa isu EV bukan sekadar urusan pameran otomotif, melainkan persoalan kesiapan sistem. Beban listrik dari EV tidak tumbuh linier. Home charging, misalnya, berpotensi menambah tekanan pada jaringan distribusi rumah tangga, terutama di kawasan urban dengan kepadatan tinggi dan pola konsumsi yang sudah padat.

Tanpa pengaturan tarif berbasis waktu, manajemen beban cerdas, dan integrasi dengan energi terbarukan, lonjakan EV justru berisiko mendorong peningkatan pembangkitan fosil. Di sinilah paradoks kebijakan muncul, kendaraan listrik dipromosikan untuk menekan emisi, sementara pasokan listriknya belum sepenuhnya hijau.
Baca juga: Limbah Baterai Kendaraan Listrik, Tantangan Besar dalam Transisi Energi
Ekspansi SPKLU juga perlu dibaca kritis. Jumlah nasional memang meningkat, tetapi distribusinya belum tentu tepat sasaran. Sebagian besar masih terkonsentrasi di kota besar dan jalur utama. Tanpa perencanaan spasial berbasis data mobilitas, SPKLU berpotensi menjadi infrastruktur mahal yang kurang optimal.
Risiko Emisi Pindah ke Hulu
IIMS 2026 memperlihatkan arah kebijakan yang jelas, yakni Indonesia serius mendorong kendaraan listrik. Namun, keseriusan itu baru separuh jalan jika tidak diikuti sinkronisasi lintas sektor—transportasi, energi, industri, dan tata ruang.
Baca juga: Norwegia, Negeri Kendaraan Listrik yang Menginspirasi Dunia
Transisi energi bukan lomba kecepatan adopsi teknologi. Tapi, uji ketahanan sistem. Ukurannya bukan hanya berapa banyak EV yang terjual atau SPKLU yang dibangun, tetapi seberapa mampu sistem listrik menyerap beban baru tanpa meningkatkan emisi di hulu.
EV melaju kencang. Kini, sistem energi Indonesia diuji oleh angka nyata, beban riil, dan tuntutan kebijakan yang tak bisa lagi ditunda. ***
- Foto: Ilustrasi/ Soly Moses/ Pexels – Deretan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di kawasan perkotaan beroperasi pada malam hari, mencerminkan peningkatan beban sistem listrik seiring pertumbuhan kendaraan listrik.


