DI BANYAK kota, ruang publik berhenti sebagai trotoar atau taman pasif. Namun di selasar Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, ruang kota berubah fungsi menjadi infrastruktur ekonomi kreatif yang hidup dua kali setiap bulan. Bukan lewat proyek raksasa atau gedung ikonik, melainkan melalui model komunitas yang terkurasi, rutin, dan berbasis interaksi langsung antara seniman dan publik.
Di ruang terbuka inilah Heru Mataya membangun ekosistem yang kini dikenal sebagai Solo Art Market (SAM), pasar seni yang tidak hanya menjual karya, tetapi memperlihatkan proses penciptaannya.
SustainReview berbincang langsung dengan Heru Mataya di sela kegiatan SAM, Minggu (1/2/2026).
Ruang Publik sebagai Infrastruktur Ekonomi
Alih-alih membangun pusat kreatif baru yang mahal dan intensif energi, SAM memanfaatkan selasar kota yang sudah ada. Pendekatan ini menunjukkan bahwa aktivasi ruang bisa lebih berdampak daripada pembangunan fisik baru.
“Kami tidak ingin pasar seni ini hanya jadi tempat jualan. Ruang ini kami anggap sebagai ruang belajar bersama. Seniman bekerja, pengunjung melihat prosesnya, terjadi dialog di situ,” ujar Heru.
Baca juga: Wisata 2026 Berubah Arah, Ujian Tata Kelola Berkelanjutan bagi Komunitas Lokal
Model ini menempatkan ruang kota sebagai platform ekonomi berbasis pengalaman, bukan sekadar lokasi transaksi. Aktivitas berlangsung di ruang terbuka, minim infrastruktur tambahan, dan mengandalkan interaksi manusia sebagai nilai utama. Pendekatan yang secara tidak langsung menekan jejak energi dibandingkan pusat kreatif indoor ber-AC atau event besar sesekali yang boros logistik.
Kurasi sebagai Fondasi Ekosistem
Setiap bulan, sekitar 300 seniman mendaftar untuk ikut SAM. Namun, hanya 90-100 yang lolos kurasi. Angka ini menunjukkan bahwa SAM dibangun bukan untuk kuantitas, melainkan kualitas dan keberlanjutan reputasi.
“Kalau tidak dikurasi, lama-lama ini bisa berubah jadi pasar biasa. Padahal yang kami jaga adalah kualitas proses dan interaksi, bukan sekadar produk jadi,” kata Heru.
Baca juga: Startup Iklim Jadi Mesin Baru Ekonomi Hijau Indonesia
Dalam banyak program ekonomi kreatif, aspek kurasi sering diabaikan demi mengejar jumlah peserta. Akibatnya, ekosistem cepat jenuh dan kehilangan diferensiasi. SAM menunjukkan pendekatan berbeda, kurasi sebagai mekanisme menjaga standar, identitas, dan nilai budaya.

Dari Produk ke Proses
Berbeda dari bazar UMKM pada umumnya, syarat utama bagi seniman SAM bukan hanya memajang karya, tetapi memindahkan “dapur kreatif” mereka ke lokasi.
Pengunjung dapat melihat langsung bagaimana karya dibuat, dari mengukir, menjahit, melukis, hingga merakit kriya. Tidak jarang pengunjung ikut mencoba.
“Kami ingin orang datang bukan cuma beli, tapi paham prosesnya. Kalau orang tahu prosesnya, apresiasinya berbeda,” jelas Heru.
Baca juga: Saatnya Industri Travel Mengubah Cara Bercerita tentang Keberlanjutan
Pendekatan ini menggeser nilai ekonomi kreatif dari barang ke pengalaman, dari harga ke apresiasi, sekaligus mendorong pola konsumsi yang lebih sadar dan berorientasi kualitas.
Ekonomi Kreatif Rendah Jejak, Tinggi Dampak Sosial
Model yang dijalankan di Solo Art Market memperlihatkan bentuk ekonomi kreatif dengan jejak lingkungan yang relatif kecil namun dampak sosial yang luas. Aktivitas produksi didominasi kerja tangan, bukan manufaktur massal. Kegiatan berlangsung di ruang terbuka yang sudah tersedia, tanpa kebutuhan infrastruktur energi besar. Struktur organisasinya bertumpu pada jejaring komunitas, bukan korporasi atau event berbasis proyek jangka pendek.
Baca juga: Hotel Kurus di Kota Padat, Pelajaran Tata Ruang dari Pitu Rooms Salatiga
Namun di balik jejak fisik yang ringan itu, nilai sosial yang terbentuk justru padat. Interaksi antarseniman menguatkan jaringan kreatif lokal. Proses kerja yang dibuka ke publik mendorong transfer pengetahuan lintas generasi. Pengunjung tidak hanya menjadi konsumen, tetapi bagian dari pengalaman belajar. Di titik ini, SAM bergerak melampaui fungsi pasar seni, menjadi ruang produksi budaya sekaligus ruang pendidikan informal.
“Harapannya SAM bisa jadi destinasi wisata budaya rutin di Solo. Orang tahu minggu pertama dan ketiga ada aktivitas seni di sini. Itu yang ingin kami jaga. Kesinambungan, bukan event sesaat,” sebut Heru.

Pelajaran Kebijakan: Bukan Gedungnya, tapi Ekosistemnya
Banyak kota berlomba membangun gedung kreatif, creative hub, atau festival mahal. Solo memberi pelajaran berbeda. Yang membangun ekonomi kreatif bukan semata infrastruktur fisik, tetapi ritme aktivitas, kurasi kualitas, dan keterbukaan proses kreatif kepada publik.
SAM tumbuh dari komunitas, berjalan rutin, terbuka terhadap kolaborasi, namun tidak bergantung pada sponsor besar. Model ini menunjukkan bentuk ketahanan ekonomi kreatif berbasis komunitas yang lebih stabil dibanding pendekatan proyek jangka pendek.
Dari selasar kota yang sederhana, sebuah ekosistem pun tumbuh. Dan di situlah pelajaran pentingnya, keberlanjutan ekonomi kreatif lahir bukan dari bangunan megah, melainkan dari ruang yang dihidupkan, kualitas yang dijaga, dan proses kreatif yang dibagikan. ***
- Foto: Hamdani S Rukiah/ SustainReview – Aktivitas kreator memamerkan produk di selasar Ngarsopuro, Solo, yang rutin menjadi ruang penyelenggaraan Solo Art Market (SAM).


