Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis


AMBISI iklim global tampaknya telah menjauh dari realitas. Dalam wawancara khusus dengan SustainReview.ID di sela ADIPEC 2025, Profesor Jun Arima dari ERIA dan University of Tokyo menyebut target pembatasan pemanasan global 1,5 °C sebagai sesuatu yang “hampir mustahil”.

“Apakah cukup cepat untuk mencapai target 1,5 °C? Tidak,” ujarnya tegas. “Tapi yang penting sekarang adalah memastikan transisi berlangsung pragmatis dan berkelanjutan,” imbuh Arima.

Ambisi Global, Kapasitas Regional

Arima menilai kesenjangan antara ambisi dan kapasitas masih terlalu lebar, terutama di Asia Tenggara. Negara-negara di kawasan ini menghadapi realitas ganda, kebutuhan energi yang terus tumbuh dan ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil.

“Negara-negara ASEAN tidak bisa serta-merta mengganti sistem energinya dengan sumber bebas karbon. Yang paling rasional adalah menurunkan intensitas karbon secara bertahap, dari minyak ke gas, dari gas ke hidrogen, sambil membangun teknologi carbon capture,” katanya.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Baginya, kegigihan mengejar angka 1,5 °C tanpa melihat konteks lokal justru berisiko menciptakan “transisi yang tak berkeadilan”, di mana negara-negara berkembang menanggung beban biaya dan ketidakpastian teknologi yang belum siap.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Pragmatisme, Bukan Pesimisme

Pernyataan Arima bukan bentuk penolakan terhadap aksi iklim, melainkan seruan untuk lebih realistis dan berbasis kapasitas. Ia menegaskan, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, tetapi konsistensi dan keberlanjutan langkah.

“ASEAN sudah berada di jalur yang benar,” ujarnya. “Yang dibutuhkan sekarang adalah transition finance, pembiayaan yang memungkinkan langkah-langkah realistis menuju ekonomi rendah karbon.”

Baca juga: Energi Bersih Asia Tenggara, Kebijakan Global vs Realita Domestik

Menurutnya, tekanan global untuk mempercepat transisi seringkali tidak mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi tiap negara. “Kita harus bicara tentang pragmatic decarbonisation, bukan romantic idealism,” tambahnya.

Konteks Baru dari ADIPEC 2025

Di ADIPEC, wacana global memang mulai bergeser. Dari sekadar ambisi menuju strategi transisi yang lebih doable. Negara-negara penghasil energi di Asia mulai menempatkan gas, hidrogen, dan CCS bukan sebagai kompromi, tapi sebagai tahapan logis menuju net zero.

Bagi Arima, inilah babak baru diplomasi energi Asia. Kolaborasi lintas negara dengan prinsip “one goal, multiple pathways”, satu tujuan dekarbonisasi, banyak cara mencapainya. ***

Foto: Prof. Jun Arima, Senior Policy Fellow ERIA dan Profesor Kebijakan Publik Universitas Tokyo, saat berbincang dengan SustainReview.ID di sela ADIPEC 2025 di Abu Dhabi.

Bagikan