PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk berencana masuk ke bisnis data center dengan memanfaatkan listrik dari panas bumi. Langkah ini muncul di tengah lonjakan kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia. Ekspansi ini menandai integrasi awal antara energi bersih dan infrastruktur digital, sekaligus membuka isu baru terkait alokasi energi nasional.
Konvergensi Energi dan Data
Integrasi energi–digital adalah model di mana sumber energi secara langsung memasok infrastruktur komputasi tanpa bergantung penuh pada jaringan umum. Dalam konteks ini, energi tidak hanya berfungsi sebagai input produksi, tetapi menjadi bagian dari sistem digital itu sendiri.
Data center adalah fasilitas yang digunakan untuk penyimpanan, pemrosesan, dan distribusi data dalam skala besar. Fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik stabil dan berkelanjutan untuk menjaga uptime dan keamanan sistem.
Baca juga: Google dan Microsoft Beralih ke Energi Nuklir untuk Data Center, Apa Alasannya?
Menurut keterbukaan informasi PGEO di Bursa Efek Indonesia (21 April 2026), perusahaan akan mengembangkan data center di wilayah Kamojang, Jawa Barat, yang didukung pembangkit listrik panas bumi sekitar 5 MW secara dedicated. Model ini menunjukkan pendekatan co-location antara energi dan komputasi.
“Rencana ini merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam melakukan diversifikasi usaha sekaligus optimalisasi pemanfaatan energi panas bumi,” tulis manajemen PGEO dalam keterbukaan informasi tersebut.
Lonjakan Permintaan Data Center
Pertumbuhan data center di Indonesia menjadi faktor utama di balik strategi ini. PGEO mencatat bahwa pada 2025 kapasitas retail colocation mencapai 388,11 MW dan diproyeksikan meningkat menjadi 1.623,91 MW pada 2031. Pada periode yang sama, kapasitas wholesale diperkirakan mencapai 1.275,93 MW.
Kenaikan ini tidak terlepas dari peningkatan adopsi cloud, ekspansi beban kerja Artificial Intelligence (AI), serta digitalisasi sektor keuangan, e-commerce, dan layanan publik. Pendapatan sektor colocation juga meningkat dari USD 4,78 miliar pada 2024 menjadi USD 5,89 miliar pada 2025.
Baca juga: Pasar Listrik di Era AI, Siapkah Indonesia?
PGEO juga mencatat bahwa segmen Tier III mendominasi lebih dari 61,59% pasar data center Indonesia, mencerminkan kebutuhan akan infrastruktur dengan standar uptime dan redundansi yang tinggi.
Data ini menunjukkan satu hal, data center menjadi salah satu sumber pertumbuhan permintaan listrik tercepat di Indonesia.

Keunggulan dan Risiko Energi Panas Bumi
Energi panas bumi adalah sumber energi terbarukan yang bersifat baseload, yaitu mampu menghasilkan listrik secara stabil tanpa tergantung kondisi cuaca. Karakter ini menjadikannya relevan untuk kebutuhan data center yang membutuhkan pasokan listrik tanpa gangguan.
Dalam dokumen yang sama, PGEO menyatakan bahwa proyek ini dinilai layak secara finansial dengan indikator NPV Rp126,37 miliar, IRR 10,51%, dan BCR 1,87x. Perusahaan juga memproyeksikan tambahan pendapatan berulang dari layanan data center.
Baca juga: AI Membeli Pembangkit Listrik, Pergeseran Baru Strategi Energi Big Tech
Namun, langkah ini membawa implikasi yang lebih luas. Ketika energi bersih digunakan untuk menopang infrastruktur digital, maka muncul kompetisi baru dalam pemanfaatan listrik.
Dalam kondisi ini, arah kebijakan energi menjadi penentu apakah pertumbuhan data center akan memperkuat sistem, atau justru menciptakan tekanan baru.
Selain itu, konsentrasi konsumsi listrik pada fasilitas data center dapat meningkatkan tekanan pada sistem kelistrikan regional, terutama jika pertumbuhan tidak diimbangi dengan ekspansi kapasitas pembangkit.
Arah Baru Konsumsi Energi
Langkah PGEO mencerminkan perubahan pola konsumsi energi. Listrik tidak lagi hanya digunakan untuk aktivitas produksi konvensional, tetapi menjadi fondasi utama ekonomi digital.
“Secara keseluruhan, kondisi pasar data center di Indonesia dinilai memiliki kesinambungan dan potensi pertumbuhan yang kuat,” tulis manajemen PGEO.
Baca juga: AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara
Pernyataan ini menegaskan bahwa pertumbuhan sektor digital akan terus mendorong permintaan energi dalam jangka panjang.
Jika tren ini berlanjut, maka pertanyaan kuncinya bukan hanya tentang pertumbuhan data center, tetapi tentang bagaimana energi nasional dialokasikan. ***
- Foto. Dok. Pertamina – Pembangkit panas bumi menjadi sumber energi stabil yang kini mulai diarahkan untuk menopang kebutuhan data center di Indonesia.


