AKUISISI Alphabet terhadap pengembang energi bersih Intersect menandai fase baru hubungan antara kecerdasan buatan (AI) dan sistem energi. Bukan lagi sekadar soal kontrak pasokan listrik hijau, tetapi soal penguasaan langsung infrastruktur energi oleh perusahaan teknologi global.
Dengan nilai transaksi sekitar US$4,75 miliar atau hampir Rp80 triliun, Alphabet, induk Google, mengamankan proyek pembangkit energi bersih dan infrastruktur pendukung yang ditujukan untuk menopang ekspansi pusat data. Langkah ini menunjukkan satu hal, bahwa AI kini diperlakukan sebagai beban sistemik terhadap jaringan listrik, bukan lagi sebagai layanan digital yang “ringan karbon”.
AI dan Beban Energi yang Tak Elastis
Lonjakan AI generatif mengubah karakter konsumsi listrik data center. Beban komputasi bersifat konstan, intensif, dan sulit ditunda. Dalam kondisi ini, ketergantungan pada pasar listrik atau skema power purchase agreement (PPA) menjadi risiko operasional.
Baca juga: AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara
Intersect, dengan target kapasitas 10,8 gigawatt pada 2028, menawarkan skala yang jarang dimiliki pengembang energi independen. Kapasitas ini melampaui sebagian besar proyek energi bersih nasional di banyak negara berkembang. Bagi Google, kepemilikan langsung berarti kepastian pasokan, stabilitas harga, dan kontrol terhadap jadwal pengembangan pembangkit.
Dari Pembeli Energi ke Pemilik Sistem
Selama satu dekade terakhir, Big Tech membangun reputasi sebagai pembeli energi terbarukan terbesar di dunia. Namun akuisisi ini menunjukkan pergeseran peran, dari off-taker menjadi pemilik aset.
Baca juga: Jejak Karbon AI, Tantangan Baru dalam Keberlanjutan Teknologi
Pergeseran ini memiliki implikasi kebijakan yang luas. Ketika perusahaan teknologi memiliki pembangkit sendiri, relasi lama antara negara, perusahaan utilitas, dan regulator mulai berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah listriknya hijau, tetapi siapa yang mengendalikan infrastruktur strategis energi di era digital.

Grid Nasional dan Tantangan Tata Kelola
Masuknya kapasitas besar yang terikat langsung pada data center berpotensi menekan perencanaan jaringan listrik nasional. Beban AI tidak selalu fleksibel mengikuti surplus energi terbarukan. Di sinilah teknologi penyimpanan energi, seperti proyek battery energy storage system di Texas, menjadi elemen kunci, bukan sekadar pelengkap transisi energi.
Baca juga: Ketika Menteri AI Hamil, Reformasi Birokrasi dari Rahim Digital
Namun, dominasi Big Tech dalam membangun ekosistem energi mandiri juga memunculkan risiko konsentrasi kekuasaan. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, kepemilikan pembangkit oleh korporasi teknologi dapat menciptakan “pulau energi” yang terlepas dari kepentingan publik.
Dimensi Geopolitik AI dan Energi
Pernyataan CEO Alphabet Sundar Pichai tentang “kepemimpinan Amerika Serikat” menggarisbawahi dimensi geopolitik langkah ini. Energi bersih bukan hanya instrumen dekarbonisasi, tetapi juga fondasi daya saing AI global. Negara yang mampu menjamin listrik murah, bersih, dan stabil akan memimpin perlombaan AI.
Baca juga: AI Ambil Alih Industri Travel, Siapa yang Siap dan Siapa yang Tertinggal?
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, pesan ini relevan. Pengembangan pusat data, agenda hilirisasi digital, dan target net-zero tidak bisa dipisahkan dari perencanaan energi nasional yang kuat. Tanpa itu, ketergantungan pada pemain global akan semakin dalam.
Akuisisi Intersect bukan sekadar ekspansi bisnis Google. Ini adalah sinyal bahwa masa depan AI ditentukan oleh siapa yang menguasai energi. Dalam konteks ini, transisi energi tidak lagi hanya agenda lingkungan, tetapi agenda kedaulatan digital dan kebijakan industri. ***
- Foto: Der_ Hördt/ Pexels – Infrastruktur komputasi skala besar bergantung pada sistem energi yang stabil dan masif, menjadikan listrik fondasi utama ekspansi AI.


