Nepal Van Java, Desa Lereng yang Tiba-tiba Jadi Panggung Ekonomi Visual

DI LERENG Gunung Sumbing, sebuah kampung kecil mendadak dikenal luas dengan nama Nepal Van Java. Nama aslinya Dusun Butuh, di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Julukan itu muncul dari tampilan rumah-rumah bertingkat di lereng curam dengan latar gunung yang dramatis, pemandangan yang cepat menyebar lewat media sosial.

Pengamatan lapangan SustainReview menunjukkan bahwa Nepal Van Java tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi ruang hidup yang sedang bernegosiasi dengan peran barunya sebagai panggung tontonan. Gang sempit, teras rumah, hingga sudut tangga berubah fungsi menjadi latar foto. Aktivitas domestik berjalan berdampingan dengan arus wisatawan yang datang untuk “mengabadikan suasana”.

Ekonomi yang Berpindah Arah

Perubahan visual itu diikuti pergeseran ekonomi. Pertanian dataran tinggi masih berjalan, tetapi sumber pendapatan baru tumbuh dari homestay, jasa ojek desa, warung, dan titik foto berbayar. Yang diperdagangkan bukan hanya produk, melainkan pengalaman visual. Model ini memberi pemasukan cepat karena ditopang tren berbagi gambar di media sosial. Namun, ketergantungannya tinggi pada arus kunjungan. Ketika popularitas menurun, ekonomi lokal bisa ikut terdampak.

Pertanian terasering dan permukiman berdampingan di lereng Dusun Butuh, mencerminkan tekanan ruang di desa pegunungan yang berkembang sebagai destinasi wisata. Foto: Hamdani S Rukiah/ SustainReview.

Tekanan pada Ruang Lereng

Status sebagai destinasi populer tidak serta-merta mengubah kondisi fisik desa. Permukiman tetap berada di lereng dengan akses jalan sempit dan sistem drainase terbatas. Lonjakan kunjungan berpotensi mendorong penambahan bangunan tanpa perencanaan matang, meningkatkan kebutuhan air bersih, serta memperbesar tantangan pengelolaan sampah. Di wilayah dengan karakter tanah pegunungan, perubahan tata bangunan juga berkaitan langsung dengan risiko erosi dan longsor.

Baca juga: Omah Lowo Solo, ‘Adaptive Reuse’ dan Strategi Masa Depan Kota Berkelanjutan

Fenomena ini juga menyentuh dimensi sosial. Ketika hampir setiap sudut desa dianggap menarik untuk dipotret, batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi kabur. Warga menjalani aktivitas harian di tengah sorotan kamera. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memunculkan kejenuhan sosial dan gesekan soal privasi. Keberlanjutan desa berarti menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kenyamanan hidup warga.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Peluang Jika Dikelola

Meski penuh tantangan, Nepal Van Java menunjukkan peluang nyata. Pariwisata membawa arus uang langsung ke rumah tangga, membuka lapangan kerja lokal, dan memberi insentif perbaikan hunian serta infrastruktur dasar. Dalam konteks desa pegunungan, hal ini juga dapat menahan laju urbanisasi. Kuncinya terletak pada pengaturan daya dukung, tata bangunan lereng, pengelolaan air dan sampah, serta diversifikasi ekonomi agar desa tidak sepenuhnya bergantung pada wisata.

Baca juga: Hotel Kurus di Kota Padat, Pelajaran Tata Ruang dari Pitu Rooms Salatiga

Nepal Van Java menjadi cermin bagi banyak desa indah di Indonesia. Viralitas bisa menjadi pintu kesejahteraan. Namun tanpa tata kelola berbasis risiko bencana dan keberlanjutan, daya tarik visual hari ini dapat berubah menjadi kerentanan di masa depan. ***

  • Foto: Hamdani S Rukiah/ SustainReviewPermukiman Dusun Butuh di lereng Gunung Sumbing, Magelang, yang dikenal sebagai Nepal Van Java. Lanskap curam menjadi daya tarik sekaligus tantangan tata ruang desa.
Bagikan