INDONESIA kini berdiri di garis depan aksi iklim global. Dalam Methane Summit yang digelar di sela-sela rangkaian menuju COP30 di Belém, Brasil, Indonesia masuk dalam kelompok awal tujuh negara yang akan menjalankan program percepatan pengurangan metana dan gas rumah kaca non-CO₂. Sebuah langkah yang disebut sebagai cara tercepat menekan laju pemanasan global.
Indonesia di Gelombang Pertama Inisiatif Global
Program bertajuk Super Pollutant Country Action Accelerator ini diinisiasi oleh Brasil dan Inggris dengan dukungan Climate and Clean Air Coalition (CCAC). Tujuannya ambisius, mempercepat pengurangan metana dan HFC (hydrofluorocarbons) di 30 negara berkembang hingga 2030.
Tujuh negara pertama, Brasil, Kamboja, Indonesia, Kazakhstan, Meksiko, Nigeria, dan Afrika Selatan, menerima dukungan awal senilai USD 25 juta untuk membentuk National Super Pollutant Units, lembaga khusus yang akan menanamkan aksi pengendalian emisi dalam struktur pemerintah.
Baca juga: COP30 Dibuka di Jantung Amazon, Diplomasi Hijau Dunia Masuki Fase Baru
Fase pertama diharapkan memobilisasi investasi hingga USD 150 juta, dengan manfaat langsung pada kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan daya tahan ekonomi.
Bagi Indonesia, keikutsertaan ini memperkuat posisi nasional dalam diplomasi iklim. Program ini dapat bersinergi dengan FOLU Net Sink 2030 dan strategi pasar karbon domestik, sekaligus membuka peluang pendanaan baru bagi aksi pengurangan emisi non-CO₂ di sektor energi, pertanian, dan limbah.
Komitmen Global Menuju 2030
Inggris memperkuat langkahnya melalui pernyataan internasional bertajuk “Drastically Reducing Methane Emissions in the Global Fossil Fuel Sector”, disetujui oleh Kanada, Prancis, Jerman, Jepang, Kazakhstan, Norwegia, serta didukung oleh Uni Eropa, IEA, dan OLADE.

Pernyataan ini menargetkan penghapusan praktik flaring dan venting rutin pada 2030, peningkatan sistem verifikasi emisi, dan dukungan teknologi bagi negara produsen berpendapatan menengah ke bawah.
Baca juga: Dari Lingkaran Janji ke Agenda Transisi Energi Hijau Dunia
“Memotong emisi metana adalah jalan tercepat memperlambat pemanasan global dan membersihkan udara,” ujar Menteri Energi Inggris Ed Miliband.
Suara dari Selatan Global
Menteri Lingkungan Tiongkok Huang Runqiu menekankan pentingnya berbagi kebijakan pengendalian emisi lintas negara. “Perubahan iklim adalah tantangan global. Tidak ada yang bisa menanganinya sendirian,” katanya.
Dari Karibia, Duta Besar Barbados Liz Thompson mengingatkan bahwa bagi negara pulau kecil, pengendalian metana bukan isu teknis, melainkan soal bertahan hidup. “Kami butuh langkah nyata, bukan janji,” ujarnya, menyinggung kerugian USD 10 miliar akibat Badai Melissa yang melanda Jamaika baru-baru ini.

Momentum Baru Diplomasi Iklim
CEO COP30 Ana Toni menegaskan pentingnya pengurangan metana sebagai “rem darurat iklim”. “Waktu adalah musuh terbesar kita. Mengurangi metana memberi hasil tercepat bagi planet ini,” katanya.
Baca juga: Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis
Langkah kolaboratif ini menandai era baru diplomasi iklim dunia, bergeser dari sekadar janji menuju implementasi konkret. Dengan keterlibatannya sejak awal, Indonesia memiliki kesempatan menunjukkan kepemimpinan regional dalam mengendalikan polutan jangka pendek yang berpengaruh langsung terhadap target 1,5°C. ***
Foto: Yerevan Malerva/ Pexels – Flaring gas di ladang minyak menjadi salah satu sumber utama emisi metana global. Penghapusan praktik ini ditargetkan pada 2030.


