Laut Memanas, Darat Membara: Risiko Heatwave Indonesia Naik

PEMANASAN laut tidak lagi sekadar isu kelautan. Tapi, telah menjadi penggerak utama gelombang panas ekstrem di daratan, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.

Pemanasan laut pesisir menjadi kontributor utama peningkatan gelombang panas global, dengan porsi mencapai 50–64 persen.

Temuan ini muncul dari studi terbaru yang melansir Down to Earth, merangkum riset dari Potsdam Institute for Climate Impact Research berbasis data iklim global periode 1982–2023. Studi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suhu permukaan laut memperkuat intensitas dan frekuensi gelombang panas lembap di daratan.

Laut sebagai Penggerak Sistemik

Perspektif lama menempatkan gelombang panas sebagai fenomena atmosfer atau daratan. Studi ini menggeser kerangka tersebut.

Pemanasan laut meningkatkan suplai uap air ke atmosfer, yang kemudian terbawa ke daratan dan memperkuat kondisi panas yang sudah terbentuk.

“Pemanasan perairan pesisir memiliki hubungan erat dengan peristiwa panas ekstrem yang lembap secara beruntun, terutama di daerah tropis,” ujar Fenying Cai dari Potsdam Institute for Climate Impact Research.

Baca juga: Lautan Kian Gelap, Ekosistem di Ambang Krisis?

Di lintang lebih tinggi, dinamika ini diperkuat oleh pola gelombang atmosfer. Interaksi laut, atmosfer, darat membentuk sistem panas ekstrem yang semakin kompleks.

Batas Fisiologis Manusia

Dampak fenomena ini melampaui aspek meteorologis, menyentuh batas biologis manusia.

Para ilmuwan menggunakan indikator suhu bola basah (wet bulb temperature) untuk mengukur ambang aman tubuh. Batas kritis berada di sekitar 31,5°C.

Baca juga: Air Semakin Langka, Laut Semakin Naik: Darurat Global!

Pada level ini, tubuh manusia tidak lagi mampu mendinginkan diri secara efektif melalui keringat, sehingga risiko heatstroke meningkat tajam.

Fenomena tersebut telah muncul dalam berbagai gelombang panas global sepanjang 2023, termasuk di Asia Selatan dan Asia Barat yang dipicu oleh pemanasan Samudera Hindia.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Laut sebagai Sistem Peringatan Dini

Temuan ini juga menggeser pendekatan sistem peringatan dini.

Suhu permukaan laut pesisir muncul sebagai indikator awal untuk mendeteksi potensi gelombang panas ekstrem di daratan.

Baca juga: Amerika Goyah, Pasar Tetap Menagih: Siapa Menentukan Standar Keterbukaan Iklim Global?

“Yang terpenting, suhu permukaan laut di wilayah pesisir muncul sebagai indikator peringatan dini potensial,” ujar Jurgen Kurths, salah satu penulis studi.

Implikasinya, sistem pemantauan iklim perlu beralih dari pendekatan parsial menjadi integrasi laut, atmosfer, darat.

Indonesia dalam Zona Risiko

Bagi Indonesia, implikasi ini bersifat langsung.

Sebagai negara kepulauan di wilayah tropis, Indonesia memiliki paparan tinggi terhadap dinamika suhu laut. Risiko tersebut berpotensi meningkat dalam waktu dekat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan lebih kering, dengan puncak pada Agustus.

Kombinasi pemanasan laut dan kemarau kering memperbesar risiko gelombang panas ekstrem di Indonesia.

Reposisi Sistem Iklim Nasional

Temuan ini menuntut reposisi pendekatan kebijakan.

Indonesia tidak lagi cukup mengandalkan observasi atmosfer dan daratan. Dibutuhkan sistem climate intelligence yang mengintegrasikan data laut, atmosfer, dan daratan secara real-time.

Baca juga: Adaptasi Tertinggal di Tengah Lonjakan Dana Iklim Global

Langkah ini krusial, tidak hanya untuk mitigasi risiko kesehatan, tetapi juga untuk menjaga produktivitas ekonomi, terutama pada sektor yang rentan terhadap tekanan panas ekstrem.

Pemanasan laut telah mengubah cara gelombang panas terbentuk. Sistem kebijakan iklim perlu menyesuaikan arah. ***

  • Foto: Ilustrasi/AI-Generated/SustainReview – Paparan panas ekstrem di wilayah tropis meningkat seiring pemanasan suhu laut pesisir yang memperkuat gelombang panas di daratan.

Bagikan