PROGRAM pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) mulai bergerak dari wacana ke arah desain implementasi. Skala ini bukan kecil. Jika terealisasi, program ini berpotensi menciptakan 118.000 lapangan kerja hijau dan menurunkan emisi hingga 24 juta ton COâ‚‚ ekuivalen (tCOâ‚‚eq).
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar proyek kelistrikan. Ini adalah reposisi strategi energi nasional.
Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menyebut bahwa dengan strategi implementasi yang tepat, PLTS 100 GW mampu menyediakan listrik andal dan terjangkau bagi puluhan juta warga, sekaligus menghemat subsidi BBM hingga Rp21 triliun. Pernyataan ini penting. Artinya, transisi energi tidak lagi diposisikan sebagai beban fiskal, melainkan sebagai instrumen efisiensi anggaran.
Skala Desa, Dampak Nasional
Desain program ini terbagi dua. Sebanyak 80 GW ditargetkan untuk 80.000 desa, masing-masing 1 megawatt (MW), dilengkapi sistem penyimpanan baterai total 320 GWh dan dikelola koperasi desa merah putih. Sisanya, 20 GW akan terhubung ke jaringan listrik nasional (on-grid).
Pendekatan ini strategis. IESR memetakan sekitar 16.700 desa masih mengalami keterbatasan akses listrik. Banyak keluarga masih bergantung pada PLTD berbasis solar yang mahal dan tidak stabil.
Baca juga: 80 Ribu Desa Jadi Target PLTS, Akhir dari Ketergantungan Energi Fosil?
Dengan kombinasi surya dan battery energy storage system (BESS), biaya listrik diperkirakan berada di kisaran 10–15 sen dolar AS per kWh. Itu 30–60 persen lebih murah dibandingkan pembangkit diesel. Bahkan, dalam skala utilitas, biayanya bisa lebih rendah lagi.
Di titik ini, argumen ekonomi menjadi semakin kuat. Harga panel surya turun 90 persen dalam satu dekade terakhir. Harga baterai lithium kini berada di kisaran 70–90 dolar AS per kWh. Energi surya plus baterai tidak hanya bersih. Ini kompetitif. Dalam banyak kasus, lebih murah dari gas dan jauh di bawah batu bara.
Momentum Industri Domestik
Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sunandar, melihat dimensi lain, industrialisasi. Program sebesar 100 GW menciptakan kepastian pasar. Kepastian ini penting untuk menarik investasi manufaktur panel surya, inverter, hingga pengembangan rantai pasok domestik.

Tanpa skala pasar yang jelas, industri dalam negeri sulit tumbuh. Dengan permintaan terjamin, Indonesia berpeluang membangun basis manufaktur energi terbarukan sendiri. Ini berarti nilai tambah tidak hanya berhenti pada instalasi, tetapi merambat ke sektor produksi dan jasa pendukung.
Baca juga: PLTS, Harapan Baru untuk Energi Murah dan Bersih di Daerah Terpencil
Lebih jauh, listrik desa yang stabil membuka ruang produktivitas baru. Pendingin hasil panen, pengolahan pangan, UMKM berbasis listrik, hingga layanan digital dapat berkembang. Energi menjadi katalis ekonomi lokal.
Dari Ketergantungan ke Kepemimpinan
Indonesia memiliki potensi teknis energi surya mencapai 7,7 terawatt. Artinya, 100 GW baru sebagian kecil dari kapasitas teoritis nasional. Namun secara politik dan kebijakan, angka ini signifikan. Arahan Presiden untuk mendorong 100 GW menjadikannya salah satu inisiatif energi terbarukan paling ambisius sejak kemerdekaan.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal potensi. Tantangannya terletak pada tata kelola. Skema pembiayaan, kesiapan jaringan, standar teknis baterai, penguatan koperasi desa, hingga harmonisasi regulasi pusat-daerah harus disiapkan paralel.
Baca juga: Potensi Energi Surya Melimpah, Timur Indonesia Bisa Mandiri Listrik
Jika dirancang presisi, PLTS 100 GW bisa menjadi fondasi pertumbuhan rendah karbon. Seperti ditegaskan Sunandar, Indonesia ingin tumbuh tanpa meningkatkan intensitas karbonnya. Pembangunan dan keberlanjutan harus berjalan beriringan.
Transisi energi sering dianggap mahal. Data terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Dengan teknologi yang semakin murah dan potensi surya melimpah, momentum ada di tangan pembuat kebijakan.
PLTS 100 GW bukan sekadar proyek listrik. Ini adalah desain ulang ekonomi energi Indonesia. ***
- Foto: Ilustrasi/ Mark Stebnicki/ Pexels – Instalasi pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas. Program PLTS 100 GW dinilai berpotensi menjadi fondasi baru sistem energi rendah karbon Indonesia.


