MESIR mengunci langkah strategis dalam pembiayaan iklim global. Melalui Global Green Bond Initiative, Kairo memobilisasi pendanaan sekitar Rp11,7 triliun (setara €688 juta) untuk memperkuat ketahanan iklim nasional sekaligus mendukung agenda penurunan emisi jangka panjang. Langkah ini menandai pergeseran penting, iklim tidak lagi diperlakukan sebagai agenda lingkungan semata, tetapi sebagai fondasi kebijakan pembangunan.
Pendanaan tersebut diuraikan dalam laporan aksi iklim 2025 yang ditinjau oleh Menteri Pembangunan Lokal sekaligus Pelaksana Tugas Menteri Lingkungan Hidup Mesir, Dr. Manal Awad. Dalam kapasitas Mesir sebagai otoritas nasional Green Climate Fund (GCF), pembiayaan ini disusun dengan dukungan European Investment Bank (EIB) dan United Nations Development Programme (UNDP).
Baca juga: Asia Pasifik Jadi Pusat Baru Pembiayaan Iklim Global
Fokus utama paket pembiayaan ini adalah penguatan infrastruktur pembiayaan iklim dan penerapan mekanisme keuangan inovatif, dengan penekanan kuat pada adaptasi perubahan iklim. Program tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 10 juta ton CO₂ ekuivalen, sekaligus memberikan manfaat adaptasi bagi 8,3 juta penduduk di negara-negara yang berpartisipasi. Angka ini menunjukkan reposisi adaptasi sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar pelengkap mitigasi.
Mendorong Modal Swasta Masuk ke Iklim
Laporan yang sama juga mencerminkan perluasan climate investment pipeline Mesir melalui skema pembiayaan campuran (blended finance). Green Climate Fund menyetujui investasi US$200 juta melalui Novastar Investment Fund, ditambah alokasi ekuitas US$50 juta khusus untuk Mesir, dengan fokus pada investasi teknologi iklim.
Baca juga: Ekonomi Karbon Multiskema, Jalan Tengah Menuju Pembiayaan Iklim Rp4.500 Triliun
Arus modal ini mengirim sinyal yang jelas kepada investor institusional. Mesir berupaya melampaui proyek percontohan dan mempercepat solusi iklim yang siap diskalakan. Penekanan pada adaptasi menjadi relevan di tengah meningkatnya risiko panas ekstrem, kelangkaan air, dan gangguan ekonomi berbasis iklim di kawasan Afrika Utara.

Diplomasi Iklim di COP30
Dorongan pembiayaan tersebut berjalan paralel dengan penguatan diplomasi iklim. Mewakili Presiden Abdel Fattah El Sisi, Dr. Awad berpartisipasi dalam COP30 UNFCCC di Belém, Brasil, pada November 2025. Mesir aktif dalam koordinasi African Group, Arab Group, serta Group of 77 and China.
Baca juga: Bank Pembangunan Dunia Sepakat Percepat Pendanaan Iklim, Fokus pada Alam dan Ketahanan
Agenda perundingan mencakup mitigasi, adaptasi, pendanaan iklim, alih teknologi, dan penguatan kapasitas. Keterlibatan ini memperkuat posisi Mesir sebagai aktor regional yang tidak hanya menerima pendanaan, tetapi juga ikut membentuk arah tata kelola iklim global.
Transparansi, Data, dan Implementasi
Di tingkat domestik, Mesir telah merampungkan draf akhir NDC 3.0, menyelesaikan laporan transparansi pertamanya, serta menyiapkan komunikasi nasional keempat untuk diserahkan ke Sekretariat UNFCCC. Pekerjaan pada National Adaptation Plan (NAP) juga terus berjalan, dengan fokus pada integrasi risiko iklim ke dalam perencanaan dan penganggaran nasional.
Baca juga: Krisis Dana Adaptasi, Dunia Masih Gagal Membayar Utang Iklimnya
Pengembangan sistem digital monitoring, reporting, and verification bersama Bank Dunia dan kerja sama pembangunan Jerman menjadi fondasi penting bagi kredibilitas data dan pelacakan proyek. Bagi regulator dan investor, infrastruktur ini krusial untuk memperkuat pengungkapan risiko iklim dan kepercayaan pasar.
Laporan yang dirujuk ESG News ini memperlihatkan bahwa pembiayaan iklim di negara berkembang semakin bergeser dari komitmen normatif menuju arsitektur kebijakan dan implementasi yang terukur ***
- Foto: Ilustrasi/ Ahmed zaki/ Pexels – Bendera Mesir berkibar di Benteng Kairo. Mesir memperkuat arsitektur pembiayaan iklim melalui obligasi hijau dan diplomasi iklim global.


