UPAYA perusahaan global untuk menurunkan emisi karbon kini menghadapi tantangan baru. Bukan lagi hanya soal efisiensi energi di kantor pusat atau pabrik, tetapi juga emisi yang muncul di sepanjang rantai pasok.
Dalam banyak sektor industri, sebagian besar emisi justru berasal dari aktivitas yang berada di luar kendali langsung perusahaan. Produksi bahan baku, manufaktur pemasok, transportasi logistik, hingga penggunaan produk oleh konsumen menyumbang porsi besar dari jejak karbon perusahaan.
Emisi inilah yang dikenal sebagai Scope 3 emissions, dan kini menjadi fokus utama dalam strategi dekarbonisasi global.
Memahami Scope 3 Emissions
Scope 3 emissions adalah emisi gas rumah kaca tidak langsung yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan, termasuk dari pemasok, distribusi, penggunaan produk, hingga pengelolaan limbah.
Konsep ini berasal dari standar penghitungan emisi internasional yang dikembangkan oleh Greenhouse Gas Protocol.
Baca juga: Indonesia Jadi Magnet Baru Rantai Pasok Global
Dalam kerangka tersebut, emisi perusahaan dibagi menjadi tiga kategori utama:
• Scope 1 – emisi langsung dari operasi perusahaan, seperti pembakaran bahan bakar di fasilitas produksi
• Scope 2 – emisi tidak langsung dari listrik atau energi yang dibeli perusahaan
• Scope 3 – emisi tidak langsung dari seluruh aktivitas dalam rantai nilai perusahaan
Bagi banyak industri, Scope 3 merupakan porsi terbesar dari total emisi perusahaan.
Mengapa Scope 3 Menjadi Isu Besar
Rantai pasok global kini semakin kompleks. Banyak perusahaan mengandalkan jaringan pemasok yang tersebar di berbagai negara untuk memproduksi bahan baku, komponen, maupun produk akhir.
Akibatnya, sebagian besar emisi karbon tidak terjadi di fasilitas milik perusahaan itu sendiri, melainkan di jaringan produksi yang lebih luas.
Menurut data dari CDP, Scope 3 emissions rata-rata menyumbang sekitar 70–90 persen dari total jejak karbon perusahaan di berbagai sektor industri.
Baca juga: Pasokan Kayu Global Masuk Fase Risiko Struktural
Artinya, strategi dekarbonisasi perusahaan tidak akan efektif jika hanya berfokus pada emisi operasional internal.
Perusahaan juga harus bekerja sama dengan pemasok, mitra logistik, hingga konsumen untuk menurunkan emisi di seluruh rantai nilai.
Tantangan Mengurangi Emisi Rantai Pasok
Mengelola Scope 3 emissions jauh lebih sulit dibanding Scope 1 dan Scope 2.
Perusahaan sering kali tidak memiliki kendali langsung terhadap aktivitas pemasok yang berada di negara lain. Selain itu, data emisi dari rantai pasok sering kali tidak tersedia atau belum diukur secara konsisten.
Baca juga: Longsor Freeport Grasberg Guncang Pasokan Tembaga Dunia, ESG Jadi Taruhan
Pengurangan emisi di rantai nilai juga membutuhkan investasi besar dalam teknologi produksi yang lebih bersih, penggunaan energi terbarukan, serta peningkatan efisiensi energi di fasilitas pemasok.

Dalam industri fashion, misalnya, sebagian besar emisi berasal dari produksi tekstil dan bahan baku yang dilakukan oleh pemasok di berbagai negara berkembang.
Hal serupa terjadi di sektor teknologi, otomotif, dan elektronik, di mana proses produksi komponen menyumbang porsi emisi terbesar.
Tekanan Regulasi Global
Perhatian terhadap Scope 3 emissions juga meningkat karena tekanan regulasi internasional.
Sejumlah kebijakan baru mulai mendorong transparansi emisi rantai pasok sebagai bagian dari standar keberlanjutan global. Regulasi tersebut mencakup pelaporan ESG, standar keberlanjutan perusahaan, hingga kebijakan perdagangan yang mempertimbangkan intensitas karbon produk.
Baca juga: Baterai Bekas Bisa Jadi Tambang Baru Logam Kritis Indonesia
Uni Eropa, misalnya, memperkenalkan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang mengaitkan perdagangan internasional dengan emisi karbon dalam proses produksi.
Kebijakan seperti ini membuat perusahaan tidak hanya perlu menurunkan emisi operasional mereka sendiri, tetapi juga memastikan rantai pasok mereka semakin rendah karbon.
Implikasi bagi Perusahaan di Indonesia
Bagi perusahaan Indonesia yang menjadi bagian dari rantai pasok global, isu Scope 3 emissions semakin relevan.
Banyak perusahaan multinasional mulai meminta pemasok mereka untuk melaporkan emisi karbon sebagai bagian dari komitmen net-zero emissions.
Baca juga: Janji Net Zero Korporasi di Bawah Sorotan, 96% Berisiko Greenwashing
Hal ini berarti perusahaan di Indonesia perlu mulai memperhatikan efisiensi energi, transparansi data emisi, penggunaan energi bersih, serta standar pelaporan keberlanjutan.
Jika tidak, perusahaan berisiko kehilangan akses ke pasar global yang semakin menerapkan standar lingkungan yang lebih ketat.
Dekarbonisasi Tidak Lagi Hanya Soal Operasi Perusahaan
Perhatian terhadap Scope 3 emissions menandai perubahan penting dalam strategi dekarbonisasi global.
Jika sebelumnya perusahaan fokus pada pengurangan emisi operasional internal, kini pendekatan tersebut berkembang menjadi transformasi seluruh rantai nilai produksi.
Dalam praktiknya, keberhasilan mencapai target net-zero emissions akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengurangi emisi di rantai pasok mereka.
Artinya, dekarbonisasi industri kini menjadi agenda kolaboratif yang melibatkan perusahaan, pemasok, lembaga keuangan, serta pemerintah. ***
- Foto: Tom Fisk/ Pexels – Aktivitas bongkar muat kontainer di pelabuhan internasional mencerminkan kompleksitas rantai pasok global yang menjadi sumber utama Scope 3 emissions perusahaan.


