JAKARTA kini masuk kategori kota dengan tekanan air ekstrem. Status ini menempatkannya sejajar dengan London dan Bangkok. Masalahnya bukan sekadar kekurangan hujan. Akar persoalannya adalah cara kota mengelola air.
Pemetaan global terbaru terhadap kota-kota besar menunjukkan separuh dari 100 kota terbesar dunia hidup dalam kondisi water stress tinggi. Artinya, pengambilan air hampir menyamai, bahkan melampaui, kemampuan alam untuk mengisinya kembali. Jakarta berada di zona merah itu. Air tanah dipompa masif. Sungai tercemar. Air permukaan belum mampu menjadi penyangga sistem.
Pemetaan global yang dilakukan Watershed Investigations dan dilaporkan oleh harian Inggris The Guardian menunjukkan, separuh dari 100 kota terbesar dunia hidup dalam kondisi water stress tinggi.
Air Tanah Jadi Penopang Palsu
Ketergantungan Jakarta pada air tanah sudah lama menjadi alarm kebijakan. Ketika jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh kota, sumur bor menjadi solusi cepat. Industri tumbuh. Permukiman meluas. Ekstraksi meningkat. Namun akuifer tidak dirancang untuk menopang beban sebesar itu.
Tekanan air ekstrem berarti kota menggunakan cadangan air lebih cepat dari kemampuan alam memulihkannya. Dalam jangka pendek krisis ini tak selalu terlihat. Air masih mengalir. Sumur masih memompa. Tetapi secara hidrologis, kota sedang hidup dari “utang air”.
Baca juga: Jakarta Krisis Air Tanah, Pemerintah Batasi Izin Baru
Konsep ini kini dikenal sebagai water bankruptcy atau kebangkrutan air, situasi ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan terbarukan dan mulai merusak sistem alam secara permanen.
Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH), Kaveh Madani, menyebut banyak kota kini hidup melampaui batas hidrologisnya.
“Banyak wilayah hidup melampaui kemampuan sistem airnya. Banyak sistem air kritis sudah bangkrut,” ujarnya dalam laporan terbaru UNU.
Sinyal dari Satelit, Risiko di Darat
Analisis satelit dua dekade terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Banyak kota besar mengalami dua ekstrem sekaligus, kekeringan berkepanjangan atau lonjakan curah hujan yang makin intens. Keduanya sama-sama berisiko.

Profesor Krisis Air dari University College London, Mohammad Shamsudduha, menjelaskan data satelit memberi peringatan dini soal ketidakamanan air.
“Dengan melacak perubahan total penyimpanan air dari luar angkasa, kita bisa melihat kota mana yang menuju kekeringan dan mana yang menghadapi kelebihan air,” jelasnya.
Baca juga: Krisis Air Tanah dan Banjir Rob, Ancaman Serius Jakarta 2030
Jakarta menghadapi dua wajah krisis itu. Musim hujan membawa banjir yang makin sering. Musim kemarau memicu penurunan muka air tanah. Tanpa sistem resapan dan penyimpanan, hujan deras tidak otomatis mengisi kembali cadangan air tanah.
Krisis Iklim Memperparah, Tata Kelola Menentukan
Banyak kota menyalahkan perubahan iklim sebagai penyebab utama krisis air. Namun, analisis global menunjukkan tata kelola lebih dominan. Iklim memperparah tekanan, tetapi kebijakan yang lemah membuat dampaknya berlipat.
Madani mengibaratkan perubahan iklim seperti resesi yang menghantam perusahaan dengan manajemen buruk. Jika tata kelola air lemah, krisis datang lebih cepat.
Baca juga: Jakarta Sudah Megacity Dunia, tapi Indonesia Belum Punya Pemerintahan Megacity
Bank Dunia juga memperingatkan cadangan air tawar global menyusut tajam dalam dua dekade terakhir. Bumi kehilangan ratusan miliar meter kubik air setiap tahun. Urbanisasi tanpa perencanaan air menjadi salah satu pemicunya.
Dari Krisis Menuju Reformasi Air Kota
Jakarta kini berada di titik krusial. Jika ekstraksi air tanah terus dibiarkan dan konservasi air permukaan tidak dipercepat, risiko penurunan tanah, intrusi air laut, dan gangguan pasokan air bersih akan meningkat. Dampaknya lintas sektor, mulai kesehatan, ekonomi, hingga stabilitas sosial.
Baca juga: Lima Sungai Jakarta Tercemar Berat, Ancaman Air Bersih di Depan Mata
Tekanan air ekstrem harus dibaca sebagai sinyal reformasi. Kota perlu mempercepat perluasan layanan air perpipaan, membatasi pengambilan air tanah, memulihkan daerah resapan, dan memperkuat tata kelola sungai.
Bagi pembuat kebijakan, pesannya jelas, krisis air bukan ancaman masa depan. Ini sudah berlangsung. Kota yang gagal mengelola air hari ini sedang menabung risiko besar untuk dekade mendatang. ***
- Foto: Tom Fisk/ Pexels – Lanskap perkotaan Jakarta dengan sungai yang terhimpit infrastruktur jalan dan kawasan terbangun. Tekanan air meningkat seiring menyempitnya ruang resapan dan tingginya eksploitasi air tanah.


