Mikroplastik di Perut Sapi, Alarm Baru untuk Regulasi Pangan dan Pertanian

DI BALIK narasi “food security”, ada ancaman kecil yang tak terlihat mata. Mikroplastik kini terbukti masuk dan bereaksi langsung di dalam lambung sapi. Penemuan ini mengguncang diskusi mengenai tata kelola pertanian modern dan keamanan pangan.

Sektor peternakan selama ini dipersepsikan sebagai penerima dampak polusi plastik dari hilir, bukan ekosistem aktif yang ikut mengolahnya. Namun riset terbaru memberi gambaran berbeda. Sapi bukan hanya menelan plastik. Tubuhnya mencoba memprosesnya, dengan konsekuensi biologis dan ekonomi yang belum sepenuhnya kita pahami.

Jejak Plastik dari Ladang hingga Rumen

Dalam sistem pertanian intensif, plastik digunakan di hampir semua tahap. Pembungkus silase, kemasan pakan, tali, hingga abrasi ban traktor. Fragmen-fragmen kecil ini masuk ke tanah, menempel pada tanaman, lalu ke rantai pakan ternak.

Baca juga: Mikroplastik di Tanah Pertanian, Ancaman Diam-diam dari Ladang Makanan Kita

“Polusi plastik bukan hanya masalah lingkungan ‘di luar sana’. Polusi plastik memiliki konsekuensi biologis langsung bagi hewan ternak,” ujar Cordt Zollfrank dari Universitas Teknik München.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials memberi kejutan lebih besar. Mikroplastik tidak pasif dalam sistem pencernaan sapi, mereka berinteraksi.

Rumen Berupaya Mengolah Plastik

Mikroba rumen, yang bertanggung jawab atas fermentasi dan produksi nutrisi, merespons partikel plastik seperti bahan asing. Beberapa fragmen kehilangan massa, terfragmentasi, atau tergesek melebur menjadi ukuran lebih kecil.

Bahkan gesekan mekanik dari pakan dan enzim mempercepat perubahan itu. Dampak ini semakin besar ketika ukuran partikelnya lebih kecil dan luas permukannya lebih tinggi.

“Studi kami merupakan langkah pertama memahami konsekuensi biologis paparan mikroplastik pada hewan ternak,” kata Daniel Brugger dari Universitas Zurich, dikutip Earth (3/12/2025).

Baca juga: Mikroplastik Pangkas Panen Asia, 400 Juta Orang Berisiko Kelaparan

Peneliti menemukan bahwa mikroplastik:

  • Menekan protein untuk metabolisme karbohidrat
  • Mengganggu proses fermentasi
  • Menurunkan efisiensi pakan

Akibatnya, kinerja ternak melemah dan biaya produksi meningkat.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Risiko Keamanan Pangan, dari Sapi ke Manusia

Lebih mengkhawatirkan lagi, partikel berukuran di bawah 100 mikrometer dapat melewati penghalang usus. Partikel masuk jaringan tubuh dan berpotensi terakumulasi dalam organ.

“Untuk pertama kalinya, mikroplastik tidak sekadar melewati saluran pencernaan hewan. Mereka berinteraksi dengan mikrobioma usus dan sebagian terurai,” jelas Jana Seifert dari Universitas Hohenheim.

Baca juga: Ketahanan Pangan Terancam, 17% Sawah Dunia Tercemar Logam Berat

Riset ini menandai awal dari apa yang bisa menjadi babak baru pengawasan pangan. Daging dan susu berpotensi membawa fragmen plastik ke meja makan keluarga.

Risiko semakin tinggi pada hewan muda atau saat sapi mengalami stres. Sistem pertahanan tubuh melemah, sehingga partikel lebih cepat menembus jaringan.

Regulasi dan Tata Kelola, Waktu untuk Bergerak

Temuan ini mempertegas urgensi mengendalikan plastik dalam sistem pertanian.

Para ilmuwan mendorong:

  • Pembatasan penggunaan plastik dalam silase dan kemasan
  • Standar residu mikroplastik dalam pakan
  • Monitoring kontaminasi di saluran pangan

Regulator dan dokter hewan kini mendapat bukti empiris bahwa mikroplastik bukan sekadar polutan pasif. Mikroplastik ikut berinteraksi dalam proses biologi ternak dan memasuki rantai makanan.

Baca juga: Peneliti Temukan Cara Akurat Ukur Mikroplastik dalam Pangan Laut

Konteks Indonesia menambah kompleksitas. Penggunaan plastik di lahan pertanian meningkat, sementara literasi pengelolaan limbah masih rendah. Dari sawah hingga kandang, fragmen plastik bergerak tanpa jejak kebijakan yang substantif.

Pertanyaannya bukan lagi apakah mikroplastik ada dalam sistem pangan, tapi seberapa jauh telah berjalan dalam tubuh kita.

Industri pakan, otoritas pangan, dan sektor veterinaria tak lagi bisa menunggu. Ini waktunya menetapkan batas aman, mengatur penggunaan plastik, dan memonitor residu.

Karena ancaman terbesar hari ini bukan yang besar dan terlihat. Tetapi yang kecil, tak terdeteksi, dan sudah berada di dalam tubuh hewan yang memberi kita pangan. ***

  • Foto: Sergej Karpow/ PexelsSeekor pedet menyusu pada induknya di padang penggembalaan. Studi terbaru menunjukkan mikroplastik dapat mengacaukan metabolisme ternak, bahkan berisiko masuk ke rantai pangan melalui daging dan susu.
Bagikan