TRANSISI energi global terus melaju. Kendaraan listrik, panel surya, dan turbin angin diproyeksikan menjadi tulang punggung ekonomi rendah karbon. Namun di hulu rantai pasoknya, muncul paradoks yang kian sulit diabaikan. Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan deforestasi tambang tertinggi di dunia, sebuah fakta yang menempatkan agenda energi bersih dalam sorotan baru.
Sekitar 21,7 persen dari total deforestasi pertambangan global terjadi di Indonesia. Luas hutan yang hilang mencapai lebih dari 4.290 kilometer persegi, dengan emisi karbon sekitar 0,22 petagram COâ‚‚. Angka ini menempatkan Indonesia di atas Brasil dan Rusia, dua negara yang selama ini kerap disorot dalam isu deforestasi global.
Ironinya, lonjakan deforestasi tersebut berkorelasi erat dengan mineral yang justru dibutuhkan untuk menopang transisi energi.
Mineral Hijau, Jejak Hutan yang Hilang
Setelah 2012, hampir 75 persen deforestasi di wilayah pertambangan dunia terkait dengan ekstraksi mineral untuk energi terbarukan. Angka ini jauh melampaui deforestasi yang berasal dari tambang energi fosil. Nikel. komoditas strategis Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, menjadi contoh paling nyata.
Baca juga: Deforestasi, Ancaman Nyata atau Ketakutan Berlebihan?
Sebagian besar operasi tambang nikel berada di kawasan hutan tropis dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi, terutama di Sulawesi dan Maluku. Dalam konteks ini, persoalannya bukan pada nikel sebagai komoditas strategis, melainkan pada pola ekspansi tambang yang kerap berlangsung di wilayah sensitif dengan pengawasan yang lemah dan perlindungan hutan yang terbatas.
Transisi energi tetap krusial untuk menekan laju perubahan iklim. Namun, tanpa tata kelola yang kuat, agenda hijau berisiko menciptakan tekanan ekologis baru di tingkat lokal.
Temuan Global, Cermin bagi Indonesia
Peringatan ini diperkuat oleh studi ilmiah yang dipimpin oleh Xiaoxin Zhang dari University of Hong Kong dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications. Penelitian tersebut menggabungkan peta kehilangan hutan global beresolusi tinggi dengan data lokasi pertambangan sepanjang periode 2001–2023.

Hasilnya menunjukkan bahwa deforestasi akibat pertambangan mencapai 19.765 kilometer persegi secara global dan memicu emisi karbon sekitar 0,75 petagram COâ‚‚. Yang paling mengkhawatirkan, lebih dari 50 persen deforestasi tersebut terkait dengan aktivitas pertambangan yang tidak tercatat secara resmi, sehingga selama ini luput dari inventarisasi kebijakan.
Baca juga: 1,5 Juta Hektare Hutan Ditertibkan, Reformasi Kehutanan Diuji
Studi ini mencakup lebih dari 236 ribu lokasi pertambangan di 175 negara, termasuk ribuan operasi skala kecil hingga besar yang berada di luar sistem pencatatan formal.
Hutan Tropis sebagai Titik Panas Global
Secara global, hutan tropis menjadi kawasan paling terdampak. Lebih dari 10.800 kilometer persegi hutan tropis hilang akibat aktivitas pertambangan dan menyumbang porsi terbesar emisi karbon sektor ini. Wilayah beriklim sedang dan dingin juga mengalami deforestasi, namun dengan intensitas yang lebih rendah.
Dalam lanskap global tersebut, Indonesia muncul sebagai episentrum deforestasi tambang abad ke-21. Analisis yang dirujuk oleh Down to Earth menyoroti bahwa lonjakan deforestasi pasca-2012 terutama berkaitan dengan tambang mineral untuk energi terbarukan, bukan energi fosil, sebuah pola yang relevan dengan dinamika ekspansi nikel di Indonesia.
Baca juga: Denda Rp 6,5 Miliar per Hektare, Ujian Serius Penertiban Tambang di Kawasan Hutan
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada emisi dan keanekaragaman hayati, tetapi juga pada masyarakat lokal dan adat yang bergantung pada hutan sebagai sumber penghidupan.
Transisi Energi dan Tantangan Tata Kelola Nasional
Temuan ini tidak menggugat urgensi transisi energi. Sebaliknya, menegaskan kebutuhan reformasi tata kelola pertambangan. Transparansi data, inventarisasi tambang yang akurat, penegakan hukum di kawasan hutan, serta perlindungan wilayah bernilai konservasi tinggi menjadi prasyarat mutlak.
Baca juga: Tagihan Ekologis Sumatra Jatuh Tempo, Batang Toru Mengirim Alarm ke Jakarta
Bagi Indonesia, ambisi menjadi pemain utama rantai pasok energi bersih global harus berjalan seiring dengan perlindungan hutan tropis. Tanpa pembenahan kebijakan di hulu, transisi energi berisiko memindahkan krisis iklim menjadi krisis ekologis baru. Hijau di hilir, gelap di hulu. ***
- Foto: Ilustrasi/ Raju Shrestha/ Pexels – Bentang alam hutan yang terfragmentasi akibat aktivitas pertambangan.
Studi global menunjukkan ekspansi tambang, termasuk untuk mineral transisi energi, menjadi pendorong deforestasi intensif di kawasan tropis seperti Indonesia.


