INDONESIA terkenal sebagai negara maritim. Dua pertiga wilayahnya adalah perairan. Namun di sektor energi, laut justru masih menjadi ruang kosong dalam peta transisi energi nasional.
Di tengah dorongan mempercepat bauran energi terbarukan, satu sumber nyaris tak tersentuh secara serius, yakni arus laut.
Laut Besar, Energi Kecil
Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) berpotensi menjadi tulang punggung baru energi bersih Indonesia. Stabil. Prediktif. Tidak bergantung pada cuaca harian seperti surya dan angin. Tetapi hingga kini, pengembangannya tertinggal jauh dibandingkan panas bumi, surya, atau bioenergi.
Menurut pemerhati energi sekaligus Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII), Sripeni Inten Cahyani, masalahnya bukan pada teknologi. Masalahnya ada pada cara negara memperlakukannya.
Indonesia, kata Sripeni, justru sering membebani teknologi baru dengan agenda non-energi.
Teknologi yang Terbebani Kebijakan
Dalam diskusi Outlook Energi 2026, ia mengungkapkan bagaimana proyek-proyek PLTAL sebelumnya gagal bukan karena turbin arus lautnya tidak bekerja, tetapi karena dicampur dengan proyek infrastruktur lain, seperti pembangunan jembatan.
Akibatnya fatal.
Desain pembangkit menjadi berat. Struktur harus menopang lalu lintas. Biaya melonjak. Dan keekonomian proyek runtuh sebelum teknologinya sempat diuji.
Baca juga: Pembangkit Osmotik Fukuoka, Harapan Baru Energi Bersih Dunia
Padahal, dalam teknologi energi baru, yang dibutuhkan pertama kali bukanlah skala besar, tetapi ruang eksperimen.
PLTAL seharusnya dimulai sebagai pilot project murni. Fokus pada turbin. Pada keandalan. Pada data produksi listrik. Bukan pada fungsi ganda yang tidak relevan dengan pembangkitan energi.
Bias Biaya yang Menyesatkan
Ketika biaya akses dan infrastruktur tambahan ikut dimasukkan ke dalam harga listrik, teknologi arus laut lalu terlihat “mahal”. Padahal yang mahal bukan listriknya, melainkan beban kebijakan di atasnya.
Bias inilah yang membuat energi laut terus kalah sebelum bertanding.

Ironisnya, Indonesia justru berada di salah satu wilayah dengan potensi arus laut terbaik di dunia. Selat sempit antar-pulau. Perbedaan pasang-surut tinggi. Arus kuat dan konsisten. Karakter yang ideal bagi pembangkit turbin bawah laut.
Namun tanpa kerangka kebijakan yang tepat, potensi ini tetap tinggal sebagai angka di peta.
Negara Harus Turun Tangan
Di sinilah peran negara menjadi kunci.
Teknologi baru tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar murni. Tetapi, membutuhkan fase “digendong”. Butuh pembiayaan publik. Butuh dukungan riset. Butuh keberanian fiskal untuk menanggung risiko awal.
Sripeni mendorong agar pemerintah menyediakan dana khusus energi laut, baik melalui APBN, BRIN, maupun skema kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dan mitra internasional.
Baca juga: Potensi Energi Surya Melimpah, Timur Indonesia Bisa Mandiri Listrik
Tanpa itu, PLTAL akan terus terjebak dalam lingkaran: mahal karena tidak pernah diuji dalam skala yang tepat.
Titik terang kini mulai muncul.
Pemerintah merencanakan pembangunan PLTAL pertama Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$220 juta dan kapasitas total 40 MW. Lokasinya di Nusa Tenggara Timur dan satu titik lain, masing-masing 20 MW.
Proyek ini melibatkan mitra teknologi dari Inggris dan Belanda serta PT Pertamina Power Indonesia.
Secara strategis, ini lebih dari sekadar proyek energi. Ini adalah tes kebijakan.
Baca juga: Net-Zero Maritim Terancam, Indonesia Harus Siap Adaptasi
Apakah Indonesia siap memperlakukan energi laut sebagai aset nasional jangka panjang?
Ataukah akan kembali mengulang kesalahan lama, mencampur teknologi dengan agenda non-energi, lalu menyalahkan teknologinya saat gagal?
Di tengah tekanan dekarbonisasi, krisis iklim, dan kebutuhan listrik yang terus naik di wilayah kepulauan, arus laut bukan lagi opsi eksotis. Arus laut adalah kebutuhan strategis.
Indonesia tidak kekurangan laut.
Yang masih kurang adalah keberanian untuk menjadikannya pusat energi masa depan. ***
- Foto: Ilustrasi/ Ronny Buol/ Pexels – Teluk sempit di kawasan Nusa Tenggara Timur dengan arus laut yang kuat dan relatif stabil, salah satu karakter geografis ideal untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).


