Keuangan Hijau dalam Paradoks: Risiko Iklim Naik, Investasi Fosil Jalan Terus

DUNIA keuangan kembali dihadapkan pada paradoks. Komitmen terhadap keberlanjutan tetap tinggi, namun arus dana besar masih mengalir ke proyek-proyek fosil. Sebuah laporan terbaru menunjukkan betapa kompleks dan rapuhnya transisi keuangan hijau global saat ini.

Survei tahunan FTSE Russell terhadap 415 pengelola dana besar menunjukkan 73 persen pemilik aset kini memasukkan keberlanjutan dalam keputusan investasi. Angkanya stabil sejak tahun lalu, mencerminkan bahwa ESG belum runtuh seperti yang diasumsikan sebagian kalangan. Justru sebaliknya, persepsi risiko iklim terus meroket.

Pada 2023, hanya separuh investor global yang memandang iklim sebagai “perhatian utama”. Tahun ini, 85 persen menyebutnya ancaman besar. Lonjakan ini mencerminkan perubahan persepsi risiko iklim. Bukan lagi topik etika, tetapi risiko finansial sistemik yang mengancam nilai portofolio.

Baca juga: CEO Indonesia Kini Menempatkan ESG sebagai Strategi Inti Bisnis

Sebagaimana dikutip dari Edie (4/12/2025), Kepala Global Berkelanjutan FTSE Russell, Stephanie Maier, menegaskan investor tetap mengejar hasil keuangan, namun narasi risiko iklim kini menjadi faktor penentu strategi.

ESG Bertahan, tetapi Disiplin Pendanaan Bergeser

Di Inggris, riset Isio terhadap lebih dari 140 dana menemukan nyaris semua manajer aset (97 persen) memiliki kebijakan ESG formal dan tim khusus. Tetapi tingkat kedalaman komitmen tidak merata. Beberapa institusi memperkuat integrasi risiko iklim, sementara yang lain kembali mengambil pendekatan minimalis.

Yang paling menarik, perubahan mazhab ini berlangsung di tengah arus penarikan diri sebagian manajer aset AS dari koalisi ESG. Banyak di antaranya dipicu tekanan politik domestik yang menjadikan ESG sebagai isu ideologis.

Baca juga: 2035: Ancaman Iklim, Polusi, dan Risiko Teknologi Mengintai Dunia

Paradoks makin tajam ketika koalisi investor lain justru mengambil arah berlawanan. Tahun ini, 26 investor global yang mewakili aset senilai 1,2 triliun poundsterling merilis panduan khusus manajemen risiko iklim untuk industri manajemen aset. Pesan eksplisit bahwa aksi iklim tetap agenda strategis.

NZAM Melemah, Target Net Zero Longgar

Namun tidak semua infrastruktur pendukung transisi hijau tumbuh kuat. Net Zero Asset Managers Initiative (NZAM) kehilangan tenaga setelah ditinggalkan beberapa pemain besar, termasuk BlackRock. Jumlah penandatangan turun dari 63 persen pada 2024 menjadi 57 persen pada 2025.

Baca juga: NZAM Hidup Kembali, Ambisi Nol Emisi Berbelok Arah

NZAM kini melunak. Anggota diperbolehkan menetapkan target net zero setelah 2050, sebuah sinyal kompromi terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi. Bagi aktivis iklim, fleksibilitas ini dipandang mundur dari urgensi ilmiah.

Di Atas Kertas Hijau, Dana Masih ke Fosil

Kesenjangan perilaku terbesar ada pada alokasi modal. Penelitian pada Desember 2024 menunjukkan 25 manajer aset terbesar di Eropa dan AS justru menanam lebih dari USD 7,3 miliar dalam obligasi perusahaan pengembang proyek fosil antara Januari 2023–Juni 2024.

Baca juga: OJK Kuatkan Peta Jalan Hijau, Taksonomi Baru dan Aturan Risiko Iklim Menanti 2027

Ini menunjukkan transisi sistem keuangan belum bersifat struktural. Investor menyadari risiko iklim, tetapi keputusan modal masih sering dikunci oleh insentif jangka pendek, kebutuhan imbal hasil, dan absennya kebijakan global yang memaksa perubahan.

Artinya bagi Indonesia

Dinamika ini penting bagi regulator dan pelaku pasar di Indonesia. Pasar keuangan global sedang mencari model baru untuk menyeimbangkan risiko, imbal hasil, dan tuntutan iklim. Jika Indonesia cepat menyiapkan kerangka taksonomi, instrumen transisi, dan aturan keuangan hijau, peluangnya besar. Modal yang resah terhadap risiko iklim akan mencari rumah baru.

Namun jika sinyal kebijakan lemah, dana akan tetap ke fosil. Bahkan ketika risikonya sudah dipahami. ***

  • Foto: Kampus Production/ Pexels Para pembuat keputusan keuangan membahas prospek risiko dan arah investasi. Kekhawatiran investor terkait iklim meningkat, namun alokasi modal masih banyak tersangkut pada aset fosil.
Bagikan