SUSTAINABILITY bukan lagi jargon pemasaran. Bukan pula soal mematikan AC kamar atau mengurangi handuk di hotel. Esensinya jauh lebih penting, apakah uang wisatawan benar-benar kembali ke masyarakat? Itulah pesan tegas Peter Greenberg, Travel Editor CBS News dan salah satu figur paling berpengaruh dalam jurnalisme perjalanan global.
Dalam percakapan khusus dengan SustainReview.ID di TOURISE Global Summit 2025, Riyadh (11–13 November 2025), Greenberg menguraikan ulang konsep keberlanjutan yang selama ini kerap disederhanakan dan disalahpahami.
Forum internasional tersebut mempertemukan pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan investor global untuk merumuskan arah baru pariwisata berkelanjutan.
Ikuti Uangnya, Esensi Keberlanjutan yang Sering Terabaikan
Bagi Greenberg, keberlanjutan tidak cukup dipahami sebagai isu lingkungan. Sustainability mencakup tiga dimensi. Lingkungan, sosial, dan finansial. Salah satu pertanyaan mendasarnya sederhana namun menentukan, ke mana uang wisatawan mengalir? “Jika uang itu tidak kembali ke masyarakat lokal, maka tidak ada keberlanjutan,” sebutnya.
Ia menyoroti praktik industri yang masih terjebak pada slogan dan “mission statements” kosong. Banyak perusahaan meminta wisatawan “membantu lingkungan” dengan tidak mencuci handuk atau tidak mengganti seprai, sementara arus uang justru tidak transparan.
“Kita harus melampaui kata-kata itu,” katanya seraya menambahkan, “Jika kita tidak tahu ke mana uang mengalir, itu bukan sustainability. Itu greenwashing.”
Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau
Namun, ia melihat perubahan positif. Perusahaan-perusahaan global mulai memandang keberlanjutan bukan sebagai biaya, melainkan komponen inti model bisnis. “Itu pergeseran besar dibanding 10 tahun lalu,” tegasnya.
Peran Perusahaan Lebih Cepat dari Negara
Ketika ditanya negara mana yang paling berhasil dalam pariwisata berkelanjutan, jawaban Greenberg lugas dan tak terduga. “Yang berhasil bukan negara, tetapi perusahaan yang beroperasi di negara-negara tersebut,” jelasnya.

Menurut Greenberg, banyak kementerian pariwisata masih terpaku pada angka. Jumlah wisatawan, lama tinggal, dan total belanja. Indikator itu relevan untuk statistik, tetapi tidak relevan untuk keberlanjutan. “Perusahaanlah yang mendidik negara,” katanya. Perusahaan yang mengintegrasikan dampak sosial-lingkungan ke dalam model bisnisnya memberi contoh langsung kepada pemerintah tentang standar baru industri.
The Brando, Bukti Praktis Keberlanjutan
Greenberg menyebut salah satu contoh paling maju dalam praktik keberlanjutan adalah The Brando di Tetiaroa, Polinesia. Resor ini sepenuhnya off-gri. Menggunakan energi surya, pendingin ruangan berbasis air laut dingin dari kedalaman satu kilometer, tanpa bahan bakar fosil, dan menghasilkan hampir nol dampak ekologis.
“Mereka beroperasi seperti resor bintang lima lainnya, tetapi tanpa melukai lingkungan,” jelasnya. “Mereka membuktikan bahwa kemewahan dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan.”
Baca juga: 97 Puncak Himalaya Dibuka Gratis, Nepal Ubah Arah Pariwisata Berbasis Komunitas
Model seperti ini, menurutnya, harus menjadi referensi bagi destinasi lain, bukan hanya untuk teknologi, tetapi untuk cara memikirkan ulang relasi antara bisnis, alam, dan masyarakat.
Cerita 17 Ribu Pulau Indonesia
Ketika berbicara tentang Indonesia, Greenberg tidak langsung menyebut Bali, Komodo, atau Raja Ampat. Fokusnya justru pada pencerita lokal. “Indonesia punya 17 ribu pulau. Orang-orang yang tinggal di sana adalah pemilik cerita. Mereka yang seharusnya memimpin narasi,” ujarnya.
Baca juga: 12 Geopark Indonesia Diakui UNESCO, Momen Emas Bangun Pariwisata Hijau
Baginya, kekuatan Indonesia bukan hanya pada lanskap atau biodiversitasnya, tetapi pada ribuan komunitas yang memiliki sejarah, hubungan keluarga, dan cerita yang ingin dibagikan kepada dunia. Jika arus ekonomi kembali ke mereka, dan jika cerita mereka menjadi bagian dari model pariwisata, Indonesia berpeluang memimpin panggung global dalam pariwisata berkelanjutan. ***
- Foto: Dok – Travel Editor CBS News Peter Greenberg dalam sesi wawancara khusus bersama SustainReview.ID pada TOURISE Global Summit 2025 di Riyadh.


