Target Emisi Kini Jadi Norma, 10.000 Korporasi Masuk Standar Sains SBTi Global

AWAL 2026 menandai fase baru aksi iklim korporasi global. Untuk pertama kalinya, 10.000 perusahaan telah memiliki target penurunan emisi yang divalidasi selaras jalur net-zero 2050 oleh Science Based Targets initiative (SBTi). Angka ini menunjukkan perubahan standar tata kelola bisnis global, dari janji iklim sukarela menuju kewajiban strategis berbasis sains.

Perkembangan ini dilaporkan luas dalam ekosistem keberlanjutan global dan langsung menjadi perhatian pelaku pasar, regulator, serta investor institusional. Validasi target kini menjadi indikator kredibilitas transisi, bukan lagi elemen komunikasi reputasi semata.

Skala Global, Pergeseran Asia

Dengan 10.000 perusahaan tervalidasi, SBTi menjelma menjadi salah satu mekanisme koordinasi terbesar dalam ekonomi iklim dunia. Perusahaan-perusahaan ini mewakili lebih dari 40 persen kapitalisasi pasar global lintas sektor, mulai energi, manufaktur berat, barang konsumsi, keuangan, teknologi, hingga olahraga.

Baca juga: CEO Indonesia Kini Menempatkan ESG sebagai Strategi Inti Bisnis

Eropa masih memegang porsi besar. Namun, pertumbuhan tercepat justru terjadi di Asia. Jepang kini memimpin secara global dengan lebih dari 2.000 perusahaan tervalidasi, disusul Inggris, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Pergeseran ini mencerminkan kombinasi tekanan regulasi, ekspektasi investor, dan tuntutan rantai pasok global.

Bagi negara pengekspor seperti Indonesia, tren ini penting. Perusahaan multinasional semakin mensyaratkan data emisi terverifikasi dari pemasok. Artinya, standar SBTi berpotensi menjadi “paspor karbon” dalam perdagangan internasional.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Validasi Bukan Formalitas

Untuk lolos validasi, perusahaan harus menyelaraskan target dengan jalur ilmiah pembatasan pemanasan global. Kriteria mencakup ambisi penurunan, cakupan emisi (Scope 1, 2, dan 3), serta horizon waktu. Untuk sektor sulit ditekan seperti pertanian dan penggunaan lahan, SBTi mengembangkan kerangka khusus seperti FLAG (Forest, Land and Agriculture).

Implikasinya langsung ke manajemen risiko. Perubahan iklim kini memengaruhi ketahanan rantai pasok, kontinuitas operasional, hingga biaya asuransi. Perusahaan yang bergerak lebih awal melaporkan posisi pasar lebih kuat dan peluang pendapatan baru di pasar rendah karbon.

Baca juga: Pasar Karbon Sukarela Berubah Wajah, dari Komitmen Hijau ke Instrumen Strategis

CEO SBTi, David Kennedy, menyebut capaian 10.000 perusahaan sebagai sinyal bahwa dunia usaha melihat transformasi net-zero sebagai strategi bisnis, bukan beban kepatuhan. Pernyataan ini menegaskan pergeseran dari climate ambition ke climate governance.

Sinyal dari Merek Global

Menariknya, daftar perusahaan tervalidasi tidak hanya diisi industri berat. Klub sepak bola Arsenal, misalnya, menjadi satu-satunya klub bola dengan target net-zero tervalidasi. Di sektor pangan, Danone termasuk pelopor target FLAG dan telah memangkas emisi lebih dari 16 persen sejak 2020.

Baca juga: Industri Hijau, Dua Langkah Strategis Indonesia Menuju Emisi Nol 2050

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa tekanan dekarbonisasi kini merambah merek konsumen. Artinya, isu iklim semakin terhubung dengan nilai merek, loyalitas pelanggan, dan lisensi sosial untuk beroperasi.

Skyline Singapura, pusat finansial Asia yang mengalami percepatan adopsi target emisi tervalidasi di tengah perubahan standar bisnis global. Foto: Saw Sing/ Pexels

Implikasi bagi Pembuat Kebijakan

Bagi regulator dan pembuat kebijakan, tonggak ini menegaskan bahwa validasi target emisi sedang menjadi norma tata kelola global. Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan California telah mulai memasukkan pelaporan emisi ke dalam kerangka kepatuhan. Lembaga keuangan pun memperketat ekspektasi dekarbonisasi portofolio.

Baca juga: NZAM Hidup Kembali, Ambisi Nol Emisi Berbelok Arah

Indonesia menghadapi dua pilihan, menjadi pengikut reaktif atau membangun kerangka nasional yang selaras dengan standar global. Tanpa kesiapan sistem pelaporan, verifikasi, dan insentif transisi, perusahaan domestik berisiko tertinggal dalam kompetisi ekspor dan pembiayaan hijau.

Angka 10.000 bukan garis akhir. Ini adalah titik di mana target berbasis sains beralih dari inisiatif sukarela menjadi ekspektasi tata kelola. Fase berikutnya adalah implementasi nyata di rantai pasok, pasar ekspor, dan sistem keuangan. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Ismail Maqbool/ PexelsKawasan finansial London, salah satu pusat pasar global yang kini menghadapi tekanan standar emisi berbasis sains dalam tata kelola korporasi.
Bagikan