Pendidikan Hijau, Jalan Baru Mempersiapkan Generasi Muda di Era Krisis Iklim

KOMUNITAS global sepakat pada satu hal di COP30 Belém bahwa tanpa pendidikan yang peka iklim, dunia akan kesulitan mencetak generasi yang siap hidup di abad penuh krisis ini. Di ruang High-Level Ministerial Roundtable on Green Education, puluhan negara, organisasi PBB, dan lembaga riset membahas fondasi baru pendidikan hijau. Bukan sebagai tambahan kurikulum, tetapi sebagai strategi bertahan hidup.

Suasana diskusi itu menandai pergeseran penting. Pendidikan tak lagi dipandang sebagai ruang pengetahuan semata. Pendidikan berubah menjadi “garis depan adaptasi,” tempat anak muda dilatih memahami risiko, membangun solusi, dan memperkuat ketahanan komunitas.

Pendidikan sebagai Pilar Aksi Iklim

Program Director COP30 Presidency, Alice Vogas, menegaskan bahwa menjadikan pendidikan sebagai pilar aksi iklim membutuhkan orkestrasi kebijakan dan investasi. “Belém harus menjadi platform untuk melangkah lebih jauh, memperkuat pertukaran pengetahuan global tentang kontribusi pendidikan bagi aksi iklim,” ujarnya.

Vogas menyoroti dua prioritas:

  1. Peningkatan literasi iklim bagi guru, agar sekolah mampu menjelaskan sains iklim secara sederhana dan relevan.
  2. Pengembangan keterampilan teknis bagi generasi muda, terutama untuk pekerjaan hijau yang akan mendominasi ekonomi global.

Baca juga: MutirĂŁo Global Lawan Gelombang Panas, Kota Jadi Garda Depan Adaptasi Iklim Dunia

Pendekatan ini sejalan dengan tren internasional. Semua negara yang bertransisi menuju energi bersih membutuhkan tenaga muda dengan kompetensi baru—dari pemetaan risiko iklim hingga teknologi rendah karbon.

Belajar dari Brasil: Kebijakan, Data, dan Aksi Lokal

Brasil menjadi contoh kuat bagaimana pendidikan dapat menyatukan isu lingkungan, sosial, dan pembangunan. Rodolfo Cabral, Deputi Sekjen Kementerian Pendidikan (MEC), mengingatkan bahwa komitmen iklim Brasil tercantum langsung dalam NDC mereka, menempatkan pendidikan sebagai isu lintas-sektor.

Data terbaru menunjukkan, 67% sekolah publik Brasil telah menjalankan program pendidikan lingkungan. Mulai dari kebun sekolah, restorasi hutan kecil, hingga pembersihan sungai. Program ini terbukti mengubah perilaku komunitas, bukan hanya para siswa.

Baca juga: Jakarta Matikan Lampu Sejam, Hemat Energi dan Turunkan Emisi 54 Ton CO2

Untuk memperluasnya, Brasil segera meluncurkan Kebijakan Nasional Pendidikan Lingkungan di Sekolah, yang diperkenalkan di COP30. Kebijakan ini menggabungkan partisipasi sekolah, pemerintah lokal, dan komunitas, model yang menarik bagi Indonesia, yang memiliki konteks geografis dan sosial serupa.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Generasi yang Paling Rentan, Paling Terdampak

UNICEF mencatat bahwa pada 2024, 242 juta anak di dunia mengalami gangguan pendidikan akibat cuaca ekstrem. Di Brasil saja, 1,17 juta murid terdampak banjir, kekeringan, dan polusi asap.

Untuk menekan angka putus sekolah akibat migrasi iklim, koalisi Africa–Brazil–Latin America & the Caribbean Network for Climate Education and Youth Policies menargetkan penguatan sistem pendidikan lintas benua hingga 2028, bertepatan dengan Global Stocktake berikutnya.

Jaringan ini mengedepankan teknologi sosial seperti manajemen air, pemulihan lahan, dan model pembelajaran adaptif, sebuah laboratorium bersama bagi negara Selatan.

Baca juga: Kabut Asap Mengancam: Indonesia, Malaysia, dan Singapura Tak Bisa Lagi Diam

OECD memperkenalkan rancangan awal PISA 2029 Climate Literacy Framework, metrik global pertama untuk mengukur pengetahuan iklim siswa. Uji coba di negara bagian Pará menunjukkan pola menarik: siswa memahami isu lokal seperti hutan Amazon, namun masih lemah dalam konsep iklim global.

Indonesia berpotensi memanfaatkan kerangka ini untuk memetakan kesenjangan pengetahuan, terutama di wilayah rawan bencana.

Panduan Baru Menuju Pendidikan Hijau

UNESCO meluncurkan dua dokumen penting yang kini tersedia dalam bahasa Portugis dan segera dapat diakses global. Kamu bisa menautkannya langsung dalam artikel nanti:

Keduanya menjadi panduan praktis bagi pemerintah, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil yang ingin membangun sistem pembelajaran hijau dan relevan dengan realitas krisis iklim. ***

  • Foto: Roman Odintsov/ PexelsGuru dan siswa mengikuti kegiatan belajar luar ruang sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi lingkungan dan pendidikan iklim di sekolah.
Bagikan