PASAR karbon sukarela perlahan bergerak dari janji ke pembuktian. Di Amerika Serikat, pendekatan berbasis tanah menunjukkan bahwa solusi iklim berbasis alam tidak hanya relevan secara ekologis, tetapi juga dapat diukur, diverifikasi, dan dikontrak oleh korporasi global.
Perusahaan berbasis Texas, Grassroots Carbon, mencatat tonggak penting dengan menyalurkan 1,9 juta ton penghilangan karbon terverifikasi dari praktik peternakan regeneratif. Lebih dari 1,5 juta ton telah dipensiunkan oleh pembeli korporasi, menandai meningkatnya permintaan terhadap carbon removal berintegritas tinggi, bukan sekadar offset generik.
Capaian ini menempatkan solusi berbasis lahan kerja sebagai segmen yang semakin material dalam peta karbon global. Pembeli awal seperti Nestlé dan Microsoft menunjukkan bahwa korporasi mulai mencari penghilangan karbon yang juga memberi dampak pada kesehatan tanah, biodiversitas, dan ketahanan air, isu yang semakin terhubung dengan strategi ESG dan rantai pasok pangan.
Insentif, Bukan Subsidi
Didirikan pada 2021, Grassroots Carbon berfokus mengukur dan memberi kompensasi kepada peternak atas peningkatan karbon tanah melalui praktik penggembalaan regeneratif. Dalam waktu singkat, program ini menjangkau sekitar dua juta hektare lahan di 22 negara bagian AS.
Sejak 2022, perusahaan ini telah menyalurkan sekitar US$40 juta pembayaran berbasis hasil kepada peternak, ditambah US$10 juta pembayaran di muka untuk mendukung adopsi tanpa biaya awal. Skema ini penting karena menjawab hambatan klasik transisi: keterbatasan modal, risiko perubahan praktik, dan ketidakpastian hasil.
Baca juga: Pasar Karbon Sukarela Berubah Wajah, dari Komitmen Hijau ke Instrumen Strategis
“Ketika tujuan iklim diselaraskan dengan mereka yang paling memahami lahannya, dampak iklim dan ketahanan ekonomi dapat tumbuh bersamaan,” ungkap CEO Grassroots Carbon, Brad Tipper. Menurutnya, seperti dilansir ESG News, pendekatan berbasis insentif memungkinkan praktik regeneratif menjadi pilihan yang rasional secara ekonomi, bukan sekadar idealisme lingkungan.
Verifikasi Jadi Penentu Kepercayaan
Proyek karbon tanah kerap dipertanyakan dari sisi klaim, permanensi, dan akurasi pengukuran. Grassroots Carbon mencoba menjawabnya melalui pendekatan ilmiah berbasis pengukuran langsung.

Bersama EarthOptics, perusahaan ini menggunakan pengambilan sampel tanah hingga kedalaman satu meter, melampaui praktik umum 30 sentimeter. Pendekatan ini penting karena sebagian besar karbon organik tanah berada di lapisan dalam.
Baca juga: Karbon Masuk Taman Nasional, Ujian Baru Konservasi Way Kambas
“Pendekatan kami tidak bergantung pada asumsi model, tetapi pada pengukuran langsung hingga kedalaman satu meter, di mana sebagian besar karbon tanah berada,” kata CEO EarthOptics, Lars Dyrud. Menurutnya, kedalaman pengukuran menjadi faktor kunci untuk memastikan permanensi dan reliabilitas hasil.
Basis data yang dihasilkan kini diklaim sebagai dataset karbon tanah privat terbesar di AS. Bagi pembeli dan penyusun standar, data semacam ini menjadi fondasi kepercayaan untuk kontrak jangka panjang dan penskalaan pasar.
Lebih dari Sekadar Emisi
Bagi korporasi, kredit karbon digunakan untuk akuntansi emisi. Namun praktik regeneratif menghasilkan manfaat yang jauh lebih luas. Sejumlah peternakan peserta melaporkan peningkatan daya serap air hingga puluhan kali lipat dibandingkan lahan terdegradasi, memperkuat ketahanan terhadap kekeringan dan memulihkan fungsi padang rumput.
Baca juga: Pajak Karbon Eropa Menyasar Suku Cadang Mobil dan Peralatan Rumah Tangga
“Regeneratif bukan hanya soal karbon, tetapi tentang memulihkan fungsi tanah, air, dan biodiversitas yang menopang sistem pangan,” ujar Pakar Pertanian Regeneratif dan Pendiri Understanding Ag, Dr. Allen Williams, dikutip ESG News. Dampak ini menjadikan karbon tanah relevan dalam kerangka kebijakan pangan, biodiversitas, dan ekonomi pedesaan.
Relevansi Global
Amerika Serikat memiliki sekitar 655 juta hektare padang rumput. Jika dikelola secara regeneratif, potensinya diperkirakan mampu menyerap hingga satu miliar ton CO₂ ekuivalen per tahun. Namun potensi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pembiayaan jangka panjang, kontrak berbasis kinerja, dan standar verifikasi yang kredibel.
Baca juga: IDXCarbon Mulai Bergerak, Pasar Karbon Indonesia Masih Mencari Kedalaman
Kasus Grassroots Carbon menunjukkan bahwa pasar karbon berbasis alam dapat berfungsi ketika disiplin data, insentif ekonomi, dan kepercayaan pasar berjalan beriringan. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pelajarannya jelas. Solusi iklim tidak selalu menunggu teknologi mahal, tetapi membutuhkan tata kelola lahan yang diukur, dibiayai, dan diawasi secara serius. ***
- Foto: Ilustrasi/Anton Atanasov/ Pexels – Padang rumput sebagai lahan kerja yang berpotensi menjadi penyerap karbon melalui praktik pengelolaan regeneratif, seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap solusi iklim berbasis alam.


