Pemuda Indonesia di Garis Depan Diplomasi Iklim PBB

DI TENGAH krisis iklim yang kian mendesak, suara generasi muda semakin diakui di meja perundingan global. Pada peringatan Hari Internasional Pemuda, 12 Agustus 2025, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menunjuk 14 pemuda dunia sebagai Youth Advisory Group on Climate, penasihat muda Sekjen PBB untuk isu perubahan iklim.

Salah satu dari mereka adalah Zagy Berian, pemimpin muda Indonesia yang menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di forum strategis ini. Penunjukan ini bukan sekadar simbolis, melainkan pengakuan atas kontribusi nyata anak muda Indonesia dalam membentuk arah kebijakan iklim global.

Dari Desa hingga Diplomasi

Perjalanan Zagy dimulai jauh dari ruang rapat PBB. Di Pati, Jawa Tengah, ia merancang program edukasi energi terbarukan untuk petani. Tujuannya sederhana namun berdampak luas, yakni mengintegrasikan teknologi energi bersih ke dalam pertanian berkelanjutan. Proyek ini membuktikan bahwa transisi energi bukan monopoli negara maju, tetapi bisa berakar dari komunitas lokal.

Baca juga: COP30 di Belem, Brasil, Menjadi Momen Kritis Aksi Iklim Global

Inisiatifnya menarik perhatian banyak pihak karena menggabungkan keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi desa. Pendekatan ini selaras dengan tantangan besar Asia Tenggara, wilayah yang sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan gangguan pada sistem pangan.

Jejak Internasional

Di tingkat global, Zagy memimpin Society of Renewable Energy (SRE) dan menjadi Regional Facilitator Youth Climate Justice Fund untuk Asia Selatan. Ia terlibat dalam G20 Energy Transition Working Group bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, serta di B20 Task Force on Energy, Sustainability, and Climate. Perannya di Southeast Asia Youth Forum on Energy di bawah ASEAN memperluas jangkauan advokasinya di kawasan.

Zagy Berian menyampaikan pandangan tentang aksi iklim di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat. Foto: Instagram/ @zagyberian.

Guterres, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa “advokasi tanpa kenal takut dari anak muda” telah menjadi motor penggerak aksi iklim. Ia berkomitmen membuka ruang lebih luas bagi kepemimpinan pemuda, dengan pesan tegas: “Kepada anak muda di seluruh dunia, jangan menyerah.”

Baca juga: Jejak Hijau Kaltim Menerobos Skema Karbon Global

Makna Strategis bagi Indonesia

Kehadiran Zagy di lingkaran penasihat PBB memiliki arti strategis bagi Indonesia. Ia menjadi saluran langsung untuk menyampaikan perspektif kawasan dan pengalaman lapangan ke pembuat kebijakan global. Ini peluang untuk mendorong agenda transisi energi, keadilan iklim, dan kolaborasi lintas negara yang lebih inklusif.

Baca juga: PBB: Krisis Iklim Semakin Parah, Dunia Harus Bertindak Sekarang

Bagi para pengambil kebijakan dan pelaku industri, keterlibatan pemuda seperti Zagy adalah pengingat bahwa keberlanjutan memerlukan kepemimpinan lintas generasi. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan kerentanan tinggi terhadap krisis iklim, membutuhkan jembatan seperti ini untuk mengaitkan kebijakan nasional dengan aksi global.

“Bagi saya, ini berarti mendorong aksi iklim yang luar biasa melalui kolaborasi, sambil memastikan setiap suara didengar dalam membentuk masa depan global yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujar Zagy.

Di tengah kompleksitas diplomasi iklim, langkah Zagy menegaskan bahwa solusi masa depan akan lahir dari kombinasi visi global dan aksi lokal. Dan dari Pati hingga New York, anak muda Indonesia siap menjadi bagian dari jawabannya. ***

Bagikan